Pemprov Lampung memperkuat sistem deteksi dini dan respons terpadu menghadapi ancaman flu burung dan penyakit zoonosis, belajar dari pengalaman pandemi Covid-19.
BANDARLAMPUNG – Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat sistem kewaspadaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis, termasuk flu burung. Sebagai salah satu sentra peternakan dan daerah dengan mobilitas ternak yang tinggi, Lampung dinilai memiliki kerentanan terhadap penyebaran penyakit menular dari hewan ke manusia sehingga kapasitas deteksi dini dan respons terpadu harus terus diperkuat.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, saat membuka Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung Menggunakan Joint Outbreak Investigation (JOIN) Tool Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Swiss-Belhotel, Bandarlampung, Senin (22/6/2026).
Menurut Jihan, pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bahwa kedaruratan kesehatan masyarakat tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga mengguncang perekonomian, pendidikan, mobilitas masyarakat, ketahanan sosial, hingga kapasitas fiskal pemerintah daerah.
“Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa kecepatan sangat menentukan, data sangat menentukan, dan koordinasi sangat menentukan keberhasilan pengendalian wabah. Keterlambatan deteksi kasus, informasi yang terfragmentasi, dan respons yang tidak terkoordinasi dapat memperpanjang dampak krisis,” ujarnya.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan terhadap flu burung tidak boleh dipandang semata sebagai isu kesehatan hewan, melainkan bagian dari upaya menjaga ketahanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Kesiapsiagaan dibangun ketika krisis belum terjadi, bukan saat krisis datang. Pelatihan, simulasi, surveilans, pertukaran data, dan kepercayaan antar-lembaga merupakan investasi penting bagi ketahanan kesehatan Provinsi Lampung,” tegasnya.
Jihan menjelaskan, ancaman penyakit zoonosis saat ini menuntut penerapan pendekatan One Health, yakni integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Melalui pendekatan tersebut, setiap sinyal risiko yang muncul pada unggas maupun lingkungan harus segera direspons melalui investigasi terpadu dan cepat.
“Ketika sinyal risiko muncul pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara terpadu dan cepat. Karena itu, koordinasi menjadi kunci dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian,” katanya.
Ia menambahkan, investigasi wabah tidak hanya sebatas menemukan kasus, tetapi juga mencakup penelusuran epidemiologis, pengambilan dan pemeriksaan spesimen, identifikasi faktor risiko, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga pengambilan keputusan berbasis bukti.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian wabah.
Dalam konteks tersebut, Joint Outbreak Investigation (JOIN) Tool dinilai menjadi instrumen penting untuk memperkuat koordinasi dan membangun pemahaman situasi yang sama di antara berbagai sektor. Data yang terkumpul tidak boleh berhenti sebagai laporan sektoral, tetapi harus menjadi dasar respons bersama yang cepat, tepat, dan akuntabel.
Jihan menilai Lampung memiliki posisi strategis sekaligus tantangan besar dalam pengendalian penyakit zoonosis. Selain memiliki aktivitas peternakan yang tinggi, provinsi ini juga menjadi salah satu pemasok ternak dan produk peternakan dengan konektivitas antardaerah yang sangat intensif.
“Provinsi Lampung memiliki aktivitas peternakan, perdagangan, dan mobilitas antarwilayah yang tinggi. Karena itu, kapasitas deteksi dini dan respons terhadap penyakit zoonosis harus terus diperkuat,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Jihan menyampaikan apresiasi kepada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan pelatihan tersebut.
Ia berharap kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat kapasitas daerah dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman zoonosis, sekaligus membangun budaya kerja lintas sektor yang lebih solid.
Para peserta pelatihan juga diharapkan menjadi penggerak di daerah masing-masing dengan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada rekan kerja, peternak, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Direktur CDC Amerika Serikat, Rebecca D. Merrill, mengatakan influenza burung dan berbagai penyakit zoonosis lainnya masih menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun kawasan regional.
Menurutnya, pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai investigasi wabah secara terkoordinasi lintas sektor, meningkatkan keterampilan penggunaan JOIN Tool, sekaligus mempersiapkan para peserta menjadi pelatih di wilayah masing-masing.
Rebecca berharap penguatan integrasi data dan analisis lintas sektor melalui pelatihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan ancaman zoonosis secara lebih efektif di masa mendatang.(IWA)
