Mirza: Masa Depan Lampung Ada di Ruang Kelas, Bukan di Kantor Gubernur

BANDARLAMPUNG — Setelah hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 meningkat hampir 10 persen dan mulai digunakan sebagai instrumen evaluasi sekolah, Pemerintah Provinsi Lampung kini mengirimkan pesan yang lebih besar kepada dunia pendidikan, bahwa masa depan daerah tidak lagi diukur dari banyaknya program pemerintah, melainkan dari kualitas lulusan yang lahir dari ruang kelas.

Pesan itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Evaluasi Program dan Kinerja serta Penyusunan Rencana Strategis Tahun 2027 bagi SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Lampung di Hotel Soeltan Luxe, Kamis (4/6/2026).

Di hadapan ratusan kepala sekolah, Mirza secara tegas mengatakan bahwa arah pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 bertumpu pada kualitas sumber daya manusia.

Namun berbeda dari pidato pembangunan pada umumnya, Mirza justru memindahkan pusat tanggung jawab itu dari kantor pemerintahan ke ruang-ruang kelas.

“Masa depan Provinsi Lampung itu bukan di tangan kantor Gubernur Lampung atau Dinas Pendidikan. Masa depan Lampung ada di ruang kelas Bapak dan Ibu sekalian. Maju tidaknya, makmur tidaknya Lampung ke depan ditentukan oleh bagaimana kita mendidik anak-anak hari ini,” kata Mirza.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di sektor pendidikan Lampung.

Dalam beberapa bulan terakhir, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mulai menggunakan data capaian pendidikan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri meningkat. Sejumlah sekolah mencatat tingkat kelulusan PTN mendekati sempurna. Bahkan hasil SNBT mulai disiapkan menjadi instrumen evaluasi kepala sekolah, guru, hingga cabang dinas pendidikan.

Perubahan itu menandai bergesernya paradigma pendidikan Lampung dari sekadar administrasi menuju pengukuran berbasis hasil.

Karena itu, ketika Mirza berbicara tentang masa depan Lampung yang berada di ruang kelas, yang dimaksud bukan sekadar slogan pendidikan.

Pernyataan tersebut menjadi legitimasi politik atas arah baru yang sedang dibangun: setiap sekolah harus mampu menunjukkan dampak nyata terhadap masa depan siswanya.

Mirza menilai selama ini Lampung memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari sektor pertanian, perkebunan hingga industri pangan. Namun kekayaan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan kesejahteraan yang optimal.

Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kualitas manusia yang mengelolanya.

Karena itu, pembangunan pendidikan ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza juga menyoroti masih rendahnya angka lulusan SMA sederajat yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Saat ini angka partisipasi pendidikan tinggi Lampung baru berada di kisaran 22 persen, masih tertinggal dibanding rata-rata nasional yang mencapai sekitar 28 persen.

Kondisi tersebut membuat peningkatan akses menuju perguruan tinggi menjadi salah satu target strategis pemerintah daerah.

“Alhamdulillah, ada sekolah kita yang berhasil meluluskan 100 persen siswanya ke perguruan tinggi negeri. Bahkan ada yang mencapai 99 persen, dan satu siswa lainnya langsung bekerja di Korea Selatan. Ini menjadi gambaran arah pendidikan Lampung ke depan,” ujarnya.

Karena itu, Pemprov Lampung tidak hanya memberikan target, tetapi juga mulai memberikan penghargaan kepada sekolah yang mampu menunjukkan hasil.

Kepala sekolah yang berhasil mengantarkan seluruh siswanya diterima di perguruan tinggi negeri memperoleh penghargaan khusus dari gubernur. Bentuk apresiasi tersebut menjadi simbol bahwa prestasi pendidikan kini memperoleh tempat yang lebih penting dalam agenda pembangunan daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico menegaskan bahwa seluruh capaian pendidikan ke depan harus dapat diukur dan dipertanggungjawabkan berdasarkan data.

Menurut Thomas, pihaknya tidak ingin keberhasilan pendidikan berhenti pada laporan administratif yang terlihat baik di atas kertas.

Sebaliknya, setiap capaian harus memiliki bukti yang nyata dan terukur.

“Saya ingin di masa kepemimpinan ini lahir perubahan yang nyata. Prestasi yang diraih harus sesuai fakta, sesuai metadata, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Thomas.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa arah pendidikan Lampung kini tidak lagi hanya berbicara tentang program, melainkan tentang kinerja yang dapat diverifikasi.

Mulai dari jumlah siswa yang lolos PTN, angka putus sekolah, kualitas layanan pendidikan, hingga inovasi yang dihasilkan sekolah akan menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

Dengan demikian, rapat yang digelar hari ini sesungguhnya bukan sekadar agenda evaluasi tahunan.

Ia menandai lahirnya fase baru pendidikan Lampung: ketika data mulai diterjemahkan menjadi kebijakan, prestasi mulai dihubungkan dengan akuntabilitas, dan masa depan daerah secara terbuka diletakkan di pundak sekolah, guru, serta kepala sekolah yang setiap hari bekerja di ruang kelas.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *