Setiap tahun, puluhan ribu anak di Provinsi Lampung menghadapi kenyataan yang tidak mudah. Ruang belajar di sekolah menengah tidak cukup untuk menampung mereka semua. Di balik angka kelulusan sekolah menengah pertama yang terus bertambah, terdapat celah besar dalam sistem pendidikan yang berpotensi membuat banyak siswa terhenti di tengah jalan.
Di tengah keterbatasan itu, pondok pesantren menjadi ruang harapan yang sering kali tidak terlihat dalam statistik pendidikan formal.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai keberadaan pesantren selama ini memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan di daerah tersebut.
“Pondok pesantren memiliki peran vital dalam menyelamatkan puluhan ribu anak putus sekolah dan menjaga Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung,” ujarnya di Bandarlampung, Sabtu, 07/03/2026).
Data Pemerintah Provinsi Lampung menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam ketersediaan bangku pendidikan menengah. Setiap tahun sekitar 130 ribu siswa lulus dari SMP, tetapi jumlah bangku yang tersedia di SMA hanya sekitar 90 ribu.
Selisih itu menyisakan puluhan ribu siswa yang berpotensi kehilangan akses pendidikan formal.
Sebagian dari mereka akhirnya menemukan jalan lain melalui pesantren.
Menurut Mirzani, sekitar 20 ribu lulusan SMP yang tidak tertampung di sekolah menengah kemudian diserap oleh ribuan pondok pesantren yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Lampung.
Jumlah pesantren di provinsi ini sendiri mencapai sekitar 1.400 lembaga.
Keberadaan pesantren tersebut tidak hanya menyediakan ruang pendidikan alternatif, tetapi juga membentuk karakter generasi muda sekaligus membuka peluang mobilitas sosial bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Di banyak wilayah, pesantren bahkan menjadi pintu terakhir agar anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Karena itu, Mirzani menilai pesantren memiliki kontribusi besar terhadap kualitas pembangunan manusia di Lampung.
“Saya tidak dapat membayangkan seandainya tidak ada pesantren di Provinsi Lampung. Mungkin Indeks Pembangunan Manusia kita bisa bertambah turun, bahkan kemiskinan kita bisa meningkat,” katanya.
Bagi pemerintah provinsi, pesantren kini tidak lagi dilihat sekadar sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap peran tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mengalokasikan bantuan dana hibah pada tahun anggaran 2026.
Bantuan tersebut disalurkan kepada 20 pondok pesantren serta lembaga pendidikan keagamaan untuk mendukung pengembangan fasilitas dan kegiatan pendidikan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan di Lampung, terutama dalam menutup kesenjangan akses pendidikan menengah yang selama ini masih terjadi.
Di tengah keterbatasan bangku sekolah, pesantren perlahan mengambil peran yang semakin penting: memastikan masa depan ribuan anak Lampung tidak berhenti hanya karena tidak ada ruang di ruang kelas sekolah.(iwa)
