Lampung Terancam Kehilangan Kejayaan Kakao

Lampung perlahan menghadapi ancaman yang dulu pernah terjadi pada lada. Jika komoditas lada lebih dahulu mengalami kemunduran panjang hingga kehilangan kejayaannya, kini tanda-tanda serupa mulai terlihat pada kakao, salah satu komoditas perkebunan utama daerah ini.

Sebagai produsen kakao terbesar kelima di Indonesia, Lampung sebenarnya masih memiliki posisi strategis dalam industri perkebunan nasional. Namun di balik status tersebut, produksi kakao terus menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Data pemerintah mencatat produksi kakao Lampung turun dari 57.511 ton pada 2020 menjadi estimasi sekitar 44.300 ton pada 2026.

Penurunan itu bukan sekadar fluktuasi biasa. Di banyak sentra produksi seperti Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Selatan, sebagian besar tanaman kakao sudah memasuki usia tua sehingga produktivitas terus menurun. Kondisi tersebut diperparah oleh serangan hama dan penyakit tanaman yang semakin masif dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan iklim juga menjadi tekanan baru yang semakin sulit dihindari. Pola hujan yang tidak menentu, suhu ekstrem, hingga ancaman fenomena El Niño berkepanjangan membuat produksi kakao semakin rentan terganggu. Dalam situasi tertentu, cuaca ekstrem tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga memengaruhi kualitas biji kakao yang dihasilkan petani.

Kondisi ini mengingatkan pada kemunduran komoditas lada Lampung yang perlahan kehilangan daya saing akibat kombinasi tanaman tua, minimnya peremajaan kebun, rendahnya produktivitas, serta pergeseran orientasi ekonomi petani.

Kini, kakao menghadapi ancaman yang hampir sama.

Di saat produksi menurun, pasar global justru bergerak semakin ketat. Negara-negara tujuan ekspor mulai menuntut standar Good Agricultural Practices (GAP), keberlanjutan, hingga sistem keterlacakan produk atau traceability. Sementara sebagian besar kakao Lampung masih dipasarkan dalam bentuk nonfermentasi dengan nilai tambah yang relatif rendah.

Tanpa pembenahan serius, posisi Lampung di pasar kakao internasional berisiko terus melemah. Bukan hanya kehilangan daya saing ekspor, tetapi juga kehilangan regenerasi petani karena sektor ini dianggap semakin tidak menjanjikan secara ekonomi.

Karena itu, revitalisasi kakao menjadi kebutuhan mendesak. Program peremajaan tanaman atau replanting dinilai menjadi langkah paling penting untuk mengganti dominasi kebun tua yang sudah tidak produktif. Penggunaan bibit unggul tahan hama juga perlu diperluas agar produktivitas dapat kembali meningkat.

Selain itu, peningkatan kualitas pasca-panen menjadi tantangan yang tidak kalah penting. Fermentasi kakao, yang selama ini belum banyak diterapkan secara optimal, dinilai mampu meningkatkan kualitas biji dan nilai jual produk sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan industri global.

Namun transformasi tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, asosiasi petani, dan sektor swasta untuk membangun rantai usaha kakao yang lebih kuat, mulai dari pembiayaan, pendampingan teknis, hingga kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker.

Jika langkah-langkah itu gagal dilakukan, Lampung berisiko mengulang cerita lama,  kehilangan satu lagi komoditas perkebunan unggulan yang pernah menjadi kekuatan ekonomi daerah. Setelah lada yang perlahan tenggelam, kakao kini berada di titik kritis untuk menentukan apakah ia masih bisa dipertahankan sebagai simbol kejayaan perkebunan Lampung atau justru mengikuti jejak kemunduran yang sama.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *