Siang itu, suasana Masjid Al Bakrie dipenuhi wajah-wajah yang datang dengan satu harapan suatu hari akan menapakkan kaki di Tanah Suci. Di hadapan mereka, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyampaikan sebuah pengingat yang sederhana namun dalam. Ia mengatakan perjalanan haji sesungguhnya tidak dimulai di Makkah, tetapi dari niat yang dirawat sejak sekarang.
Pesan itu ia sampaikan saat membuka kegiatan Lampung Berhaji yang digelar bersama Bank Syariah Indonesia (BSI), Rabu (11/3/2026). Bagi Jihan, forum seperti ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang untuk meneguhkan kesadaran bahwa ibadah haji adalah perjalanan iman yang membutuhkan kesiapan dan perencanaan.
Menurutnya, animo masyarakat Lampung untuk menunaikan ibadah haji terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena itu menunjukkan bahwa semangat religius masyarakat tetap hidup dan tumbuh. Namun di balik antusiasme itu, ia mengingatkan satu hal penting: niat harus diiringi langkah.
“Jangan menunda dan jangan menunggu waktu yang dianggap paling siap. Niat baik perlu diiringi dengan langkah nyata,” ujar Jihan.
Bagi banyak orang, haji sering dianggap sebagai ibadah yang menunggu “waktu yang tepat”, ketika usia telah cukup, ketika keuangan sudah benar-benar mapan, atau ketika kesempatan terasa lebih lapang. Tetapi Jihan justru mengajak masyarakat melihatnya dari sudut pandang berbeda: haji adalah perjalanan yang harus dipersiapkan sejak dini.
Perencanaan, menurutnya, bukan sekadar persoalan finansial. Ia adalah bagian dari ikhtiar spiritual, cara seseorang menjaga niat agar tetap hidup, terarah, dan tidak berhenti pada angan.
Melalui kegiatan Lampung Berhaji, ia berharap semakin banyak masyarakat yang terdorong memulai langkah tersebut sekarang, bukan nanti. Sebab bagi Jihan, setiap perjalanan besar selalu dimulai dari keputusan kecil untuk memulai.
“Perjalanan menuju Baitullah dimulai dari niat, diperkuat dengan ikhtiar, dan diwujudkan melalui perencanaan yang baik,” katanya.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk berhaji, pesan itu terasa relevan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyiapkan dirinya secara spiritual, mental, dan kehidupan untuk sebuah perjalanan yang mengubah arah hidup.
Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh Derry Sulaiman, yang mengingatkan jamaah bahwa panggilan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi perjalanan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik setelah kembali.(iwa)
