Bandar Lampung -Tekanan terhadap petani singkong ternyata masih berlanjut akibat impor produk turunan singkong ke Indonesia pada 2026. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan kepada petani di daerah sentra produksi seperti Lampung, yang selama ini menjadi tulang punggung bahan baku industri tapioka nasional.
Di lapangan, petani menyebut harga singkong kerap tidak stabil dan cenderung tertekan saat pasokan industri lebih banyak mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Dalam kondisi tertentu, harga di tingkat petani dilaporkan berada dalam tekanan dan tidak sebanding dengan biaya produksi, terutama saat panen raya.
Sementara itu, impor produk turunan singkong tetap berlangsung untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Negara pemasok utama yang selama ini dominan antara lain Thailand dan Vietnam, yang memiliki industri tapioka terintegrasi dengan skala besar dan biaya produksi lebih efisien.
Data perdagangan internasional menunjukkan bahwa Indonesia masih melakukan impor pada kelompok HS 1108 (starches), termasuk HS 11081400 yang mencakup pati singkong atau tapioka. Namun, rincian data impor per komoditas pada periode Januari–Maret 2026 tidak dipublikasikan secara terbuka dalam rilis ringkasan Badan Pusat Statistik, melainkan hanya tersedia dalam basis data teknis perdagangan.
Kondisi ini membuat jejak impor pati singkong tidak selalu terlihat dalam laporan publik tingkat daerah, meski secara sistem pencatatan nasional tetap berlangsung dalam data perdagangan resmi.
Di sisi lain, tekanan paling nyata terjadi di daerah produsen seperti Lampung. Petani berada pada posisi paling lemah dalam rantai pasok. Biaya produksi meningkat, sementara harga jual sangat dipengaruhi kebijakan industri dan dinamika pasar global.
Sejumlah pihak, termasuk Nomics.Id, menilai kondisi ini mencerminkan ketimpangan struktural dalam tata niaga singkong nasional. Sepertnya lartas tidak berjalan semestinya. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas, petani dikhawatirkan terus berada dalam tekanan akibat kombinasi harga global, dominasi industri, dan lemahnya perlindungan pasar domestik.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa Lampung menghadapi tekanan sistemik. Produksi tinggi di daerah, namun nilai tambah dan arah pasar lebih banyak ditentukan oleh struktur industri dan arus perdagangan global.(iwa)
Berita Terkait: https://nomics.id/2026/04/14/lampung-produksi-thailand-yang-menentukan-harga-di-balik-rantai-impor-tapioka-dan-tekanan-ke-petani-singkong/
