Bandar Lampung – Penurunan impor Provinsi Lampung pada awal 2026 menyimpan cerita yang berbeda di balik angka utamanya. Meski nilai impor tercatat turun tajam 39,04 persen dibandingkan tahun lalu, struktur impor justru menunjukkan pergeseran dari migas menuju barang modal dan komoditas nonmigas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat nilai impor Lampung selama Januari-April 2026 mencapai US$489,26 juta, turun 39,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$802,59 juta.
Penurunan tersebut hampir seluruhnya dipicu oleh merosotnya impor migas. Selama Januari-April 2026, nilai impor migas tercatat hanya US$35,17 juta, jauh lebih rendah dibandingkan US$463,36 juta pada periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian, impor migas turun 92,41 persen atau berkurang sekitar US$428,19 juta.
Sebaliknya, impor nonmigas justru tumbuh signifikan. Nilainya meningkat dari US$339,22 juta pada Januari-April 2025 menjadi US$454,10 juta pada periode yang sama tahun ini, atau naik 33,86 persen.
Perubahan tersebut mengubah peta impor Lampung. Jika pada Januari-April 2025 impor migas masih mendominasi lebih dari separuh total impor daerah, maka pada Januari-April 2026 porsi terbesar justru berasal dari barang nonmigas.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada kelompok barang modal. BPS mencatat impor barang modal mencapai US$92,70 juta sepanjang Januari-April 2026, melonjak dari US$11,92 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Secara tahunan, kenaikan impor barang modal mencapai 677,75 persen, menjadikannya kelompok penggunaan barang dengan pertumbuhan tertinggi selama empat bulan pertama tahun ini.
Meski demikian, kelompok bahan baku dan barang penolong masih menjadi penyumbang terbesar impor Lampung. Nilainya mencapai US$386,69 juta atau setara 79,04 persen dari total impor. Sementara barang modal berkontribusi 18,94 persen, sedangkan barang konsumsi hanya 2,02 persen.
Pada level komoditas, lonjakan terbesar terjadi pada kelompok kereta api, trem, dan bagiannya. Nilai impor komoditas ini meningkat dari hanya US$0,11 juta pada Januari-April 2025 menjadi US$66,71 juta pada Januari-April 2026.
Selain itu, impor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya juga naik dari US$16,31 juta menjadi US$29,37 juta, atau tumbuh 80,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sektor penunjang produksi, impor pupuk meningkat dari US$57,57 juta menjadi US$67,32 juta, atau naik 16,95 persen.
Dari sisi negara asal, Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar barang impor ke Lampung dengan nilai US$122,77 juta. Posisi berikutnya ditempati Thailand sebesar US$61,84 juta, Australia sebesar US$58,23 juta, dan Tiongkok senilai US$51,69 juta.
Meski impor secara total menurun, data menunjukkan penurunan tersebut terutama berasal dari berkurangnya impor migas. Pada saat yang sama, impor nonmigas dan barang modal justru meningkat, mengindikasikan terjadinya pergeseran struktur belanja impor Lampung pada awal 2026.
Perubahan struktur tersebut turut menopang kinerja perdagangan luar negeri daerah. Selama Januari-April 2026, Lampung membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,396 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus US$1,123 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.(iwa)
