Beberapa pekan terakhir, keluhan tentang cuaca panas ramai memenuhi lini masa warga Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Agustus–September, dengan kondisi yang cenderung lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Aspal memantulkan panas, keringat tak kunjung berhenti, sementara pendingin ruangan bekerja lebih keras. Bagi banyak orang, panas bukan lagi sekadar soal kenyamanan, tetapi mulai memengaruhi ritme aktivitas sehari-hari.
Jauh sebelum ada BMKG, prakiraan cuaca, apalagi pendingin ruangan, Nabi Muhammad SAW telah menjalani kehidupan di kawasan dengan iklim yang jauh lebih panas dan kering. Mekkah dan Madinah berada di lingkungan gurun yang menuntut manusia menyesuaikan diri dengan kerasnya alam.
Dari kehidupan Rasulullah SAW, ada dua pelajaran yang menarik untuk memahami tahu kapan harus menyesuaikan diri dengan keadaan dan tahu kapan tidak boleh menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah.
Masyarakat Arab telah lama menyesuaikan perjalanan dan aktivitas mereka dengan kondisi alam. Al-Qur’an bahkan mengabadikan perjalanan dagang kaum Quraisy dalam Surah Al-Quraisy, yang menggambarkan perjalanan pada musim dingin dan musim panas.
Bagi masyarakat yang hidup di wilayah gurun, menyesuaikan perjalanan dengan musim bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup.
Kearifan semacam itu menunjukkan bahwa menghadapi panas bukan berarti melawannya secara membabi buta. Manusia justru perlu memahami kondisi alam, mengenali batas tubuh, lalu menyesuaikan aktivitas.
Dalam sejarah Mekkah, masyarakat juga dikenal mencari tempat yang lebih sejuk ketika panas mencapai puncaknya. Ta’if, yang berada di dataran tinggi, menjadi salah satu kawasan yang dikenal memiliki udara lebih sejuk dibandingkan Mekkah.
Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melakukan perjalanan ke Ta’if. Namun perjalanan itu terutama berkaitan dengan dakwah dan upaya mencari dukungan setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, bukan sekadar untuk menghindari panas.
Ketika Syariat Memberi Ruang bagi Tubuh
Salah satu contoh paling jelas bagaimana Islam mempertimbangkan kondisi fisik manusia terlihat dalam tuntunan shalat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika cuaca sangat panas, maka akhirkanlah shalat hingga panas mereda. Sesungguhnya panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anas bin Malik juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW menyegerakan shalat ketika cuaca dingin dan mengakhirkannya ketika cuaca sangat panas.
Para ulama menjelaskan bahwa anjuran tersebut berkaitan dengan shalat Zuhur, ketika panas mencapai puncaknya. Tujuannya antara lain agar jamaah tidak mengalami kesulitan berlebihan dalam perjalanan menuju masjid dan dapat menunaikan shalat dengan lebih tenang dan khusyuk.
Di sini terlihat sebuah prinsip bahwa mengakui keterbatasan tubuh bukan berarti lemah.
Islam tidak mengajarkan manusia mengabaikan kondisi fisiknya. Ada ruang untuk menyesuaikan ibadah ketika keadaan memang berat.
Prinsip yang sama terlihat dalam berbagai bentuk rukhsah, atau keringanan syariat. Orang yang sedang bepergian dan menghadapi kesulitan, misalnya, memperoleh keringanan dalam menjalankan puasa Ramadan.
Dengan kata lain, agama tidak menutup mata terhadap realitas tubuh manusia.
Namun ada sisi lain yang tidak kalah penting.
Pada tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah SAW memimpin ekspedisi ke Tabuk. Perjalanan itu berlangsung dalam kondisi yang sangat berat. Jarak jauh, panas gurun, keterbatasan bekal, dan ancaman musuh membuat ekspedisi tersebut menjadi salah satu perjalanan paling berat dalam sejarah awal Islam.
Sebagian orang memilih tidak ikut dengan alasan panas. Al-Qur’an merekam alasan tersebut dalam Surah At-Taubah ayat 81:
“Dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat untuk berperang dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam itu lebih panas,’ jika mereka mengetahui.”
Pesannya bukan bahwa manusia harus mengabaikan keselamatan atau memaksakan diri dalam setiap keadaan.
Pesannya adalah bahwa tidak semua kesulitan boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
Ada keadaan ketika manusia memang perlu berhenti, beristirahat, atau menerima keringanan. Tetapi ada pula keadaan ketika sesuatu yang lebih besar menuntut keberanian untuk tetap berjalan.
Di situlah perbedaan antara menyesuaikan diri dengan keadaan dan menyerah kepada keadaan.
Pelajaran untuk Musim Panas Tahun Ini
Musim kemarau 2026 memberi pelajaran yang sederhana tetapi penting.
Ketika suhu tinggi, tubuh membutuhkan lebih banyak perhatian. Menjaga asupan cairan, mengurangi aktivitas berat di bawah terik matahari, menggunakan pelindung diri, serta mengatur waktu aktivitas merupakan bentuk kehati-hatian, bukan kemanjaan.
Tubuh memiliki batas.
Tetapi pada saat yang sama, cuaca tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan kepedulian.
Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada keluarga yang harus diperhatikan. Ada tetangga yang mungkin lebih kesulitan menghadapi panas. Ada petani yang menghadapi ancaman kekeringan. Ada pekerja luar ruang yang harus berjuang lebih keras daripada mereka yang dapat berlindung di ruangan berpendingin udara.
Karena itu, menghadapi panas membutuhkan dua sikap sekaligus, kearifan untuk menjaga diri dan keteguhan untuk tetap menjalankan tanggung jawab.
Kita tidak perlu membuktikan ketangguhan dengan memaksakan tubuh hingga jatuh sakit. Tetapi kita juga tidak perlu menjadikan ketidaknyamanan sebagai alasan untuk berhenti melakukan hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita.
Rasulullah SAW memberi contoh bahwa manusia boleh menyesuaikan diri dengan keadaan alam, tetapi tidak boleh kehilangan arah karena keadaan tersebut.
Panas Akan Berlalu
Musim panas, seperti semua musim, pada akhirnya akan berlalu.
Yang mungkin lebih lama tinggal adalah pelajaran yang kita dapatkan darinya, bahwa manusia tidak selalu bisa mengendalikan alam, tetapi manusia dapat memilih bagaimana meresponsnya.
Ada saat untuk berteduh. Ada saat untuk menunda dan ada saat untuk menerima keringanan. Namun ada pula saat ketika kita harus tetap berjalan meski matahari sedang terik.
Barangkali di situlah relevansi kisah Rasulullah SAW bagi kita pada peringatan Maulid Nabi tahun ini. Islam tidak mengajarkan manusia melawan panas dengan kesombongan, tetapi juga tidak mengajarkan menyerah kepadanya.
Kita diajarkan membaca keadaan, menjaga tubuh, menerima keringanan ketika memang tersedia, sekaligus tetap teguh ketika tanggung jawab menuntut kita untuk bergerak.
Sebab musim akan berganti.
Yang penting bukan sekadar kapan hujan turun, melainkan bagaimana kita tetap menjadi manusia yang bijak, tangguh, dan peduli selama menunggu hujan itu datang.(iwa)
Catatan redaksi: Riwayat tentang kehidupan masyarakat Arab dan sejumlah kisah sirah memiliki tingkat kekuatan sanad yang beragam. Hadis tentang mengakhirkan shalat Zuhur ketika panas sangat terik diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ketentuan rukhsah bagi musafir juga memiliki dasar hadis yang sahih. Pembaca yang memerlukan kajian lebih mendalam mengenai derajat masing-masing riwayat disarankan merujuk kitab hadis dan sirah primer serta penjelasan ulama yang kompeten.
