Euforia konsumsi usai Lebaran sering menutupi tanda perlambatan. Di saat yang sama, serapan anggaran triwulan I masih rendah, sehingga uang pemerintah belum benar-benar beredar di masyarakat.
Lebaran hampir usai. Euforia mereda. Penurunan konsumsi pelan-pelan mulai terasa. Tak lama lagi, kita kembali dihadapkan pada realitas klasik yang berulang berupa kelelahan ekonomi rumah tangga, bersamaan dengan anggaran pemerintah yang belum benar-benar bekerja. Saya menyebutnya sebagai himpitan ganda.
Tersebab fiskal tersendat. Tertidur, tiarap, terlelap. Hebatnya, kita terbiasa menghadapinya, bahkan menganggapnya wajar. Padahal, hantaman kelelahan ekonomi pasca Lebaran itu nyata, menciptakan perlambatan yang tak bisa diabaikan.
Lonjakan konsumsi saat Lebaran memang nyata. Pasar ramai, uang beredar cepat, optimisme menguat. Namun dorongan itu bersifat sementara. Lebaran identik dengan menarik daya beli ke depan, lalu meninggalkan ruang kosong setelahnya. Rumah tangga mulai menahan belanja, pelaku usaha mengurangi ritme, dan ekonomi kembali melambat.
Dalam keadaan ini, pemburukan ekonomi mudah terjadi, karena pada saat yang sama fiskal daerah belum sepenuhnya bergerak.
Ini bukan hal baru. Serapan anggaran pada triwulan I hampir selalu rendah. Program masih dalam tahap awal, proses administrasi berjalan lambat, proyek fisik belum sepenuhnya dimulai. Anggaran ada, tetapi belum menjadi aktivitas. Ia masih berhenti di dokumen, belum mengalir ke lapangan.
Ironi itu terus berulang. Ketika ekonomi mulai kehilangan dorongan pasca Lebaran, fiskal belum hadir sebagai penopang. Yang muncul bukan sekadar perlambatan, tetapi kekosongan dorongan ekonomi.
Dampaknya terasa cepat. Proyek dan pembayaran tertunda, tenaga kerja belum terserap, perputaran uang melemah. UMKM yang sempat menikmati lonjakan Lebaran kembali menghadapi pasar yang mengecil. Daya beli turun lebih dalam karena tidak ada bantalan. Biaya untuk memulihkannya pun jauh lebih besar dibanding menjaga agar tetap bergerak sejak awal.
Menunda belanja di awal tahun berarti membayar lebih mahal di belakang. Ini bukan sekadar soal nominal, melainkan soal momentum yang hilang, yang tidak mudah digantikan. Untuk mengejarnya, dibutuhkan dorongan lebih besar, bahkan stimulus yang lebih agresif.
Pemerintah tidak boleh lagi terjebak pola lama, lambat di awal, tergesa di akhir. Kebijakan harus peka terhadap momentum ekonomi.
Bagi daerah seperti Lampung, ini krusial. Ketergantungan pada belanja pemerintah masih tinggi. Artinya, setiap keterlambatan fiskal langsung terasa di lapangan, pada pekerja, pelaku usaha, hingga sektor informal yang hidup dari perputaran harian.
Sudah saatnya cara pandang diubah.
Serapan anggaran bukan urusan akhir tahun. Belanja harus mulai bergerak sejak dini, terutama pada sektor yang berdampak langsung, padat karya, bantuan sosial, dan penguatan UMKM.
Pasca Lebaran seharusnya menjadi momen akselerasi. Ketika konsumsi melemah, fiskal harus mengisi. Ketika pasar melambat, pemerintah harus hadir sebagai penggerak.
Ini bukan soal menghabiskan anggaran. Ini soal menjaga nadi.
Karena ekonomi tidak menunggu. Jika tidak dijaga, ia akan melambat. Dan ketika sudah melemah, biaya untuk menghidupkannya kembali selalu lebih mahal.
Jika pola ini terus berulang, kita hanya akan berpindah dari euforia ke tekanan, dari ramai sesaat ke lesu berkepanjangan.
Tersebab fiskal tersendat. Tertidur, tiarap, terlelap terlalu lama.
Sementara ekonomi, diam-diam, mulai kehilangan nadinya.(iwa)
