Jawaban Nomics.ID atas Pertanyaan Prabowo: Mengapa Indonesia Masih Impor Gandum, Produktivitas Sawit Kalah, dan Belum Punya Mobil Nasional?

@Iwa Perkasa

Pertanyaan yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto sesungguhnya bukan sekadar pertanyaan teknis. Itu adalah pertanyaan ekonomi paling mendasar: mengapa negara dengan sumber daya besar dan pasar raksasa belum mampu menguasai teknologi, industri, dan inovasi di sektor-sektor strategis?

Secara ekonomi, jawabannya terletak pada tiga persoalan besar, yaitu produktivitas, penguasaan teknologi, dan struktur industri.

Mengapa Indonesia masih impor gandum, Nomics.id berpendapat karena secara ekonomi, hingga saat ini lebih murah mengimpor gandum daripada memproduksinya sendiri.

Gandum bukan tanaman asli tropis. Produktivitasnya di Indonesia masih rendah dan lahan yang sesuai relatif terbatas. Dalam situasi seperti itu, pasar secara alami akan memilih impor.

Namun, pertanyaan Presiden sesungguhnya lebih dalam dari sekadar menanam gandum, yaitu mengapa Indonesia belum menguasai teknologi benih, rekayasa pertanian, dan inovasi pangan sehingga selalu bergantung pada negara lain untuk komoditas strategis?

Jawabanya, ketergantungan impor tidak selalu salah. Jepang dan Singapura juga mengimpor pangan. Yang menjadi persoalan adalah ketika sebuah negara tidak memiliki pilihan selain impor karena tidak menguasai teknologi dan kapasitas produksinya sendiri.

Lalu mengapa produktivitas sawit Indonesia masih kalah dari Malaysia?

Ini adalah paradoks besar.

Benar Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dan benar  produktivitas per hektarenya masih tertinggal dibandingkan Malaysia.

Penyebabnya bukan luas lahan, melainkan kualitas bibit, lambatnya peremajaan kebun, penggunaan teknologi yang belum merata, serta lemahnya transfer inovasi kepada petani.

Dalam ekonomi modern, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas sumber daya yang dimiliki, melainkan seberapa tinggi produktivitasnya.

Malaysia memiliki lahan lebih kecil, tetapi mampu menghasilkan produktivitas lebih tinggi. Artinya, mereka lebih efisien dalam mengubah sumber daya menjadi output ekonomi.

Berikutnya, mengapa Indonesia belum memiliki mobil nasional yang kuat?

Jawabannya terletak pada struktur industri.

Selama puluhan tahun Indonesia berkembang sebagai basis produksi dan perakitan dalam rantai pasok global. Kita memiliki pasar yang besar, jutaan kendaraan terjual setiap tahun, tetapi teknologi inti, desain, mesin, dan hak kekayaan intelektual sebagian besar masih dikuasai perusahaan asing.

Indonesia besar sebagai pasar, tetapi belum besar sebagai pemilik teknologi.

Membangun industri otomotif nasional bukan sekadar membangun pabrik mobil. Yang dibutuhkan adalah ekosistem riset, industri komponen, insinyur, pendanaan jangka panjang, dan keberanian mengambil risiko teknologi.

Benang Merahnya

Jika ditarik ke satu kesimpulan, pertanyaan Presiden Prabowo mengarah pada masalah yang sama.

Indonesia masih terlalu lama berada pada posisi sebagai pasar bagi produk asing, pemasok bahan baku dunia, dan pengguna teknologi yang diciptakan negara lain.

Padahal negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia seharusnya mulai naik kelas menjadi pencipta teknologi, penguasa inovasi, dan produsen barang bernilai tambah tinggi.

Karena itu, pertanyaan “mengapa kita masih impor gandum, mengapa sawit kalah produktif, dan mengapa belum punya mobil nasional?” pada dasarnya adalah pertanyaan tentang satu hal: Mengapa Indonesia yang kaya sumber daya belum sepenuhnya berdaulat dalam teknologi dan produktivitas?

Inilah pekerjaan rumah terbesar ekonomi Indonesia pada dekade mendatang. Sebab kekayaan alam dapat membuat sebuah negara besar, tetapi hanya produktivitas, inovasi, dan penguasaan teknologi yang dapat membuatnya menjadi negara maju.

Lemahnya vokasi nyatanya bukan persoalan siswa SMK dan tenaga kerja umumnya. Kelemahan itu, sesungguhnya juga melanda ke jenjang yang lebih tinggi, kampus-kampus yang miskin riset karena hambatan pendanaan. (iwa)

 

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *