Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengunjungi calon siswa Sekolah Rakyat dan terharu mendengar mimpi mereka menjadi dokter, polisi, hingga tentara. Kunjungan ini menjadi penyemangat menjelang Tahun Ajaran Baru 2026/2027.
***
Di balik dinding rumah-rumah sederhana di Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung, tersimpan mimpi-mimpi besar yang tak pernah padam. Ada yang ingin menjadi dokter, ada yang bercita-cita menjadi polisi, dan ada pula yang memimpikan mengenakan seragam Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).
Mimpi-mimpi itulah yang mengantarkan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyambangi calon peserta didik Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung, Kamis (2/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Lampung memastikan seluruh calon siswa beserta keluarganya siap menyambut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Tahun Ajaran Baru 2026/2027.
Rumah pertama yang didatangi adalah kediaman pasangan Sudarto dan Parsilah. Dua anak mereka, Dewi Nurhafizah (16) dan Edi Qurniawan (12), menjadi bagian dari angkatan perdana Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung yang berlokasi di Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan.
Bagi Dewi, kesempatan itu menjadi langkah awal mengejar cita-cita menjadi prajurit Kowad. Sementara sang adik, Edi, menyimpan impian mengenakan jas putih sebagai seorang dokter.
Perjalanan Jihan berlanjut ke rumah Muhammad Arif Pratama (12), putra pasangan Romli dan Aminah Chandra. Di sela membantu orang tuanya berjualan pempek, Arif tetap memelihara mimpi menjadi anggota kepolisian.
Pertemuan dengan anak-anak tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Jihan. Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak pernah menghalangi lahirnya cita-cita besar.
“Hari ini saya mengunjungi calon siswa Sekolah Rakyat Provinsi Lampung untuk melakukan sosialisasi bahwa sebentar lagi akan dilaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang dimulai pada 14 Juli mendatang,” ujar Jihan.
Dalam kesempatan itu, Jihan menjelaskan berbagai persiapan yang harus dilakukan peserta didik dan orang tua sebelum memasuki kehidupan di sekolah berasrama. Ia berharap proses adaptasi dapat berjalan lancar sehingga para siswa bisa fokus belajar dan mengembangkan potensinya.
Tak hanya memberikan sosialisasi, Jihan juga melihat langsung kondisi rumah para calon siswa. Hasil peninjauan tersebut akan menjadi bahan untuk mengintegrasikan keluarga penerima manfaat ke dalam Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
“Kami juga melihat langsung kondisi rumah tempat tinggal calon siswa. Insyaallah akan kami integrasikan dengan Program BSPS sehingga keluarga dapat memperoleh bantuan stimulan pembangunan rumah swadaya,” katanya.
Bagi Jihan, Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan ruang belajar, tetapi juga membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan.
“Saya melihat anak-anak ini memiliki mimpi yang luar biasa. Ada yang ingin menjadi tentara, dokter, hingga polisi. Saya berharap mereka tetap tekun belajar, disiplin, dan tidak mudah menyerah. Sekolah Rakyat hadir untuk membuka kesempatan yang sama bagi setiap anak agar dapat meraih cita-citanya. Insyaallah, dengan kerja keras dan doa, mereka kelak menjadi generasi yang membanggakan keluarga, daerah, dan bangsa,” ujarnya.
Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung dijadwalkan memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada 14 Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Sehari sebelumnya, seluruh peserta didik akan memasuki asrama untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, mengikuti open house, serta doa bersama sebagai awal kehidupan mereka di lingkungan sekolah.
Sekolah berkonsep boarding school tersebut akan menampung 413 peserta didik dari 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Jumlah itu terdiri atas 270 peserta didik baru, 71 siswa yang dipindahkan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 32 Lampung Selatan, serta 72 siswa dari Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 35 Bandar Lampung.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan ratusan harapan yang mulai menemukan jalannya. Dari rumah-rumah sederhana di berbagai pelosok Lampung, anak-anak itu kini melangkah menuju sebuah sekolah yang memberi mereka kesempatan untuk membuktikan bahwa mimpi besar tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar dan tidak pernah menyerah.(iwa)
