BATAM — Lampung sedang menerima kabar baik. Empat penghargaan diraih pemerintah daerah di provinsi ini dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Sumatera, yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia bersama Kompas TV.
Capaian itu patut diapresiasi. Tetapi penghargaan bukanlah garis akhir.
Justru setelah piagam diterima dan seremoni selesai, pekerjaan yang lebih penting dimulai, untuk membuktikan bahwa prestasi tersebut benar-benar dirasakan masyarakat.
Empat penghargaan itu masing-masing diraih Pemerintah Provinsi Lampung sebagai Terbaik II kategori Akses Penduduk terhadap Pelayanan Pendidikan tingkat provinsi, Kabupaten Way Kanan sebagai Terbaik III kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah tingkat kabupaten, Kota Bandar Lampung sebagai Terbaik I kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah tingkat kota, serta Kabupaten Lampung Selatan sebagai Terbaik II kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri tingkat kabupaten.
Keempat kategori tersebut bukan perkara kecil. Semuanya berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat: pendidikan, rumah layak dan lingkungan yang sehat.
Karena itu, penghargaan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai kabar baik di panggung apresiasi. Ia harus menjadi energi untuk memperbaiki apa yang masih kurang.
Pemerintah Provinsi Lampung meraih Terbaik II kategori Akses Penduduk terhadap Pelayanan Pendidikan, di bawah Provinsi Aceh sebagai Terbaik I.
Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Kategori ini menilai komitmen dan kinerja pemerintah daerah dalam memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang berkualitas dan merata.
Aspek penilaian mencakup pemerataan guru, sarana pendidikan, capaian literasi dan numerasi, partisipasi masyarakat serta inovasi daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Capaian tersebut tentu layak diapresiasi.
Namun, penghargaan pendidikan akan jauh lebih bermakna jika dampaknya benar-benar terlihat pada anak-anak Lampung.
Apakah kemampuan membaca mereka meningkat? Apakah kemampuan numerasi semakin baik? Apakah kesenjangan kualitas antarsekolah semakin kecil? Apakah anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena ukuran keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan banyaknya penghargaan yang diterima pemerintah, melainkan kualitas manusia yang dihasilkan sekolah.
Penghargaan kali ini karena itu seharusnya menjadi dorongan untuk bekerja lebih keras.
Rumah Layak Bukan Sekadar Rumah yang Berdiri
Kabupaten Way Kanan meraih Terbaik III kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah tingkat kabupaten.
Sementara Kota Bandar Lampung meraih Terbaik I kategori yang sama untuk tingkat kota, mengungguli Pekanbaru sebagai Terbaik II dan Batam sebagai Terbaik III.
Penghargaan tersebut menunjukkan komitmen daerah dalam mendukung penyediaan hunian layak melalui kebijakan, percepatan penyediaan perumahan dan tata kelola permukiman yang berkelanjutan.
Namun, persoalan perumahan tidak selesai ketika sebuah rumah telah dibangun atau diperbaiki.
Rumah yang layak juga harus sehat, aman, memiliki akses terhadap sanitasi dan air bersih, serta berada di lingkungan yang mendukung kehidupan penghuninya.
Karena itu, capaian Way Kanan dan Bandar Lampung harus menjadi momentum untuk memperluas manfaat program, terutama bagi masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan hunian yang layak.
Pada akhirnya, keberhasilan program perumahan bukan sekadar berapa unit rumah yang dibangun.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak keluarga yang kehidupannya benar-benar menjadi lebih baik?
Lingkungan Bersih Harus Menjadi Kebiasaan
Penghargaan keempat diraih Kabupaten Lampung Selatan sebagai Terbaik II kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri tingkat kabupaten.
Posisi Terbaik I diraih Kabupaten Samosir dan Terbaik III Kabupaten Bintan.
Kategori ini menilai komitmen dan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah terpadu serta upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.
Penghargaan tersebut patut menjadi kabar baik.
Tetapi sampah adalah persoalan sehari-hari. Ia tidak selesai hanya karena sebuah daerah mendapatkan penghargaan.
Sampah tetap harus dikurangi dari sumbernya, dipilah, diangkut dan diolah. Masyarakat juga harus melihat perubahan nyata di lingkungan tempat mereka tinggal.
