APBN Lampung Menahan Guncangan Global, Ekonomi Tetap Tumbuh 5,58 Persen

 @Iwa Perkasa

Ketika dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga komoditas global, ekonomi Lampung justru menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.

Data Kementerian Keuangan melalui Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung menunjukkan pertumbuhan ekonomi Lampung pada Triwulan I 2026 mencapai 5,58 persen (year-on-year/yoy), menjadikannya salah satu yang tertinggi di Sumatera.

Di balik capaian tersebut, terdapat satu instrumen yang terus bekerja menjaga momentum ekonomi daerah: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hingga April 2026, APBN Regional Lampung masih menjalankan fungsi ekspansif melalui peningkatan belanja pemerintah di tengah berbagai tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.

APBN Menjadi Bantalan Ekonomi

Kanwil DJPb Lampung mencatat realisasi pendapatan negara mencapai Rp3,83 triliun atau 28,56 persen dari target. Angka tersebut tumbuh 5,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja penerimaan terutama ditopang oleh pajak dalam negeri yang mencapai Rp2,52 triliun atau tumbuh 26,04 persen secara tahunan.

Pertumbuhan penerimaan tersebut mengindikasikan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak cukup kuat, terutama pada sektor industri pengolahan dan perdagangan besar yang menjadi sumber utama penerimaan perpajakan.

Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga akselerasi belanja.

Hingga akhir April, realisasi Belanja Negara mencapai Rp9,91 triliun atau 35,56 persen dari pagu anggaran. Belanja Pemerintah Pusat bahkan tumbuh 33,65 persen menjadi Rp2,85 triliun.

Peningkatan tersebut berasal dari percepatan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal yang secara langsung menopang aktivitas ekonomi di daerah.

Secara sederhana, ketika dunia usaha menghadapi ketidakpastian, pemerintah memilih tetap hadir melalui belanja negara agar mesin ekonomi tidak kehilangan tenaga.

Salah satu indikator yang menarik perhatian dalam laporan DJPb adalah lonjakan impor barang modal.

Pada Maret 2026, impor Lampung meningkat 21,59 persen secara bulanan. Yang paling mencolok, impor barang modal melonjak hingga 694,39 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik perdagangan.

Dalam perspektif ekonomi, peningkatan impor barang modal sering kali menjadi sinyal bahwa pelaku usaha mulai memperluas kapasitas produksi dan mempersiapkan investasi baru.

Artinya, dunia usaha masih melihat prospek ekonomi Lampung cukup menjanjikan di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil.

Di sisi lain, Lampung juga masih mampu mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 263,20 juta dolar AS pada Maret 2026.

Surplus tersebut menunjukkan bahwa meskipun ekspor mengalami koreksi akibat melemahnya beberapa komoditas, posisi perdagangan luar negeri Lampung masih berada di zona aman.

Pertumbuhan Berkualitas?

Pertumbuhan ekonomi 5,58 persen tidak hanya tercermin pada angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Data menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Lampung pada Februari 2026 turun menjadi 3,95 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi mencapai 64,05 persen terhadap total PDRB dan tumbuh 5,54 persen.

Sementara itu, investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat 4,39 persen.

Kombinasi konsumsi yang kuat, investasi yang tumbuh, dan pengangguran yang menurun menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Lampung tidak hanya bertumpu pada satu sektor semata.

Defisit yang Memang Dirancang

Meski pendapatan negara tumbuh positif, APBN Lampung hingga April 2026 masih mencatat defisit sebesar Rp6,08 triliun.

Namun defisit tersebut bukanlah sinyal pelemahan fiskal.

Dalam konteks APBN modern, defisit justru sering digunakan sebagai instrumen kebijakan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi ketika ketidakpastian global masih tinggi.

Dengan kata lain, pemerintah sengaja membelanjakan lebih banyak dana ke perekonomian dibandingkan yang berhasil dihimpun dalam periode yang sama.

Strategi ini memungkinkan aktivitas ekonomi tetap bergerak, daya beli masyarakat terjaga, dan berbagai program pembangunan tetap berjalan.

Menjaga Momentum

Tantangan global masih belum berakhir.

Ketegangan geopolitik, potensi pelemahan harga komoditas ekspor, hingga gejolak pasar keuangan internasional tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi.

Namun hingga April 2026, data fiskal menunjukkan Lampung masih mampu menjaga momentum pertumbuhan.

Pendapatan negara meningkat. Belanja pemerintah tetap ekspansif. Investasi menunjukkan sinyal positif. Pengangguran menurun. Dan ekonomi daerah tumbuh di atas lima persen.

Dalam situasi seperti ini, APBN tidak sekadar berfungsi sebagai instrumen keuangan negara.

Ia menjadi bantalan yang menjaga agar ekonomi Lampung tetap bergerak di tengah ombak ketidakpastian global yang belum sepenuhnya reda.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *