Subuh di Gunung Kunyit, Ratusan Warga Padati Reklamasi Pesisir untuk Berendam di Laut

Langit di Teluk Lampung masih gelap ketika satu per satu sepeda motor dan mobil mulai memasuki kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit, Sabtu (1/8/2026). Waktu bahkan belum menunjukkan pukul enam pagi. Namun kawasan yang dahulu dirancang sebagai bagian dari proyek waterfront city itu sudah dipenuhi warga.

@Iwa Perkasa

Mereka datang bukan untuk memancing ataupun sekadar menikmati matahari terbit. Tujuan mereka sederhana: berendam di laut.

Bagi sebagian besar pengunjung, rutinitas tersebut dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh. Keyakinan itu membuat kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit setiap pagi menjelma menjadi ruang publik yang hidup, bahkan menjadi tujuan warga dari berbagai penjuru Bandar Lampung.

Seorang juru parkir yang setiap hari bertugas di lokasi mengatakan keramaian paling tinggi terjadi pada Minggu pagi.

“Kalau besok Minggu, lebih ramai lagi,” ujarnya.

Dari aktivitas parkir kendaraan pengunjung, ia mengaku dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp100 ribu setiap hari. Gambaran itu menunjukkan denyut aktivitas masyarakat di kawasan yang berkembang tanpa banyak sentuhan fasilitas publik.

Datang Membawa Harapan Sehat

Motif kesehatan menjadi alasan yang paling sering terdengar dari para pengunjung.

Seorang aparatur sipil negara di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mengaku mulai rutin datang setelah mendengar pengalaman teman-temannya. Menurutnya, sejak berendam di laut pada pagi hari, keluhan flu yang sebelumnya sering muncul kini jarang dirasakan.

“Sekarang sudah tidak lagi,” katanya singkat.

Tak jauh dari lokasi itu, dua perempuan paruh baya berbagi cerita yang hampir serupa.

Salah seorang mengaku dahulu sering terganggu oleh keluhan asam urat.

“Dulu saya ada asam urat. Sejak rajin berendam, keluhan sakit itu bablas, enggak sakit lagi,” tuturnya.

Sementara rekannya, Prapti, baru beberapa hari datang dari Kudus, Jawa Tengah. Ia mengaku sebelumnya kesulitan mengangkat tangannya akibat keluhan pada bahu.

“Kemarin-kemarin enggak bisa. Sekarang alhamdulillah bisa,” ujarnya sambil mengangkat dan memutar kedua tangannya.

Di balik kisah itu tersimpan cerita yang menghangatkan hati. Keduanya ternyata pernah bertetangga di kawasan Gunung Kunyit puluhan tahun silam sebelum akhirnya berpisah karena kesibukan dan tempat tinggal yang berbeda.

“Dulu kami tetanggaan. Sudah puluhan tahun tidak bertemu. Sekarang dipertemukan lagi di sini,” kata Prapti sambil tersenyum.

Ruang Publik yang Tumbuh dari Bawah

Fenomena di Gunung Kunyit menunjukkan bagaimana masyarakat mampu memberi makna baru pada sebuah ruang.

Kawasan yang dahulu dirancang sebagai bagian dari konsep waterfront city itu belum berkembang sesuai rencana awal. Namun, di luar dugaan, masyarakat justru menjadikannya sebagai ruang berkumpul, berolahraga, dan menikmati laut setiap pagi.

Ekonomi kecil pun ikut tumbuh. Jasa parkir, pedagang makanan dan minuman, hingga pelaku usaha mikro memperoleh manfaat dari ramainya aktivitas warga.

Meski demikian, kawasan ini masih membutuhkan banyak pembenahan. Akses jalan menuju lokasi belum sepenuhnya memadai. Fasilitas air bersih untuk membilas tubuh setelah berendam, kamar mandi, serta toilet umum juga masih sangat terbatas.

Padahal, dengan jumlah pengunjung yang terus bertambah, kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit memiliki potensi berkembang sebagai ruang publik yang lebih nyaman sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Antara Pengalaman dan Penjelasan Ilmiah

Pengalaman para pengunjung merupakan testimoni pribadi dan tidak dapat diartikan sebagai bukti bahwa berendam di air laut dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan, paparan sinar matahari pagi, serta berada di lingkungan pesisir dapat memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh dan kesehatan mental. Namun, manfaat spesifik berendam di air laut terhadap penyakit tertentu masih memerlukan pembuktian ilmiah yang lebih kuat.

Karena itu, pengalaman setiap orang bisa berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, pola hidup, maupun faktor lainnya.

Terlepas dari perdebatan mengenai manfaat kesehatannya, satu hal sulit dibantah adalah kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit telah berkembang menjadi magnet baru bagi masyarakat.

Fenomena ini membuka peluang bagi Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung untuk menata kawasan tersebut menjadi ruang publik yang aman, bersih, dan nyaman. Jika didukung infrastruktur dasar, pengelolaan lingkungan, serta kajian ilmiah mengenai kualitas air laut, kawasan ini berpotensi berkembang sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis alam.

Di saat kota masih terlelap, Gunung Kunyit telah lebih dulu hidup. Setiap subuh, ratusan orang datang membawa harapan yang sama, memulai hari dengan tubuh yang terasa lebih segar, menikmati udara pagi di tepi Teluk Lampung, dan membuktikan bahwa sebuah kawasan reklamasi yang belum rampung pun dapat menemukan kehidupan baru melalui aktivitas warganya.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *