BANDARLAMPUNG — Setelah empat bulan berturut-turut tertekan, petani Lampung akhirnya mendapatkan kabar baik. Nilai Tukar Petani (NTP) Mei 2026 melonjak 3,29 persen menjadi 128,01, kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Namun di balik lonjakan itu, terdapat fakta yang lebih penting: kesejahteraan petani Lampung sesungguhnya belum sepenuhnya kembali ke posisi tahun lalu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan NTP Mei 2026 masih berada di bawah posisi Mei 2025 yang mencapai 130,64. Dengan kata lain, meskipun petani menikmati perbaikan pendapatan pada bulan ini, daya tukar mereka terhadap kebutuhan hidup dan biaya produksi masih lebih rendah dibanding setahun sebelumnya.
NTP sendiri merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan petani menukar hasil produksinya dengan barang dan jasa yang harus mereka beli. Semakin tinggi angkanya, semakin baik posisi ekonomi petani.
Lonjakan Mei terjadi karena harga yang diterima petani naik jauh lebih cepat dibanding biaya yang mereka keluarkan. Indeks Harga yang Diterima Petani meningkat 4,35 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik 1,02 persen.
Penyelamat utama bulan ini datang dari sektor hortikultura.
Nilai Tukar Petani Hortikultura melonjak 17,58 persen hanya dalam satu bulan, menjadi kenaikan tertinggi di antara seluruh subsektor. Pemicunya adalah lonjakan harga sayuran, terutama tomat, yang terdorong minimnya pasokan akibat cuaca buruk dan gangguan panen di sejumlah sentra produksi. Ketika pasokan menyusut sementara permintaan tetap tinggi, harga di tingkat petani ikut terkerek naik.
Di sektor perkebunan rakyat, petani juga menikmati perbaikan pendapatan. NTP perkebunan rakyat naik 3,95 persen menjadi 159,03. Kenaikan terutama ditopang harga kakao yang terus menguat seiring meningkatnya permintaan pasar domestik maupun global.
Tanaman pangan dan peternakan turut bergerak positif. Harga gabah, jagung, dan sapi memberikan tambahan pendapatan bagi petani menjelang momentum Iduladha.
Namun tidak semua kelompok menikmati perbaikan.
Nelayan justru menghadapi situasi sebaliknya. Nilai Tukar Nelayan turun 2,13 persen menjadi 116,22. Harga kakap melemah karena pasokan melimpah, sementara biaya hidup tetap meningkat. Kondisi serupa terjadi pada pembudidaya ikan yang NTP-nya turun 1,36 persen menjadi 97,33. Harga bandeng terkoreksi saat panen raya datang bersamaan.
Yang juga patut dicermati adalah kenaikan biaya hidup di pedesaan.
Indeks Konsumsi Rumah Tangga petani Lampung naik 1,14 persen pada Mei 2026, menjadikan Lampung sebagai salah satu provinsi dengan kenaikan biaya konsumsi petani tertinggi di Indonesia. Pendorong utamanya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 1,56 persen serta transportasi yang naik 1,12 persen.
Artinya, sebagian keuntungan yang diperoleh petani dari kenaikan harga hasil panen juga tergerus oleh kenaikan pengeluaran sehari-hari.
Karena itu, cerita besar NTP Mei 2026 bukanlah tentang petani yang tiba-tiba sejahtera. Ceritanya adalah tentang petani yang mulai bangkit setelah beberapa bulan tertekan.
Kabar baiknya, pendapatan petani sedang membaik. Kabar yang perlu diwaspadai, biaya hidup juga terus naik. Dan selama NTP masih berada di bawah posisi tahun lalu, pekerjaan rumah untuk benar-benar memulihkan kesejahteraan petani Lampung belum bisa dikatakan selesai.
.(iwa)
