Lebaran, Jangan Sampai “Gak Nyangka” Kemudian

Ketika Lampung tampak ramai saat Lebaran, justru di situlah tanda kelelahan ekonomi mulai terlihat

@i-nomics

Lampung sedang riuh. Jalanan padat, pusat belanja penuh, arus mudik meningkat. Dari permukaan ini terlihat seperti kabar baik, ekonomi bergerak, konsumsi hidup, masyarakat belanja.

Tapi justru kita perlu mulai curiga.

Sebab  keramaian tahun ini tidak datang dari fondasi yang jelas. Tidak ada panen besar yang mengalirkan pendapatan baru. Tidak ada penguatan daya beli yang signifikan. Tidak ada lonjakan ekonomi riil yang bisa menjelaskan ledakan konsumsi.

Tapi belanja tetap tinggi.

Artinya, yang sedang terjadi bukan pertumbuhan. Ini cuma konsumsi yang dipaksakan. Gak nyangka, bukan?

Ini argumentasinya.

Lebaran sejak dulu selalu mendorong pengeluaran. Tapi dorongan kali ini terasa berbeda. Lebih agresif, sekaligus rapuh. Bila dipetakan, konsumsi yang dipaksakan mengakibatkan rumah tangga membelanjakan tabungan, menghabiskan THR dalam waktu singkat, dan sebagian mulai bertumpu pada utang konsumtif. Utang ke tetangga, kerabat, atau pinjol.

Arus mudik yang meningkat hanya menambah efek semu dimana uang dari luar daerah masuk, berputar cepat, lalu pergi tanpa sempat mengakar.

Ekonomi terlihat hidup. Tapi sebenarnya, ia sedang “didorong”, Bukan tumbuh.

Bahayanya, dorongan seperti ini selalu punya konsekuensi.

Setelah puncak, akan ada penurunan. Dan semakin tinggi euforia, biasanya semakin terasa jatuhnya. Setelah Lebaran, mungkin satu bulan kemudian, pola yang hampir pasti terjadi adalah pembalikan keadaan, yaitu penahanan konsumsi.

Uang sudah habis terpakai, sementara pemasukan tidak bertambah. Pasar yang kemarin padat mulai lengang. Pedagang kecil menghadapi penurunan omzet. Rumah tangga mulai menghitung ulang, bukan lagi membelanjakan.

Pada kondisi ini,  ekonomi tidak pasti selalu runtuh, tapi pasti bakal melemah. Pelan, diam-diam, dan sering tidak disadari.

Inilah yang lebih berbahaya. Kelelahan ekonomi, bukan krisis yang mengagetkan, tapi pengikisan daya tahan. Tabungan menipis, ruang belanja menyempit, ketergantungan pada utang meningkat. Ekonomi tetap bergerak, tapi dengan tenaga yang semakin terbatas.

Jika terus berulang, maka Lampung tidak sedang tumbuh, melainkan terjebak dalam ilusi pertumbuhan. Ramai semusim singkat, tapi rapuh setiap saat. Kita sering keliru, terlalu cepat menganggap keramaian sebagai tanda sehat. Padahal, bisa jadi itu justru tanda bahwa masyarakat sedang menghabiskan cadangan untuk mempertahankan standar hidup, bukan menikmatinya.

Lalu, pertanyaannya kemudian berubah, bukan lagi “seberapa ramai ekonomi bergerak”, tapi “dari mana tenaga itu berasal, dan berapa lama bisa bertahan?”

Jawaban atas pertanyaan itu menentukan arah ke depan. Jika rumah tangga tidak segera menyesuaikan, fase setelah Lebaran akan berubah menjadi tekanan. Belanja yang tidak terkendali hari ini akan dibayar dengan pengetatan besok.

Jika pemerintah daerah tidak hadir di momen yang tepat, perlambatan ini bisa menjadi lebih dalam dari yang diperkirakan.

Intervensi tidak cukup saat puncak. Justru dibutuhkan setelahnya, ketika konsumsi mulai turun.

Belanja daerah harus masuk sebagai penopang. Penyerapan anggaran wajib dioptimalkan. Bahkan program padat karya harus dipastikan dapat mengisi jeda. UMKM harus dijaga agar tidak ikut terseret dalam perlambatan.

Dan lebih mendasar, tanpa penguatan sektor produksi, terutama pertanian, Lampung akan terus bergantung pada siklus yang dangkal, konsumsi naik cepat, lalu turun lebih cepat.

Gak nyangka,  bukan. Di tengah riuhnya Lebaran, ekonomi justru bisa sedang menuju fase paling rentan, bukan karena tidak bergerak, tapi karena bergerak tanpa tenaga yang cukup untuk bertahan.

Jangan sampai gak nyangka, tidak nyaman setelah berlebaran. ***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *