Pihak sekolah mengakui bahwa pada hari pelaksanaan Tes Potensi Akademik (TPA) memang terjadi gangguan server pada sebagian sesi ujian. Namun, sekolah menegaskan gangguan tersebut tidak bersifat menyeluruh dan tidak menyebabkan seluruh proses seleksi berhenti.
Menurut pihak sekolah, sebagian besar peserta tetap dapat mengikuti ujian hingga selesai tanpa hambatan berarti sehingga pelaksanaan TPA secara umum tetap berjalan sesuai jadwal.
“Memang terdapat gangguan server pada sebagian sesi. Namun gangguan tersebut tidak melumpuhkan keseluruhan pelaksanaan ujian. Mayoritas peserta tetap dapat menyelesaikan ujian dengan baik,” demikian penjelasan resmi sekolah.
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul adanya pernyataan dari Komite Penyelamat Pendidikan Lampung yang meminta evaluasi terhadap pelaksanaan TPA setelah sejumlah peserta mengaku mengalami kendala teknis selama ujian berlangsung.
SMAN 2 Bandar Lampung menjelaskan bahwa segera setelah gangguan terdeteksi, pengawas ruang bersama tim teknis langsung melakukan identifikasi terhadap peserta yang terdampak.
Seluruh keluhan yang disampaikan peserta dihimpun secara tertulis dan dituangkan dalam berita acara resmi yang memuat kronologi kejadian, daftar peserta terdampak, serta bukti pendukung lainnya.
Dokumen tersebut kemudian disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan langkah penyelesaian, termasuk kemungkinan pelaksanaan ujian ulang bagi peserta yang dinilai mengalami kerugian akibat gangguan teknis.
“Semua laporan peserta terdampak telah kami dokumentasikan dan dituangkan dalam berita acara resmi. Dokumen tersebut sudah kami sampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan yang ada,” jelas pihak sekolah.
Nilai 100 Bukan Otomatis Bukti Kecurangan
Selain persoalan gangguan teknis, sekolah juga menanggapi perdebatan yang berkembang terkait adanya peserta yang memperoleh nilai sempurna atau 100.
Menurut pihak sekolah, capaian nilai maksimum tidak dapat serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran ataupun kecurangan dalam proses seleksi.
Sekolah menjelaskan bahwa nilai sempurna dapat diperoleh apabila peserta berhasil menjawab seluruh soal dengan benar, terlepas dari durasi waktu yang digunakan untuk menyelesaikan ujian.
Beberapa peserta disebut memiliki kemampuan menyelesaikan soal lebih cepat dibandingkan peserta lain. Selain itu, sistem ujian juga menggunakan mekanisme pengacakan soal sehingga kombinasi soal yang diterima setiap peserta tidak sama.
Karena itu, sekolah menilai dugaan adanya pelanggaran hanya berdasarkan munculnya nilai 100 merupakan kesimpulan yang terlalu dini apabila belum didukung analisis data secara menyeluruh.
SMAN 2 Bandar Lampung juga menegaskan bahwa pelaksanaan ujian berbasis digital dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali penyelenggara.
Kondisi perangkat yang digunakan peserta maupun kualitas jaringan internet di lokasi masing-masing turut memengaruhi pengalaman peserta selama mengikuti ujian.
Pihak sekolah menyatakan sebelumnya telah menyampaikan spesifikasi minimal perangkat dan panduan teknis kepada seluruh peserta. Namun perbedaan kualitas perangkat maupun koneksi internet tetap dapat menimbulkan pengalaman yang berbeda selama ujian berlangsung.
Sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi, sekolah menyatakan siap mendukung setiap proses evaluasi yang dilakukan oleh pihak berwenang.
SMAN 2 Bandar Lampung mengaku telah mendokumentasikan seluruh kejadian, keluhan peserta, dan laporan teknis selama pelaksanaan TPA berlangsung.
Sekolah juga menyatakan siap memberikan akses terhadap data teknis yang diperlukan apabila dilakukan audit atau investigasi independen sesuai prosedur yang berlaku, dengan tetap memperhatikan perlindungan data pribadi peserta.
Data tersebut meliputi log sistem, berita acara pelaksanaan ujian, hingga daftar peserta yang terdampak gangguan teknis.
“SMAN 2 Bandar Lampung berkomitmen penuh pada penyelenggaraan seleksi yang adil, transparan, dan akuntabel. Kami siap mendukung setiap proses evaluasi yang dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas pihak sekolah.
Menutup klarifikasinya, pihak sekolah mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan mekanisme resmi dalam menyampaikan keberatan maupun laporan.
Sekolah menyatakan terbuka terhadap dialog dan masukan konstruktif demi menjaga kualitas penyelenggaraan seleksi pendidikan di masa mendatang.
“Kami menghargai kepedulian masyarakat, wali murid, maupun Komite Penyelamat Pendidikan Lampung. Jika masih ada pihak yang merasa dirugikan, kami persilakan menempuh mekanisme resmi melalui sekolah maupun Dinas Pendidikan agar dapat ditindaklanjuti secara objektif dan profesional,” demikian pernyataan pihak sekolah.(IWA)
