Fondasi Retak: Mungkinkah Pertanian Masih Jadi Game Changer Lampung?

Paradoks di Tanah Subur, PR Besar Gubernur Mirzani

@i-nomics

Lampung sering disebut sebagai tanah yang subur bagi pertanian. Sawah terbentang, ladang jagung dan singkong memenuhi pedesaan, sementara kopi dari perbukitan menjadi komoditas penting hingga pasar ekspor. Dari jauh, semuanya terlihat seperti mesin ekonomi yang bekerja stabil, seolah pertanian benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi daerah ini.

Namun ada satu ironi yang semakin sulit diabaikan: ketika produksi pertanian terus bergerak, kesejahteraan petaninya justru tidak ikut melonjak.

Indikator paling jujur untuk membaca keadaan ini adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Pada banyak periode, terutama di subsektor pangan, angka ini bertahan di atas 100 poin lebih sedikit. Ini sebuah sinyal bahwa hasil panen hampir habis cepat untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan hidup. Dalam bahasa sederhana di desa, kondisi ini sering digambarkan seperti menanam padi satu karung lalu saat panen hasilnya hanya cukup untuk membeli kembali pupuk dan benih musim berikutnya.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan besar, jika pertanian benar-benar fondasi ekonomi Lampung, mengapa kehidupan petaninya masih berjalan terseok?

Retakan yang Tidak Terlihat

Dari kejauhan, pertanian Lampung tampak seperti rumah besar yang berdiri kokoh. Produksi tinggi, lahan luas, dan komoditas beragam. Tetapi seperti rumah yang retaknya muncul dari bawah tanah, persoalan pertanian sering tidak langsung terlihat di permukaan.

Retakan pertama ada pada struktur rantai nilai. Petani berada di ujung paling hulu sebagai produsen bahan mentah. Sementara nilai ekonomi terbesar muncul setelah komoditas meninggalkan desa, di pabrik pengolahan, gudang distribusi, dan jaringan perdagangan.

Nilai ekonomi terpapar jelas pada statistik ekspor yang perolehannya masuk ke kantong eksportir alias cukong.

Hilirisasi memang mulai digerakkan, terutama di era Gubernur Mirzani. Kadar air gabah dan jagung berhasil ditekan, kualitas naik setingkat, meski hilirisasi belum merubah bentuk kdan memunculkan komoditi terbarukan yang bernilai lebih.

Singkong sejak lama telah diolah menjadi tapioka, jagung masuk rantai industri pakan, kopi diarahkan menjadi produk olahan. Namun dalam praktiknya, hubungan antara industri dan petani masih lemah. Nilai tambah yang tercipta dalam proses pengolahan tidak selalu kembali ke desa tempat komoditas itu ditanam.

Akibatnya, kerja paling berat tetap berada di ladang, sementara keuntungan terbesar muncul jauh dari tanah tempat benih disemai.

Retakan kedua adalah biaya produksi yang terus meningkat. Harga pupuk, benih, tenaga kerja, dan transportasi perlahan naik dari tahun ke tahun.  Setiap kenaikan harga komoditas sering langsung tergerus oleh biaya yang ikut meningkat.

Situasi ini membuat produksi yang tinggi tidak otomatis berarti keuntungan yang besar. Petani tetap bekerja keras, tetapi ruang keuntungan tetap tipis.

Retakan ketiga adalah lemahnya posisi tawar petani di pasar. Sebagian besar petani menjual hasil panen secara individu. Tanpa kekuatan kolektif, harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang atau rantai distribusi di atasnya. Ketika panen datang bersamaan, pilihan petani sering hanya dua: menjual cepat dengan harga rendah atau menyimpan dengan risiko kerusakan.

Dalam kondisi seperti ini, pasar jarang berpihak pada produsen kecil.

Retakan keempat terletak pada cara pembangunan pertanian diukur. Selama ini keberhasilan sering diidentikkan dengan peningkatan produksi. Ketika tonase panen naik, pembangunan dianggap berhasil.

Padahal produksi besar tidak selalu berarti kesejahteraan meningkat. Tanpa perubahan dalam struktur nilai, peningkatan produksi hanya memperbesar volume komoditas yang keluar dari desa, bukan memperbesar pendapatan petani.

Taruhan Infrastruktur

Tahun 2026 menjadi fase penting bagi pembangunan Lampung ketika infrastruktur mulai dipercepat secara besar-besaran. Jalan produksi diperbaiki, konektivitas desa diperkuat, bahkan dengan pembiayaan utang.

Secara teori, langkah ini masuk akal. Infrastruktur yang baik dapat menurunkan biaya logistik dan mempercepat distribusi hasil panen.

Namun infrastruktur tidak otomatis menjadi jawaban.

Jika jalan yang lebih baik hanya membuat truk lebih cepat membawa gabah, jagung, atau singkong keluar daerah, maka perubahan yang terjadi hanya pada kecepatan distribusi. Nilai tambah tetap terjadi di tempat lain.

Lampung tetap menjadi ladang produksi, sementara keuntungan terbesar tumbuh di luar desa.

Pembangunan infrastruktur sebenarnya (diharapkan) dapat memompa pertumbuhan, tetapi juga menjadi taruhan. Ia bisa menjadi pemicu transformasi ekonomi pertanian, tetapi juga bisa memperkuat, menegaskan pola lama  nilai tambah dinikmati  di luar Lampung.

Syarat Memperbaiki Fondasi

Jika pertanian masih ingin menjadi kekuatan ekonomi utama Lampung, maka retakan pada fondasi itu tidak bisa diabaikan.

Inilah menjadi PR besar Mirzani.

Pertama, kebijakan harus benar-benar memihak petani. Bukan hanya mendorong produksi, tetapi memastikan petani memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai. Penguatan koperasi, kelompok tani, dan sistem pemasaran kolektif menjadi penting agar petani tidak selalu menjual secara individual dengan posisi tawar lemah.

Kedua, hilirisasi harus terhubung langsung dengan sumber produksi. Industri pengolahan perlu tumbuh dekat dengan wilayah pertanian dan memiliki kemitraan yang jelas dengan petani. Tanpa hubungan ini, hilirisasi hanya akan memperbesar sektor industri tanpa memperkuat ekonomi desa.

Ketiga, menekan biaya produksi melalui dukungan teknologi dan kebijakan input. Akses pupuk yang stabil, benih unggul, mekanisasi pertanian, serta irigasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas tanpa membebani petani dengan biaya yang terus meningkat.

Keempat, membuka akses pasar dan transparansi harga. Informasi pasar yang lebih terbuka akan membuat petani tidak sepenuhnya bergantung pada satu jalur perdagangan. Ketika petani memiliki pilihan pasar, posisi tawar mereka akan meningkat.

Kelima, mengubah cara mengukur keberhasilan pertanian. Produksi tetap penting, tetapi kesejahteraan petani harus menjadi ukuran utama.

Menjaga Rumah dari Retak

Pertanian Lampung masih memiliki potensi besar. Lahan tersedia, produksi kuat, dan permintaan pangan terus meningkat.

Namun sebuah fondasi tidak akan bertahan jika retakannya dibiarkan melebar.

Jika perubahan struktur tidak terjadi, pertanian Lampung mungkin akan tetap terlihat kuat dalam statistik produksi. Sawah tetap luas, panen tetap besar.

Tetapi di balik angka-angka itu, petani akan terus berjalan terseok.

Dan ketika petani terseok di atas sektor yang disebut sebagai fondasi ekonomi, maka yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar masalah pertanian.

Itu adalah tanda bahwa fondasi ekonomi daerah sedang retak, perlahan, tetapi nyata.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *