Malam turun perlahan di sejumlah sudut Kota Bandarlampung pada Jumat (6/3/2026). Di gang-gang sempit permukiman, lantai rumah masih basah, dan lumpur tipis menempel di sudut-sudut ruangan. Ember, pel, dan sapu berpindah tangan dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lain. Sejak sore, warga membersihkan sisa banjir yang baru saja meninggalkan rumah mereka.
Kasur dijemur di teras. Lemari dipindahkan ke halaman. Di beberapa rumah, peralatan dapur masih dibilas satu per satu.
Air memang sudah surut, tetapi jejaknya tertinggal hampir di setiap sudut kota.
Hujan deras yang mengguyur Bandarlampung selama beberapa jam pada hari itu memicu banjir di sedikitnya 37 titik. Genangan datang cepat, memasuki gang-gang permukiman dan merendam rumah warga.
Ketika malam mulai tiba dan warga masih berkutat dengan lumpur yang tersisa, kabar yang ditunggu akhirnya datang: bantuan mulai disalurkan.
Pemerintah Kota Bandarlampung menyalurkan bantuan kepada warga terdampak berupa beras dan uang tunai. Bantuan itu diberikan kepada keluarga yang rumahnya terdampak langsung oleh banjir.
Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana mengatakan total warga terdampak mencapai 1.202 orang yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Total warga terdampak ada 1.202 orang dari empat kecamatan yang paling parah, yakni Rajabasa, Tanjung Senang, Sukarame, dan Sukabumi,” kata Eva, Minggu. (08/03/2026).
Setiap keluarga menerima beras 10 kilogram dan bantuan uang tunai sebesar Rp1 juta. Bantuan itu mulai disalurkan pada malam hari, setelah air di sejumlah wilayah mulai surut.
Di beberapa kawasan, warga masih terlihat mengangkat perabotan dari dalam rumah. Kasur dijemur di pinggir jalan, sementara kursi dan meja disandarkan ke tembok agar cepat kering.
Bagi banyak keluarga, bantuan yang datang malam itu setidaknya memberi sedikit ketenangan setelah berjam-jam menghadapi banjir yang datang tiba-tiba.
Eva mengatakan pemerintah kota masih terus menunggu laporan tambahan dari pihak kecamatan untuk memastikan seluruh warga terdampak dapat terdata.
“Untuk saat ini bantuan kami fokuskan kepada warga yang rumahnya terdampak langsung oleh banjir. Sementara yang hanya terdampak di bagian luar masih terus kita data. Jika ditemukan warga yang belum terjangkau, bantuan akan kembali disalurkan,” ujarnya.
Dalam peristiwa banjir tersebut, tercatat ada korban jiwa, meski tidak ada laporan warga yang mengalami luka.
Di lapangan, tim gabungan dari pemerintah daerah, aparat kecamatan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut membantu proses evakuasi dan penanganan di lokasi terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandarlampung Idham Basyar mengatakan hujan lebat yang mengguyur kota selama sekitar dua jam menyebabkan genangan di sejumlah wilayah.
Beberapa kawasan yang terdampak antara lain Rajabasa, Sukarame, Sukabumi, Way Halim, Tanjung Senang, Labuhan Ratu, dan Kedamaian.
Meski sebagian air telah surut, pemandangan yang tersisa hampir sama di banyak permukiman: lantai rumah yang masih lembap, perabotan yang dijemur, dan warga yang terus membersihkan sisa lumpur.
Di tengah sisa-sisa banjir itu, Eva mengatakan pemerintah kota juga terus berupaya memperbaiki sistem drainase untuk mengurangi potensi banjir di masa mendatang. Namun, menurutnya penanganan secara menyeluruh membutuhkan keterlibatan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang menangani infrastruktur sungai dan pengendalian banjir.
Selain itu, persoalan banjir di Bandarlampung juga berkaitan dengan aliran air dari wilayah sekitar seperti Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan.
“Kalau semua pihak turun bersama, terutama balai, insya Allah penanganannya bisa lebih maksimal,” kata Eva.
Sementara warga masih mengeringkan rumah mereka satu per satu, malam itu membawa dua hal sekaligus: kelelahan setelah banjir dan sedikit rasa lega karena bantuan akhirnya datang. Setidaknya, bagi mereka yang baru saja menghadapi air yang masuk tanpa permisi, ada perasaan bahwa mereka tidak benar-benar sendirian melewati malam setelah banjir pergi.(iwa)
