Beberapa bulan lalu, banyak orang mulai bersiap menghadapi El Nino.
Prediksinya cukup mengkhawatirkan, bakal ada kemarau lebih panjang, suhu meningkat, air berkurang, hingga ancaman gangguan pangan. Mei 2026 bahkan sempat disebut sebagai awal kemunculannya.
Namun sampai pertengahan bulan ini, cuaca justru terasa ganjil.
Siang hari panasnya mulai terasa menusuk. Tetapi sore masih sering turun hujan. Langit seperti belum benar-benar memutuskan, tetap basah atau mulai kering.
El Nino pun terasa datang setengah hati.
Dalam bahasa sederhana, ia masih malu-malu kucing.
Secara ilmiah, pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik memang mulai terbentuk. Tetapi belum cukup kuat untuk langsung mengubah pola musim secara drastis di Indonesia.
Akibatnya, yang muncul bukan kemarau penuh, melainkan musim yang terasa membingungkan.
Petani mulai ragu menentukan waktu tanam. Sebagian daerah mulai mengering, sementara wilayah lain masih diguyur hujan. Cuaca berubah cepat, sering tanpa pola yang mudah ditebak.
Dan mungkin di situlah tantangan sebenarnya.
Karena yang paling sulit bukan hanya panas atau kekeringan, melainkan ketidakpastian.
Dunia sendiri mulai memberi perhatian serius. El Nino hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia datang di tengah suhu bumi yang terus meningkat akibat pemanasan global.
Ketika dua hal itu bertemu, dampaknya bisa menjalar ke mana-mana: produksi pangan terganggu, harga naik, kebutuhan energi meningkat, hingga risiko krisis air membesar.
Indonesia sejauh ini memang belum merasakan tekanan El Nino besar. Tetapi tanda-tandanya mulai muncul perlahan.
Karena itu, situasi sekarang mungkin bukan tentang El Nino yang gagal datang.
Melainkan El Nino yang belum sepenuhnya membuka pintu.(iwa)
