Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlihat meyakinkan. Tapi di balik 5,61 persen itu, ekonomi justru kehilangan tenaga begitu memasuki 2026.
@Iwa Perkasa
Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen (y-on-y), menurut Badan Pusat Statistik. Namun pada saat yang sama, ekonomi justru terkontraksi 0,77 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q).
Kontras ini bukan sekadar pola musiman. Ini mengungkap satu hal yang lebih mendasar, bahwa
pertumbuhan masih ada, tapi daya dorongnya melemah.
Sumber masalahnya terlihat jelas dari dalam negeri. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi 21,81 persen (y-on-y), tetapi justru anjlok -30,13 persen (q-to-q). Artinya, ketika belanja negara melambat di awal tahun, ekonomi langsung ikut terseret. Ini bukan sekadar fluktuasi. Ini ketergantungan.
Di sisi lain, struktur pertumbuhan juga belum sepenuhnya sehat. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi justru berasal dari aktivitas konsumsi dari akomodasi dan makan minum 13,14 persen, transportasi 8,04 persen dan jasa lainnya:9,91 persen.
Sementara sektor yang menopang fondasi ekonomi bergerak lebih lambat berasal dari industri pengolahan 5,04 persen, pertanian 4,97 persen dan pertambangan. Ketiganya terkontraksi, menegaskan bahwa ekonomi tumbuh, tapi lebih karena perputaran konsumsi, bukan lonjakan kapasitas produksi.
Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,36 persen PDB. Ini memang masih tumbuh 5,52 persen, tetapi tidak cukup kuat untuk menjadi akselerator baru.
Sementara itu, ekspor nyaris stagnan (0,90 persen), dan impor justru meningkat (7,18 persen), menandakan tekanan dari sisi eksternal belum sepenuhnya teratasi.
Secara wilayah, struktur lama juga belum berubah. Pulau Jawa masih mendominasi dengan kontribusi 57,24 persen terhadap ekonomi nasional. Pertumbuhan memang mulai menyebar, tetapi pusat gravitasi ekonomi tetap terkunci.
Dengan kata lain, ekonomi Indonesia hari in tumbuh cukup tinggi untuk terlihat aman, tapi belum cukup kuat untuk benar-benar tahan guncangan.*****
