@Iwa Perkasa
Delapan tahun lalu, tepatnya pada malam 22 Desember 2018, gelombang tsunami menerjang pesisir Lampung Selatan dan Banten. Ratusan orang meninggal dunia, ribuan lainnya terluka, dan ribuan keluarga kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan orang-orang yang mereka cintai.
Bencana itu berbeda.
Tidak didahului gempa besar yang dirasakan masyarakat. Tidak memberi banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Gelombang datang ketika sebagian orang sedang menikmati malam di tepi pantai, berkumpul bersama keluarga, atau menghadiri pertunjukan. Tragedi itu meninggalkan satu pelajaran yang sangat mahal. Bahwa bencana tidak selalu datang dengan tanda-tanda yang mudah dikenali.
Kini, ketika Anak Krakatau kembali berstatus Siaga, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah gunung itu akan meletus. Gunung api memang hidup. Aktivitasnya bisa naik dan turun.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang sudah berubah sejak tsunami 2018?
Apakah sistem mitigasi kita benar-benar lebih siap?
Apakah sirene peringatan masih berfungsi dengan baik?
Apakah jalur evakuasi masih jelas, terawat, dan mudah dijangkau?
Apakah papan penunjuk arah masih berdiri atau justru sudah memudar dimakan cuaca?
Apakah sekolah-sekolah di kawasan pesisir masih rutin mengajarkan simulasi evakuasi kepada para siswanya?
Apakah hotel, pengelola wisata pantai, pelabuhan, dan para nelayan telah memahami prosedur ketika status gunung meningkat?
Dan yang paling penting, apakah masyarakat masih tahu ke mana harus berlari jika ancaman benar-benar datang?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menebar ketakutan.
Justru sebaliknya.
Itulah inti dari mitigasi.
Mitigasi bukan dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Mitigasi adalah memastikan masyarakat siap sebelum bencana datang.
Status Level III memang bukan berarti tsunami akan terjadi. Bahkan jika suatu saat status meningkat menjadi Level IV (Awas), itu pun tidak otomatis berarti gelombang tsunami akan muncul.
Namun sejarah mengajarkan bahwa mengabaikan kesiapsiagaan adalah kesalahan yang jauh lebih mahal daripada mempersiapkannya.
Negara telah membangun banyak hal setelah tsunami 2018. Tetapi publik juga berhak mengetahui sejauh mana kesiapsiagaan itu benar-benar terpelihara.
Mitigasi tidak cukup diresmikan. Mitigasi harus diuji.
Tidak cukup dibangun. Harus dipelihara.
Tidak cukup menjadi dokumen. Harus menjadi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Sebab dalam kebencanaan, yang menentukan bukan hanya kecanggihan alat.
Yang menyelamatkan nyawa adalah masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika waktu hanya tersisa beberapa menit.
Status Anak Krakatau hari ini seharusnya menjadi pengingat.
Bukan untuk menimbulkan kepanikan. Melainkan untuk menguji kembali kesiapan kita semua. Karena bencana memang tidak dapat dicegah. Tetapi korban jiwa dapat dikurangi.
Dan ukuran sesungguhnya dari sebuah bangsa bukanlah kemampuannya menjelaskan mengapa bencana terjadi. Melainkan kemampuannya memastikan tragedi yang sama tidak kembali merenggut korban sebanyak sebelumnya.
Jika tsunami 2018 benar-benar menjadi pelajaran, maka pelajaran itu harus terlihat dalam kesiapsiagaan hari ini.
Bukan baru kita bicarakan ketika sirene kembali berbunyi.*****
