Kunjungan Naik, tetapi Pariwisata Lampung Belum Sepenuhnya Pulih
BANDARLAMPUNG – Industri perhotelan Provinsi Lampung kembali mencatatkan perbaikan pada Juni 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 49,77 persen, naik 5,39 poin dibanding Mei 2026 yang sebesar 44,38 persen. Jumlah tamu juga meningkat menjadi 123.087 orang.
Sekilas, angka tersebut menunjukkan geliat positif sektor pariwisata. Namun, jika dilihat lebih dalam, muncul pertanyaan mengapa okupansi hotel Lampung masih sulit menembus level 50 persen, padahal pada 2024 angka tersebut pernah beberapa kali terlampaui?
Bagi pelaku industri perhotelan, angka 50 persen bukan sekadar batas statistik. Level tersebut sering menjadi indikator awal bahwa pasar mulai cukup kuat untuk menopang operasional hotel secara sehat. Ketika okupansi bertahan di bawah angka itu, masih banyak kamar yang kosong sehingga ruang untuk meningkatkan pendapatan hotel tetap terbatas.
Kondisi Juni 2026 menunjukkan Lampung memang bergerak ke arah yang lebih baik, tetapi belum mencapai titik pemulihan yang sesungguhnya.
Data BPS terbaru memperlihatkan peningkatan jumlah tamu hampir sepenuhnya berasal dari wisatawan domestik.
Dari total 123.087 tamu yang menginap di hotel berbintang selama Juni 2026, hanya 1.124 orang merupakan wisatawan mancanegara. Sisanya, 121.963 orang, adalah wisatawan domestik.
Artinya, lebih dari 99 persen pasar hotel Lampung masih bergantung pada pergerakan wisatawan nusantara.
Komposisi tersebut membuat industri hotel sangat sensitif terhadap faktor musiman, seperti libur sekolah, perjalanan dinas pemerintah, kegiatan bisnis dalam negeri, maupun penyelenggaraan berbagai agenda lokal. Ketika momentum itu berakhir, tingkat hunian biasanya kembali melemah.
Sebaliknya, daerah tujuan wisata yang memiliki pasar internasional lebih kuat cenderung menikmati permintaan yang lebih stabil sepanjang tahun.
Hotel Menengah Menjadi Penyelamat
Pola okupansi juga menunjukkan fenomena menarik. Kenaikan justru terjadi pada hotel kelas menengah. Hotel bintang 1 dan 2 mencatat kenaikan okupansi dari 36,58 persen menjadi 43,89 persen. Hotel bintang 3 naik dari 40,06 persen menjadi 47,26 persen.
Sementara hotel bintang 4 dan 5 memang masih memiliki okupansi tertinggi, yakni 55,77 persen, tetapi jika dibandingkan Juni 2025 justru turun hampir lima poin dari 60,68 persen.
Ini memberi sinyal bahwa pertumbuhan pasar lebih banyak berasal dari wisatawan dengan anggaran menengah, sedangkan segmen premium yang biasanya ditopang kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, dan exhibition), investasi, maupun wisatawan berdaya beli tinggi belum benar-benar pulih.
Indikator lain yang perlu menjadi perhatian adalah rata-rata lama menginap.
Meski jumlah tamu naik hampir sembilan persen dibanding Mei, rata-rata lama menginap tetap 1,27 hari, tidak berubah sama sekali.
Dari perspektif ekonomi, kondisi ini menunjukkan peningkatan mobilitas belum otomatis meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan sektor pariwisata.
Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pula pengeluaran mereka untuk hotel, restoran, transportasi, pusat oleh-oleh, destinasi wisata, hingga UMKM lokal.
Sebaliknya, lama tinggal yang stagnan menunjukkan sebagian besar kunjungan masih bersifat singkat, seperti perjalanan bisnis sehari atau wisata akhir pekan.
Pariwisata Lampung Masih Menghadapi Tantangan Struktural
Apabila dibandingkan dengan indikator ekonomi Lampung lainnya, kontrasnya cukup terlihat.
Pada Juni 2026, ekspor Lampung melonjak lebih dari 35 persen dibanding Mei dan menghasilkan surplus perdagangan lebih dari US$533 juta. Sektor perdagangan luar negeri menunjukkan akselerasi yang kuat.
Sebaliknya, sektor pariwisata bergerak lebih lambat.
TPK memang meningkat, tetapi belum mampu kembali melewati level psikologis 50 persen. Rata-rata lama menginap tidak bertambah. Pasar wisatawan asing masih sangat kecil. Sementara hotel-hotel premium belum kembali ke tingkat hunian seperti dua tahun lalu.
Seluruh indikator tersebut menunjukkan bahwa perbaikan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor musiman, bukan perubahan struktural.
Data BPS memberikan pesan yang jelas.
Lampung tidak cukup hanya mengandalkan arus wisatawan domestik yang datang ketika musim liburan atau agenda pemerintahan berlangsung.
Pemerintah daerah bersama pelaku industri perlu mendorong lebih banyak event nasional dan internasional, memperkuat promosi destinasi unggulan, meningkatkan konektivitas transportasi, serta menciptakan paket wisata yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama.
Tanpa perubahan strategi tersebut, tingkat hunian hotel kemungkinan akan terus bergerak naik-turun mengikuti musim, tetapi sulit bertahan secara konsisten di atas 50 persen.
Bagi industri perhotelan, target sebenarnya bukan sekadar menambah jumlah tamu. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan kunjungan yang lebih berkualitas, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta meningkatkan belanja mereka selama berada di Lampung.
Itulah ukuran sesungguhnya dari pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.(iwa)
