Ekspor Pertanian Lampung Anjlok 47,79 Persen, Tergerus Kejatuhan Kopi dan Rempah

Bandar Lampung – Ekspor sektor pertanian Lampung kehilangan devisa sebesar US$209 juta hanya dalam empat bulan pertama 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menunjukkan nilai ekspor sektor ini anjlok 47,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring merosotnya ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah hingga hampir separuhnya.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Lampung yang dirilis 2 Juni 2026, nilai ekspor sektor pertanian sepanjang Januari-April 2026 tercatat sebesar US$228,34 juta, turun dari US$437,34 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Pelemahan sektor pertanian tersebut menjadi faktor utama yang menahan kinerja ekspor Lampung secara keseluruhan. Selama Januari-April 2026, total ekspor Provinsi Lampung mencapai US$1,885 miliar, turun 2,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,926 miliar.

Data BPS menunjukkan penurunan sektor pertanian terjadi seiring merosotnya ekspor kelompok komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah. Nilai ekspor kelompok komoditas ini hanya mencapai US$221,86 juta selama Januari-April 2026, turun 48,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$429,91 juta.

Secara nominal, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah berkurang US$208,05 juta, hampir setara dengan total penurunan ekspor sektor pertanian yang mencapai US$209 juta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan sektor pertanian Lampung pada awal tahun terutama terjadi bersamaan dengan merosotnya ekspor komoditas perkebunan tersebut.

Meski sektor pertanian tertekan, sejumlah komoditas utama Lampung justru mencatat pertumbuhan. Ekspor lemak dan minyak hewan atau nabati, yang menjadi komoditas terbesar daerah ini, naik 13,57 persen dari US$783,18 juta menjadi US$889,42 juta.

Komoditas tersebut menyumbang 47,17 persen dari total ekspor Lampung selama Januari-April 2026. Sementara kontribusi kopi, teh, dan rempah-rempah menyusut menjadi 11,77 persen.

Di level sektoral, industri pengolahan semakin mengukuhkan posisinya sebagai penopang utama ekspor Lampung. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$1,382 miliar, meningkat 12,14 persen dibandingkan Januari-April 2025 yang sebesar US$1,233 miliar.

Sektor pertambangan dan lainnya juga tumbuh 7,50 persen, dari US$255,18 juta menjadi US$274,31 juta.

Perubahan tersebut menggeser struktur ekspor Lampung. Jika pada Januari-April 2025 sektor pertanian masih berkontribusi 22,71 persen terhadap total ekspor daerah, maka pada Januari-April 2026 porsinya menyusut menjadi 12,11 persen.

Sebaliknya, kontribusi industri pengolahan meningkat dari 64,04 persen menjadi 73,34 persen, sementara sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 14,55 persen.

Meski secara kumulatif masih mengalami penurunan, kinerja ekspor Lampung mulai menunjukkan pemulihan pada April 2026. Nilai ekspor bulan tersebut mencapai US$504,59 juta, naik 43,29 persen dibandingkan April 2025 yang sebesar US$352,16 juta, serta meningkat 29,91 persen dibandingkan Maret 2026 yang sebesar US$388,42 juta.

Selama Januari-April 2026, tiga negara tujuan ekspor terbesar Lampung adalah Amerika Serikat dengan nilai US$290,01 juta, Tiongkok sebesar US$234,92 juta, dan Pakistan senilai US$175,84 juta.

Di tengah tekanan pada sektor pertanian, Lampung masih membukukan surplus perdagangan yang besar. Selama Januari-April 2026, neraca perdagangan tercatat surplus US$1,396 miliar, ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$1,431 miliar.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *