Lampung Punya Kakao, Mengapa “Rumah Coklat” Terkenal Justru Ada di Kuala Lumpur?

@i-nomics

Di Kuala Lumpur, cokelat dijual sebagai kebanggaan nasional. Di Lampung, kakao masih sering berhenti sebagai hasil panen. Beberapa tahun lalu, di sebuah “Rumah Coklat” yang ramai turis di Kuala Lumpur, saya mendengar keterangan yang terasa seperti tamparan. Diterangkan, bahwa sebagian bahan baku rumah cokekat di KL didatangkan dari Lampung. Saat itu juga, manis di lidah berubah menjadi pahit. Sialan! Kita  menanam, tetapi orang lain yang membangun ikonnya.

Di bagian depan saya disuguhnya cokelat berbagai bentuk. Gratis. Dari sana, saya dihalau ke dalam, ke showroom yang tidak luas-luas amat. Saya melihat rak-rak cokelat tertata rapi. Kemasannya elegan, harganya berkali-kali lipat dari harga biji kakao di kampung-kampung pesisir dan perbukitan Sumatra. Turis berfoto, kasir sibuk, merek mereka melekat kuat sebagai oleh-oleh khas Malaysia. Lalu, di bagian belakang saya diarahkan untuk melihat kebon kakao yang hanya beberapa batang.

Dari tiga lokasi itu, saya menyimpulkan Malaysia cerdas membangun cerita, mengolah bahan mentah menjadi identitas, lalu menjadikannya mesin ekonomi. Padahal, mereka tidak memiliki rantai pasok yang memadai di dalam negeri. Kesadaran saya mulai terganggu, jika bijinya bisa berasal dari tanah kita, mengapa kebanggaannya tidak ikut tumbuh di tanah yang sama?

Lampung bukan pemain kecil. Sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra kakao di Sumatra. Petani menjemur biji di halaman rumah, menimbang hasil panen dengan cermat, berharap harga sedang baik. Namun rantai nilai sering berhenti di sana. Biji dijual, dibawa keluar daerah, diekspor, diolah, dikemas, diberi cerita, dan kembali kepada kita dalam bentuk produk premium dengan harga yang tak lagi ramah bagi petaninya sendiri.

Di “Rumah Coklat” itu, saya membayangkan perjalanan panjang sebuah biji. Dari kebun yang panas dan lembap, ke gudang pengumpul, ke pelabuhan, menyeberang laut, lalu masuk ke pabrik modern dengan mesin pengolah, tim kreatif pemasaran, dan strategi branding yang matang. Nilai tambah tumbuh di setiap tahap setelah ia meninggalkan kebun. Di situlah jarak antara produsen bahan mentah dan pemilik merek menjadi begitu terasa.

Ini bukan soal iri pada Malaysia. Ini soal keberanian kita membangun ekosistem hilirisasi yang serius. Soal kemauan untuk tidak berhenti pada ekspor biji. Soal kebijakan yang memihak pengolahan, pembiayaan UMKM cokelat, riset fermentasi, standardisasi mutu, hingga penciptaan merek yang konsisten dan membanggakan. Kita sering berbicara tentang potensi, tetapi potensi tanpa pengolahan hanyalah janji yang terus ditunda.

Saya keluar dari gedung itu membawa sekotak cokelat sebagai oleh-oleh. Rasanya enak, kemasannya cantik. Namun di kepala saya tinggal satu pertanyaan yang terus mengganggu, sampai kapan kita puas menjadi kebun bagi kejayaan orang lain? Jika kakao bisa tumbuh subur di Lampung, seharusnya kebanggaan dan nilai tambahnya juga bisa tumbuh di sana, bukan hanya manisnya yang kita kirim, tetapi juga namanya yang kita banggakan.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *