Saat Ulama dan Umara Duduk Satu Meja di Ramadan Lampung

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di lingkungan Kantor Gubernur Lampung terasa berbeda. Sejumlah tokoh agama, pimpinan daerah, hingga pejabat pemerintahan berkumpul dalam satu ruang, menyambung silaturahmi di bulan suci Ramadan.

Di tengah suasana yang hangat itu, ulama dan umara duduk berdampingan. Mereka tidak sekadar menunggu azan magrib, tetapi juga merawat tradisi dialog antara pemimpin dan tokoh agama yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung.

Ketua DPRD Provinsi Lampung Ahmad Giri Akbar bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal hadir dalam kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama ulama dan umara yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Lampung, Jumat (6/3).

Acara yang dimulai sejak pukul 16.00 WIB itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Di bulan yang identik dengan refleksi spiritual ini, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan antara pemerintah daerah dan para ulama.

Ramadan sering kali menghadirkan momentum istimewa: saat kebijakan publik, nilai moral, dan kepentingan masyarakat bertemu dalam suasana yang lebih cair.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga menyerahkan bantuan kepada sejumlah pondok pesantren. Bantuan tersebut menjadi simbol dukungan terhadap lembaga pendidikan keagamaan yang selama ini berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Ia juga menjadi ruang pembentukan nilai, kedisiplinan, serta fondasi moral bagi banyak anak muda di berbagai daerah.

Kegiatan silaturahmi ini turut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Anggota DPR RI Dwita Ria Gunadi, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, para staf ahli gubernur, asisten sekretaris daerah, serta jajaran pejabat eselon II Pemerintah Provinsi Lampung.

Sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Lampung juga terlihat mengikuti rangkaian kegiatan hingga waktu berbuka puasa tiba.

Ketika azan magrib berkumandang, percakapan yang sejak sore mengalir perlahan berhenti. Para tamu kemudian berbuka puasa bersama dalam suasana sederhana.

Di momen seperti itu, sekat antara jabatan, institusi, dan posisi sosial seolah mencair. Yang tersisa adalah semangat kebersamaan.

Silaturahmi antara ulama dan umara ini menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan program, tetapi juga pada hubungan yang harmonis antara pemimpin, tokoh agama, dan masyarakat.

Di bulan Ramadan, kebersamaan seperti inilah yang sering menjadi fondasi bagi harapan dan keberkahan sebuah daerah.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *