ADA masanya ketika sebuah kemenangan tidak lagi dirayakan dengan pekik, melainkan dengan ritme yang intim. Jauh di pelataran Seville atau gang-gang berbatu di Madrid, Spanyol sedang menghentakkan kakinya. Lengking gitar nilon yang getir bercampur dengan tepukan tangan yang presis. Flamenco ditarikan, bukan untuk menghibur turis, melainkan sebagai katarsis, sebuah cara purba bagi masyarakat Iberia untuk menguras habis sisa ketegangan setelah La Roja merengkuh takhta tertinggi di Piala Dunia 2026.
@Iwa Perkasa
Namun, gelembung gairah itu terlalu besar untuk mati di Eropa. Ia melesat membelah jarak belasan ribu kilometer, menjalar melalui frekuensi udara, dan akhirnya mendarat dengan dentum yang sama di atas aspal hangat Tugu Adipura, jantung Kota Bandar Lampung.
Aspal Adipura adalah sebuah altar. Ratusan pasang mata terpaku pada layar, membiarkan wajah mereka disorot lampu proyektor, diombang-ambingkan oleh takdir bola yang bergulir di benua seberang. Begitu peluit panjang ditiup, keheningan Kota Tapis Berseri seketika robek. Pecah, membelah langit pagi Lampung yang mendadak terasa pekat oleh aura kemenangan tim Matador.

Di tengah kepungan euforia yang riuh itu, ada Gubernur Mirza dan Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana. Hadir pula banyak pejabat Forkompimda, dan anggota dewan.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, terlihat dengan ketenangan yang ganjil. Ia baru saja menanggalkan sejenak jubah birokrasinya yang kaku, melambaikan tangan dan membiarkan senyumnya mengembang begitu lepas tanpa sekat formalitas.

Bagi mata yang awam, ia hanyalah pejabat yang sedang menonton bola. Namun jika kita jeli melihat gerak tubuhnya malam itu, ada sesuatu yang puitis: Marindo seolah sedang merawat musik internal di dalam kepalanya. Dalam khusuknya, ia seakan-akan sedang memperagakan gerak Flamenco imajiner di bawah temaram lampu kota. Setiap anggukan kepalanya adalah ketukan ritmis, setiap tepukan tangannya adalah palmas yang menyemangati kemenangan, dan senyum lebarnya adalah bentuk keanggunan yang paling lepas dari seorang pria yang cintanya pada sepak bola telah mengakar sejak lama.
“Dari dulu, bahkan setiap weekend selalu meluangkan waktu malam hari untuk nonton bola,” bisiknya hangat, sebuah pengakuan sunyi di tengah massa yang masih enggan berhenti bersorak.
Bagi Marindo, Spanyol tahun ini bukanlah sekadar kumpulan pemain mahal, melainkan sebuah simfoni yang utuh. Ia telah membaca takdir juara itu sejak fase grup. Di matanya, La Roja adalah kesempurnaan taktis, pertahanan sekeras karang yang disiplin, penguasaan bola yang dominan, serta permainan kolektif yang mengalir tanpa cela hingga laga puncak. Malam itu, insting sepak bolanya tunai dibayar lunas.
Di sisinya, Hendri, Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa, berdiri sebagai saksi seiring yang sejak awal turnamen ikut menjaga iman yang sama pada kemenangan Spanyol.
Laga final dengan kemenangan gol tunggal Spanyol pagi tadi adalah sepotong catatan kecil yang mewah tentang bagaimana sepak bola selalu punya cara tersendiri untuk melintasi batas geografi, membawa kehangatan Andalusia luruh bersama kegembiraan masyarakat di Bandar Lampung.*****
