@i-nomics
Sejak kapan kita berhenti bertanya siapa yang benar-benar menulis berita yang kita baca setiap hari? Nama media terpampang, jurnalis tercantum, redaksi bekerja, tetapi di balik itu semua, ada pertanyaan yang jarang diajukan, siapa yang sebenarnya mengendalikan arah narasi?
Pers seharusnya lahir dari kegelisahan, dari dorongan untuk menguji dan membongkar. Pers, sesuai marwahnya, bekerja dengan kecurigaan, bukan kepatuhan. Namun hari ini, banyak berita terasa terlalu rapi, terlalu selaras, terlalu patuh pada satu irama yang sama. Seolah-olah realitas telah diedit sebelum sampai ke tangan publik.
Pers hari ini tidak lagi berhadapan dengan kekurangan informasi, melainkan kelebihan narasi yang seragam. Membosankan, membodohkan.
Ruang publik dipenuhi kata-kata, tetapi miskin perbedaan. Semua terlihat seperti berita, tetapi tidak semua bekerja sebagai jurnalistik. Ada yang lebih menyerupai hasil kurasi, dipilih, disusun, dan diarahkan untuk memastikan satu kesan tetap utuh.
Di sanalah logika public relations mengambil alih secara halus, tidak memaksa, tidak juga melarang. Pemberitaan cenderung hanya mengarahkan, memilih mana yang ditampilkan, mana yang ditunda, dan mana yang cukup disampaikan setengah. Biar tampak henat, maka fakta tidak dihilangkan, cukup diposisikan. Realitas tidak dibantah, tetapi dibingkai dengan apik meski terasa tidak logis.
Ketika logika ini meresap ke dalam kerja pers, batas antara mengabarkan dan mengarahkan menjadi kabur. Pers tidak lagi berdiri sebagai penguji, melainkan sebagai pengalir, amplifier. Pers menyampaikan, tetapi tanpa menggugat. Memuat, tetapi enggan membongkar.
Akibatnya, opini publik tidak lagi terbentuk dari benturan gagasan, melainkan dari pengulangan persepsi. Publik merasa mengetahui banyak hal, padahal yang mereka miliki hanyalah serpihan narasi yang telah disusun agar tampak utuh. Apa yang sering didengar dianggap benar, bukan karena teruji, tetapi karena terus-menerus diperdengarkan.
Inilah kekacauan yang paling sunyi, ketika ruang publik tampak penuh, tetapi sesungguhnya kosong dari pertarungan makna. Tidak ada yang benar-benar diperdebatkan, karena hampir semua sudah diarahkan. Tidak ada yang benar-benar dipertanyakan, karena kerangka berpikirnya telah disediakan.
Dalam kondisi seperti ini, pers tidak lagi menjadi cermin, melainkan layar. Ia tidak memantulkan realitas, tetapi menayangkan versi yang telah diproduksi. Dan publik, tanpa sadar, menjadi penonton yang mengira sedang menyaksikan kenyataan.
Padahal, tugas pers bukan menayangkan, melainkan menyingkap. Ia harus membuka apa yang ditutup, mempertanyakan apa yang dianggap selesai, dan merusak kenyamanan yang terlalu cepat diterima sebagai kebenaran.
Karena itu, pertanyaan di awal bukan sekadar retoris. Ia adalah kunci untuk membaca ulang seluruh lanskap informasi yang kita hadapi hari ini. Jika yang menulis bukan lagi sepenuhnya yang mengendalikan, maka yang kita hadapi bukan sekadar perubahan peran, melainkan pergeseran kuasa.
Dan ketika kuasa atas narasi berpindah tangan, pers tidak lagi kehilangan bentuknya. Ia kehilangan maknanya, kehilangan marwah yang seharusnya dijaga. (iwa)
