BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan kembali arah pembangunan ekonomi daerah yang kini difokuskan pada hilirisasi pertanian berbasis desa, sebagai upaya menghentikan kebocoran nilai tambah dari sektor unggulan Lampung.
Selama ini, sejumlah komoditas utama seperti singkong, jagung, dan padi sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk mentah, sehingga margin keuntungan lebih banyak dinikmati di luar daerah. Dalam kerangka itu, pemerintah provinsi mendorong perubahan model ekonomi desa,dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku pengolahan.
“Desa tidak boleh hanya menghasilkan, tetapi juga mengolah. Di situlah nilai tambah tercipta,” ujar Mirza saat pelantikan DPD Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Merah Putih Lampung, Selasa (5/5/2026).
Untuk menopang strategi tersebut, intervensi diarahkan pada dua titik kritis rantai produksi: peningkatan produktivitas dan penguatan pascapanen. Di sisi hulu, distribusi pupuk organik cair (POC) gratis ditujukan untuk mendorong kenaikan hasil panen. Sementara di sisi hilir, pemerintah menargetkan distribusi 500 unit alat pengering (dryer) hingga 2028, agar proses awal pengolahan dapat dilakukan langsung di desa.
Kebijakan ini dinilai krusial untuk memutus pola lama, di mana komoditas dijual dalam kondisi basah dengan harga rendah, lalu memperoleh nilai tambah di luar wilayah produksi.
Namun demikian, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh bantuan alat, melainkan juga kesiapan kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa. Dalam konteks ini, Mirza menempatkan kepala desa sebagai aktor kunci transformasi ekonomi lokal.
“Kepala desa harus menjadi penggerak. Tanpa kepemimpinan di tingkat desa, hilirisasi tidak akan berjalan,” tegasnya.
Pemerintah provinsi juga mendorong integrasi program desa dengan agenda nasional, termasuk skema makan bergizi gratis, yang membuka peluang bagi desa untuk menjadi pemasok bahan baku sekaligus pusat aktivitas ekonomi baru.
Dengan pendekatan tersebut, desa diarahkan tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan sebagai basis produksi dan pengolahan yang terhubung dengan pasar.
Pelantikan DPD Apdesi Merah Putih Lampung dilakukan oleh Asep Anwar Sadat, dengan Lekat Dulah Adi Putra sebagai ketua. Organisasi ini diharapkan menjadi simpul konsolidasi desa dalam mendukung agenda hilirisasi dan penguatan ekonomi lokal.(IWA)
