BPS Provinsi Lampung mencatat kinerja perdagangan luar negeri pada Januari–Maret 2026 menunjukkan pola yang kontras. Ekspor melemah, impor turun lebih tajam, namun neraca perdagangan tetap mencatat surplus tinggi.
@Iwa Perkasa
Nilai ekspor tercatat US$1.380,87 juta, turun 12,24 persen dibandingkan periode yang sama 2025 (US$1.573,52 juta). Pada Maret 2026, ekspor mencapai US$388,42 juta, turun 32,81 persen (yoy).
Tekanan utama berasal dari komoditas berbasis pertanian, terutama kopi, teh, dan rempah-rempah yang turun 50,64 persen, disusul karet (-29,41 persen) dan ampas industri makanan (-31,25 persen). Sebaliknya, beberapa komoditas menunjukkan penguatan, seperti bahan kimia organik yang naik 162,14 persen, serta produk olahan sayur dan buah yang naik 27,79 persen.
Secara struktur, ekspor masih didominasi industri pengolahan (73,72 persen), sementara pertanian (12,84 persen) menjadi sumber kontraksi terdalam, turun 49,90 persen. Ini menegaskan bahwa tekanan ekspor lebih bersifat komoditas, bukan industri pengolahan.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat (US$209,37 juta) tetap terbesar meski turun 18,93 persen, sementara Tiongkok (US$194,72 juta) tumbuh kuat 55,93 persen, menunjukkan pergeseran sebagian permintaan ke Asia Timur. Secara agregat, ekspor ke negara utama turun 6,20 persen menjadi US$1.222,07 juta.
Sementara itu, impor mengalami kontraksi jauh lebih dalam, yakni US$316,86 juta pada Januari–Maret 2026 atau turun 54,00 persen dari US$688,83 juta. Penurunan terutama dipicu oleh anjloknya impor migas (-93,50 persen), sementara nonmigas justru naik 25,77 persen menjadi US$286,91 juta. Ini menunjukkan perubahan struktur impor, bukan semata pelemahan permintaan.
Dalam kelompok penggunaan, bahan baku/penolong masih dominan (71,94 persen) namun turun signifikan, barang konsumsi turun 72,28 persen, sedangkan barang modal melonjak 836 persen. Lonjakan ini mengindikasikan investasi berbasis proyek, namun belum mencerminkan ekspansi luas sektor produksi.
Impor terbesar berasal dari Amerika Serikat (US$94,02 juta), diikuti Tiongkok dan Australia, dengan konsentrasi pada negara utama mencapai 94,98 persen dari total impor.
Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan Lampung tetap mencatat surplus US$1.064,00 juta pada Januari–Maret 2026, dengan surplus Maret sebesar US$263,20 juta. Namun secara kebijakan, surplus ini lebih ditopang oleh penurunan impor yang tajam (-54,00 persen) dibanding penguatan ekspor.
Secara kebijakan ekonomi, terdapat tiga implikasi utama.
Pertama, ekspor masih rentan terhadap komoditas primer yang sensitif terhadap harga global.
Kedua, penurunan impor migas perlu dibaca sebagai perubahan struktur input ekonomi yang perlu verifikasi lebih lanjut.
Ketiga, lonjakan barang modal menunjukkan indikasi investasi, tetapi masih bersifat tidak merata dan berbasis proyek. Dengan demikian, kinerja perdagangan Lampung menunjukkan fase penyesuaian struktural, bukan ekspansi penuh, meskipun posisi neraca eksternal tetap kuat.*****
