BANDARLAMPUNG — Potensi Lampung sebagai pintu gerbang internasional semakin nyata. Dengan pembukaan rute penerbangan Lampung–Kuala Lumpur oleh TransNusa, provinsi ini memiliki peluang menampung sekitar 20.000–50.000 wisatawan Malaysia setiap bulan. Angka ini bukan sekadar target, tetapi indikator nyata yang membutuhkan strategi terukur agar terwujud.
Untuk mencapai angka itu, Lampung perlu mengadopsi pendekatan promosi yang terencana dan konsisten. Contohnya, Bali berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan Malaysia dengan kampanye digital dan offline terfokus di Kuala Lumpur dan Singapura. Paket wisata Bali dikemas menarik, dengan promosi multi-platform yang menyasar pasar spesifik. Lampung bisa mencontoh strategi ini dengan memadukan alam, budaya, kuliner, dan wisata religi dalam paket promosi yang mudah diakses.
Selain itu, Lampung bisa menargetkan segmen khusus, misalnya jamaah umrah. Dengan sekitar 24 ribu jamaah per tahun, provinsi ini berpotensi membuat paket gabungan umrah-wisata, mirip strategi Aceh, yang menggabungkan wisata religi dan budaya untuk turis Timur Tengah. Hasilnya, lama tinggal dan pengeluaran wisatawan meningkat signifikan.
Promosi saja tidak cukup, sebab wisatawan membutuhkan akses dan kenyamanan. Lampung perlu memastikan transportasi bandara ke hotel hingga destinasi wisata terintegrasi, layanan informasi multi-bahasa tersedia, dan proses check-in/pembelian paket wisata mudah melalui aplikasi digital.
Contoh keberhasilan lain adalah Yogyakarta yang berhasil meningkatkan kunjungan mancanegara dengan memperkuat integrasi transportasi dan layanan digital pariwisata. Lampung dapat menerapkan konsep serupa untuk memastikan wisatawan merasa nyaman dan ingin kembali.
Agar strategi ini berkelanjutan, Lampung bisa membentuk Badan Promosi Wisata Internasional Lampung atau “Lampung Tourism Hub”. Fungsi utamanya mengkoordinasi para pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah, travel agent, maskapai, hotel, dan stakeholder lokal.
Lampung Tourism Hub juga harus menyusun kalender promosi tahunan berbasis data wisatawan dan mengelola paket wisata dan kampanye digital untuk pasar internasional.
Model ini meniru keberhasilan Bali Tourism Board dan Jakarta Tourism and Culture Office, yang memiliki tim khusus untuk promosi internasional. Dengan kelembagaan yang kuat, setiap program promosi, paket wisata, dan kegiatan misi pembangunan bisa lebih fokus, terukur, dan berkelanjutan.
Keberhasilan semua strategi tersebut bergantung pada data akurat terkait tren wisatawan Malaysia, musiman, dan preferensi.Kolaborasi lintas sektor antar maskapai, travel agent, hotel, UMKM, pemerintah menjadi kunci utama peningkatan wisatawan berkelanjutan. Untuk itu perlu kontinuitas rencana tahunan dengan target jelas, evaluasi berkala, dan penyesuaian strategi sesuai data aktual.
Dengan kombinasi promosi terintegrasi, fasilitas optimal, kelembagaan tersendiri, dan perencanaan berbasis data, Lampung bisa menembus target 50.000 wisatawan Malaysia per bulan, sekaligus menghidupkan ekonomi lokal, meningkatkan mobilitas warga, dan memperkuat posisi Bandara Radin Inten II sebagai gerbang internasional yang benar-benar bermanfaat.(IWA)
