Melengkapi kabar baik dari pertumbuhan ekonomi 5,29 persen dan penurunan kemiskinan menjadi 8,07 persen, potret dapur ketenagakerjaan Indonesia juga menunjukkan sinyal yang sangat positif. Badan Pusat Statistik (BPS) RI merilis laporan pasar kerja terbaru melalui Berita Resmi Statistik Nomor 82/08/Th. XXIX pada Rabu (5/8/2026). Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Mei 2026 mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia berhasil ditekan turun menjadi 4,65 persen. Angka ini menyusut sebesar 0,03 persen poin jika dibandingkan dengan posisi Februari 2026 yang lalu.
@Iwa Perkasa
Mengecilnya angka pengangguran ini terbilang sangat impresif karena terjadi justru di saat gelombang pencari kerja baru sedang mengalir deras ke pasar domestik. Jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 mencatatkan rekor baru dengan menembus 155,41-juta orang, alias bertambah hampir setengah juta orang (497 ribu jiwa) dalam waktu tiga bulan saja. Untungnya, derasnya pasokan tenaga kerja ini mampu diserap dengan sangat baik oleh dunia usaha. Jumlah penduduk yang bekerja melonjak sebanyak 522 ribu orang menjadi 148,19-juta orang, sehingga jumlah total penganggur di tanah air berhasil dikikis menjadi 7,22-juta orang.
Jika kita membedah ke mana saja jutaan masyarakat mencari nafkah, sektor sawah, kebun, dan tambak masih menjadi pilar penampung utama di tingkat akar rumput. Lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kokoh mendominasi sebagai penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia dengan total 42,60-juta orang, atau menguasai porsi 28,75 persen dari seluruh penduduk bekerja. Di posisi kedua dan ketiga, masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran (17,80 persen) serta Industri Pengolahan pabrik (13,53 persen).
Menariknya, dinamika pergeseran lapangan kerja dalam tiga bulan terakhir memperlihatkan bahwa masyarakat semakin gemar jajan dan bepergian. Sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman (kuliner dan hotel) menjadi juara dalam mencetak lapangan kerja baru dengan menyerap tambahan 195 ribu pekerja, disusul ketat oleh sektor transportasi dan pergudangan yang bertambah 121 ribu orang. Sebaliknya, sektor perdagangan ritel justru mengalami kelelahan dengan mencatatkan pengurangan tenaga kerja terbanyak sebesar 128 ribu orang dibanding awal tahun.
Bagi para buruh, karyawan, dan pegawai yang menjadi motor penggerak ekonomi, BPS melaporkan bahwa rata-rata upah buruh nasional saat ini berada di angka 3,39-juta rupiah per bulan. Kabar baik lainnya, kualitas pekerjaan di Indonesia berangsur-angsur bergeser ke arah yang lebih sehat. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal (memiliki ikatan kerja resmi dan jaminan hukum) merangkak naik menjadi 60,31-juta orang atau mencakup 40,70 persen dari total pekerja nasional. Meski porsi sektor informal (seperti pedagang kaki lima atau pekerja lepas) masih mendominasi, pertumbuhan di sektor formal ini menjadi sinyal penting bahwa kapasitas industri domestik mulai memulih secara struktural.
Namun, di balik rapor ketenagakerjaan yang menghijau ini, pemerintah masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang cukup krusial terkait kualitas jam kerja. Tingkat setengah pengangguran, yaitu mereka yang bekerja namun jam kerjanya di bawah 35 jam seminggu dan masih mencari tambahan pekerjaan, merangkak naik tipis menjadi 7,28 persen. Di sisi lain, kelompok pekerja paruh waktu berada di level 25,93 persen. Dinamika ini memperlihatkan fenomena pekerja komuter (sublaju) yang bertambah sebanyak 554 ribu orang menjadi 7,74-juta orang, menandakan bahwa mobilisasi pekerja lintas wilayah demi mencari peluang nafkah yang lebih baik kini semakin masif dilakukan.
Rangkaian indikator ketenagakerjaan dari BPS ini menegaskan bahwa pasar domestik Indonesia memiliki ketahanan yang luar biasa kuat. Menurunnya pengangguran ke level 4,65 persen di tengah lonjakan angkatan kerja membuktikan roda ekonomi rill kita tidak sedang berjalan di tempat. *****
