Akhirnya, Masa Depan Gunung Kunyit: Waterfront City Mulai Diseminarkan

Setelah bertahun-tahun berada di antara rencana pembangunan dan kenyataan di lapangan, masa depan kawasan pesisir Gunung Kunyit akhirnya masuk ke ruang pembahasan yang lebih serius. Diseminarkan, dihadiri para pembesar.

@Iwa Perkasa

Gunung Kunyit
Gunung Kunyit

Hari ini, Kamis (20/8/2026), gagasan penataan pesisir Lampung dibawa ke Seminar Nasional “Menata Pesisir: Wujudkan Waterfront City untuk Lampung Maju” di Grand Krakatau Ballroom, Swiss-Belhotel Lampung.

Forum yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tersebut menghadirkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sebagai keynote speaker, bersama sejumlah tokoh dan profesional yang berbicara mengenai masa depan kawasan pesisir.

Di jajaran pembicara utama tercantum Dr. Ir. Mulyadi Irsan, M.T., IPL, ASEAN Eng., Ketua PII Wilayah Lampung, serta Ir. M. Taufiqullah, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng., Ketua DPW Lampung IKA-UII.

Forum tersebut juga menghadirkan narasumber, Walikota Bandarlampung Eva Dwiana dan Widarto Oey, bos Sungai Budi Group dan sejumlah pakar dan pihak swasta.

Bagi Lampung, substansi forum ini jauh lebih penting daripada sekadar daftar pembicara.

Sebab salah satu pertanyaan besarnya adalah: akan dibawa ke mana wajah pesisir Bandar Lampung ke depan?

Dan pertanyaan itu sulit dipisahkan dari Gunung Kunyit. Dari kawasan yang “belum selesai” menjadi ruang yang sudah hidup

Beberapa pekan terakhir, Nomics.ID mengikuti kehidupan kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit melalui sejumlah tulisan berseri.

Nomics tidak memulainya dari gambar rancangan waterfront city, melainkan mulai dari subuh.

Ketika sebagian besar kota masih tidur, kawasan reklamasi Gunung Kunyit sudah dipenuhi warga. Ratusan kendaraan berdatangan, terutama pada akhir pekan. Mereka turun ke laut, sebagian berendam, sebagian berolahraga, sebagian sekadar mencari suasana pagi.

Dari sana terlihat sesuatu yang menarik. Kawasan yang secara pembangunan belum selesai ternyata sudah memiliki kehidupan.

Warung-warung tumbuh. Parkir dikelola warga. Pelampung disewakan. Tangga menuju laut digunakan.

Masyarakat menciptakan aktivitas ekonomi sendiri. Bahkan muncul komunitas informal pengguna kawasan yang datang secara rutin.

Persoalannya, semua itu berlangsung dengan infrastruktur yang sangat terbatas.

Jalan masuk masih berbatu. Jalan di dalam kawasan belum tertata. Air bersih belum tersedia secara memadai. Fasilitas sanitasi belum memenuhi kebutuhan pengunjung.

Tetapi orang tetap datang.

Itulah fakta sosial yang tidak bisa diabaikan dalam setiap pembicaraan tentang masa depan kawasan tersebut.

Nomics.ID mengangkat dari bawah

Rangkaian tulisan Nomics.ID tentang Gunung Kunyit pada dasarnya berangkat dari pertanyaan sederhana, mengapa masyarakat sudah menggunakan kawasan ini, sementara penataannya belum mengikuti perkembangan aktivitas masyarakat?

Seri pertama mengangkat fenomena warga yang datang subuh-subuh untuk berendam di laut.

Seri berikutnya mencoba menguji klaim kesehatan yang muncul dari pengalaman warga. Bukan untuk membenarkan bahwa air laut menyembuhkan penyakit, tetapi justru untuk menempatkan fenomena tersebut secara lebih rasional: apa sebenarnya yang membuat masyarakat merasa mendapatkan manfaat?

Kemudian penelusuran bergeser ke kondisi kawasan.

Di sana terlihat bagaimana masyarakat secara spontan membangun ekonomi kecil. Ada warung, parkir, penyewaan pelampung dan jasa sederhana lainnya.

Dari rangkaian itu muncul sebuah kesimpulan yang semakin kuat:

Gunung Kunyit sudah hidup. Yang belum selesai adalah penataannya.

Karena itu, masuknya isu pesisir dan waterfront city ke forum seminar nasional hari ini merupakan perkembangan yang layak dicatat.

Bukan berarti Nomics.ID mengklaim tulisan-tulisan tersebut menyebabkan Gunung Kunyit dibahas dalam forum ini.

Tidak.

Tetapi media memang memiliki fungsi untuk membawa sesuatu yang terlihat kecil di lapangan menjadi pertanyaan publik yang lebih besar.

Dan sekarang pertanyaan itu bertemu dengan agenda resmi penataan pesisir.

Jangan sampai waterfront city hanya menjadi proyek fisik

Di sinilah diskusinya harus dibuat lebih serius.

Waterfront city tidak boleh dimaknai hanya sebagai pembangunan jalan, gedung, hotel, pusat komersial atau ruang publik yang cantik menghadap laut.

Jika konsep itu hendak diterapkan di kawasan Gunung Kunyit, pemerintah perlu menjawab lebih banyak pertanyaan.

Siapa yang menikmati manfaat ekonominya? Bagaimana masyarakat sekitar dilibatkan?

Bagaimana aktivitas yang sudah tumbuh secara informal ditata tanpa dimatikan? Bagaimana akses publik ke laut dipertahankan? Bagaimana sanitasi dan air bersih disediakan? Bagaimana lingkungan pesisir dilindungi?

Dan yang tak kalah penting, apakah Gunung Kunyit akan menjadi ruang publik atau sekadar kawasan properti baru?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena posisi Gunung Kunyit sangat strategis.

Kawasan ini berdekatan dengan pusat aktivitas ekonomi dan kawasan properti Bandar Lampung. Di sekitarnya telah tumbuh pusat perdagangan, hotel dan apartemen.

Jika ditata dengan benar, kawasan reklamasi tersebut bukan hanya dapat menjadi ruang terbuka di tepi laut, tetapi juga dapat menciptakan rantai ekonomi baru bagi masyarakat.

Namun jika salah desain, ia berisiko menjadi kawasan yang indah secara visual tetapi kehilangan fungsi sosialnya.

Apa yang terjadi setiap subuh di Gunung Kunyit sesungguhnya adalah sebuah bentuk demand yang sangat sederhana.

Mereka membutuhkan ruang untuk beraktivitas, bersosialisasi, menikmati laut dan melakukan kegiatan rekreatif.

Mereka bahkan bersedia membayar iuran kecil untuk parkir dan menyewa fasilitas sederhana.

Artinya, sebelum pemerintah berbicara tentang investasi besar, masyarakat sebenarnya sudah memberikan sinyal bahwa kawasan tersebut memiliki nilai.

Tugas pemerintah bukan menciptakan kehidupan dari nol. Kehidupan itu sudah ada. Tugasnya adalah membuatnya aman, sehat, tertata dan bernilai ekonomi tanpa menghilangkan akses publik.

Inilah yang seharusnya menjadi salah satu roh pembicaraan waterfront city.

Seminar hari ini harus menjadi awal

Kehadiran Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sebagai keynote speaker, bersama para insinyur, akademisi dan praktisi dalam seminar “Menata Pesisir”, membuka ruang untuk membawa persoalan Gunung Kunyit ke level yang lebih strategis.

Sebab Gunung Kunyit tidak lagi cukup dibicarakan sebagai kawasan reklamasi yang belum selesai.

Ia harus dilihat sebagai bagian dari masa depan wajah pesisir Bandar Lampung.

Apalagi tema seminar secara eksplisit berbicara tentang mewujudkan Waterfront City untuk Lampung Maju.

Di titik inilah rangkaian pemberitaan Nomics.ID menemukan babak berikutnya.

Kami telah melihat Gunung Kunyit dari bawah, dari subuh, dari jalan berbatu, dari warung warga, dari orang-orang yang datang berendam, dari tukang parkir, dan dari aktivitas ekonomi kecil yang tumbuh tanpa desain pemerintah.

Kini saatnya melihatnya dari atas, bagaimana pemerintah merancang masa depannya.

Sebab kalau masyarakat sudah lebih dahulu menghidupkan Gunung Kunyit, jangan sampai pembangunan justru datang untuk mematikan kehidupan itu.

Gunung Kunyit sudah hidup.

Kini, masa depannya sedang diperdebatkan.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *