Surplus Perdagangan Lampung Naik 24 Persen Meski Ekspor Masih Melemah

Bandar Lampung – Neraca perdagangan Provinsi Lampung menunjukkan ketahanan yang kuat pada awal 2026. Meski nilai ekspor masih mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, surplus perdagangan justru meningkat lebih dari 24 persen seiring turunnya impor secara signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat surplus neraca perdagangan Lampung selama Januari-April 2026 mencapai US$1.396,20 juta, meningkat 24,32 persen dibandingkan surplus periode yang sama tahun lalu sebesar US$1.123,09 juta.

Kenaikan surplus tersebut terjadi di tengah melemahnya ekspor. Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor Lampung tercatat US$1.885,46 juta, turun 2,09 persen dibandingkan Januari-April 2025 yang mencapai US$1.925,68 juta.

Sebaliknya, impor mengalami kontraksi yang jauh lebih dalam. Nilai impor Lampung turun dari US$802,59 juta menjadi US$489,26 juta, atau menyusut 39,04 persen secara tahunan.

Secara nominal, impor berkurang US$313,33 juta, sementara ekspor hanya turun US$40,22 juta. Perbedaan laju penurunan tersebut menjadi faktor utama yang mendorong membesarnya surplus perdagangan Lampung.

Dari sisi komponen, penurunan impor terutama berasal dari kelompok migas. Nilai impor migas selama Januari-April 2026 tercatat US$35,17 juta, turun drastis dibandingkan US$463,36 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, impor migas menyusut 92,41 persen atau berkurang sekitar US$428,19 juta dalam empat bulan pertama tahun ini.

Sementara itu, impor nonmigas justru tumbuh positif. Nilainya meningkat dari US$339,22 juta menjadi US$454,10 juta, atau naik 33,86 persen dibandingkan Januari-April 2025.

Di sisi ekspor, sektor industri pengolahan tetap menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Lampung. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$1.382,81 juta, meningkat 12,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menyumbang 73,34 persen dari total ekspor daerah.

Sebaliknya, sektor pertanian mengalami tekanan cukup besar. Nilai ekspor sektor pertanian turun dari US$437,34 juta menjadi US$228,34 juta, atau merosot 47,79 persen secara tahunan.

Pada level komoditas, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai US$889,42 juta atau berkontribusi 47,17 persen terhadap total ekspor Lampung. Nilai ekspor kelompok ini meningkat 13,57 persen dibandingkan Januari-April 2025.

Sementara kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah mengalami penurunan terdalam di antara komoditas utama ekspor. Nilainya turun dari US$429,91 juta menjadi US$221,86 juta, atau menyusut 48,40 persen.

BPS juga mencatat surplus perdagangan Lampung pada April 2026 mencapai US$332,19 juta, berasal dari nilai ekspor sebesar US$504,59 juta dan impor sebesar US$172,40 juta.

Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan surplus perdagangan Lampung pada awal 2026 lebih banyak ditopang oleh kontraksi impor, khususnya impor migas, dibandingkan oleh peningkatan kinerja ekspor. Di sisi lain, industri pengolahan tetap menjadi penyangga utama ekspor daerah ketika sektor pertanian mengalami tekanan cukup dalam.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *