Palembang sebelumnya tidak dikenal sebagai kota wisata utama, justru mampu membangun daya tarik melalui penataan kawasan
BANDAR LAMPUNG — Ketua Dewan Kehormatan Kadin Lampung, Yusuf Kohar,menilai pembangunan pariwisata di Lampung belum menunjukkan arah yang kuat dan terukur seperti yang dilakukan Sumatera Selatan, khususnya di Palembang.
Menurutnya, Palembang secara sadar membangun daya tarik kota. Kawasan Sungai Musi ditata, Jembatan Ampera dijadikan ikon utama, dan Masjid Agung Palembang diperkuat sebagai landmark religi. Pembangunan tidak setengah-setengah. Ikon diperbesar, kawasan dipercantik, dan identitas kuliner dipasarkan secara konsisten.
Sumsel ia nilai berhasil membumikan pempek, burgo, lakso, celimpungan dan laksan sebagai kuliner daerah, dan menjadikan kue kering dan basah khas Palembang serta buah-buahan dan hasil perkebunan menjadi penyumbang PDRB andalan.
Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan, sepanjang 2025 Sumatera Selatan mencatat sekitar 26 juta perjalanan wisatawan nusantara. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang berada di kisaran 55 persen pada akhir tahun, dengan rata-rata lama menginap (RLM) sekitar 1,3–1,4 malam.
Lampung pada periode yang sama mencatat sekitar 24,7 juta perjalanan wisata. Secara jumlah, tidak terpaut jauh. Namun TPK hotel berbintang sempat berada di kisaran 43 persen dan naik mendekati 54 persen di akhir tahun. Rata-rata lama menginap masih di kisaran 1,2–1,3 malam.
Artinya jelas: wisatawan datang, tetapi belum cukup lama tinggal.
Padahal lama menginap adalah kunci dampak ekonomi. Jika RLM Lampung naik hanya 0,5 malam saja, dengan asumsi 24,7 juta perjalanan dan belanja rata-rata Rp800 ribu per malam, tambahan perputaran ekonomi bisa mendekati Rp10 triliun per tahun. Dengan PDRB Lampung sekitar Rp450–500 triliun, itu setara hampir 2 persen tambahan dorongan ekonomi.
Angka itu bukan kecil. Itu bisa berarti tambahan pajak hotel dan restoran, lapangan kerja baru, serta penguatan daya beli masyarakat.
Kohar menegaskan, yang dibutuhkan Lampung bukan sekadar angka kunjungan, tetapi strategi agar wisatawan tinggal lebih lama dan belanja lebih banyak. Ia mendorong kolaborasi nyata antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk membangun ikon kawasan, memperkuat event, dan menata destinasi secara serius.
“Gerakannya belum terlihat kuat. Padahal potensi ada. Lampung jangan hanya menjadi daerah transit, tetapi harus menjadi destinasi yang membuat orang datang dan menetap lebih lama,” tegasnya. (iwa)