Karena itu, prestasi Lampung Selatan semestinya menjadi titik awal untuk mempertahankan sekaligus memperluas praktik baik tersebut.
Penghargaan untuk Pemerintah, Manfaat untuk Masyarakat
Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian mengatakan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan motivasi sekaligus penghargaan kepada daerah yang menunjukkan kinerja dan inovasi dalam pembangunan.
Menurut Tito, penyelenggaraan apresiasi dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Batch II diawali dari Regional Sumatera yang dipusatkan di Kota Batam.
Kategori yang diberikan pada putaran kedua berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, antara lain pengelolaan sampah dan lingkungan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan serta implementasi Program 3 Juta Rumah.
Tito menegaskan penghargaan tersebut bukan ditujukan untuk kepentingan pribadi kepala daerah, melainkan sebagai apresiasi terhadap kinerja pemerintah daerah dan pemicu untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut penting.
Sebab sebuah penghargaan seharusnya tidak membuat pemerintah merasa selesai bekerja. Sebaliknya, penghargaan harus meningkatkan tanggung jawab untuk mempertahankan bahkan memperbaiki kinerja.
Tito juga mengatakan bahwa di tengah berbagai persoalan yang menimpa sebagian kepala daerah, masih banyak pemerintah daerah yang bekerja baik dan menghasilkan capaian positif.
“Di balik itu, melalui acara seperti ini kita bisa menunjukkan banyak daerah juga yang baik-baik,” katanya.
Ia berharap daerah yang telah menerima penghargaan dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya. Sementara daerah yang belum memperoleh penghargaan diminta terus berbenah dan berinovasi karena masih tersedia kesempatan pada putaran berikutnya.
Prestasi Tidak Lahir Sendirian
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemerintah daerah yang berhasil meraih penghargaan.
Menurutnya, capaian daerah tidak lahir dari kerja satu atau dua orang, melainkan hasil kerja bersama pemerintah daerah, aparatur, pemangku kepentingan dan masyarakat.
“Kabar baik prestasi yang sudah dicapai oleh daerah adalah juga kabar baik bagi kita semua,” ujar Djamari.
Ia menilai kategori penghargaan memiliki keterkaitan erat dengan agenda pembangunan nasional dan program unggulan pemerintah pusat. Karena itu, capaian pemerintah daerah diharapkan turut mempercepat pencapaian target pembangunan nasional.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa penghargaan bukan milik satu figur.
Ada guru, tenaga kesehatan, aparatur, pekerja lapangan, masyarakat dan banyak pihak yang ikut bekerja agar sebuah program dapat berjalan.
Maka, manfaat dari prestasi itu pun seharusnya kembali kepada mereka.
Jangan Berhenti di Panggung Penghargaan
Empat penghargaan yang diraih Lampung menunjukkan bahwa ada kerja pemerintah daerah yang mendapatkan pengakuan di tingkat regional Sumatera.
Itu adalah modal yang baik.
Tetapi modal tidak akan berarti jika tidak digunakan untuk bergerak lebih jauh.
Lampung jangan berhenti pada penghargaan.
Penghargaan pendidikan harus dibuktikan dengan semakin baiknya kemampuan anak-anak Lampung.
Penghargaan perumahan harus dibuktikan dengan semakin banyak keluarga yang tinggal di rumah yang layak, sehat dan aman.
Penghargaan lingkungan harus dibuktikan dengan lingkungan yang benar-benar bersih dan pengelolaan sampah yang semakin baik.
Di situlah penghargaan menemukan maknanya.
Masyarakat tidak hidup di ruang seremoni. Mereka hidup di rumah, bersekolah, bekerja, berobat dan berhadapan setiap hari dengan persoalan pelayanan publik.
Karena itu, ukuran paling jujur dari sebuah prestasi pemerintah adalah perubahan yang dirasakan masyarakat.
Setelah tepuk tangan berhenti, setelah piagam disimpan dan kamera tidak lagi menyorot panggung, pekerjaan pemerintah tetap berjalan.
Dan di situlah pembuktian sesungguhnya dimulai.
Lampung boleh menerima banyak penghargaan. Tetapi penghargaan terbaik tetaplah ketika masyarakat merasakan hidup yang lebih baik.
Jangan berhenti—buktikan.(iwa)
