BANDARLAMPUNG — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung mulai menyiapkan mekanisme evaluasi berlapis terhadap sekolah-sekolah berdasarkan capaian Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Evaluasi tersebut tidak hanya dilakukan di tingkat provinsi, tetapi akan melibatkan Kantor Cabang Dinas (Cabdin), kepala bidang teknis, pengawas sekolah, hingga satuan pendidikan itu sendiri.
Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico mengatakan peningkatan jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri pada 2026 harus menjadi titik awal untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara lebih merata di seluruh daerah. Jumlah siswa Lampung yang lolos SNBT tahun ini mencapai 5.184 orang, naik hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun bagi Disdikbud, angka tersebut tidak berhenti sebagai laporan statistik tahunan.
Data SNBT akan dibedah hingga tingkat sekolah untuk mengetahui faktor yang membuat suatu sekolah berhasil meningkatkan jumlah lulusan yang diterima PTN dan faktor yang menyebabkan sekolah lain tertinggal.
“Kita seriusi ini dengan koordinasi total dimulai dari sekolah sampai ke tim teknis di provinsi. Tujuannya agar kita bisa memperoleh informasi presisi apa hambatan dan kemajuan yang sudah dicapai sekolah sehingga jumlah lulusan SNBT terus meningkat dan merata,” kata Thomas, Kamis (04/06/2026).
Menurutnya, proses evaluasi akan melibatkan Cabdin di masing-masing wilayah karena unit tersebut merupakan struktur yang paling dekat dengan kondisi sekolah sehari-hari.
Cabdin akan berperan melakukan pengawasan, pembinaan, serta menyampaikan rekomendasi berdasarkan kondisi riil di lapangan. Hasilnya kemudian menjadi bahan pembahasan bersama bidang-bidang teknis di Disdikbud Provinsi Lampung.
Dengan pola tersebut, pemerintah tidak hanya melihat angka kelulusan PTN, tetapi juga berusaha menemukan akar persoalan yang memengaruhi capaian sekolah.
Apakah kendalanya berada pada kualitas pembelajaran, pemetaan potensi siswa, strategi pendampingan menghadapi SNBT, distribusi guru, manajemen sekolah, atau faktor lain yang selama ini tidak terbaca dalam laporan administratif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Disdikbud Lampung yang dalam beberapa tahun terakhir mulai menempatkan prestasi siswa sebagai salah satu indikator utama keberhasilan kepemimpinan sekolah. Thomas sebelumnya juga menegaskan kepala sekolah tidak boleh hanya berorientasi pada administrasi, tetapi harus mampu menghadirkan peningkatan mutu dan prestasi peserta didik.
Karena itu, evaluasi yang akan dilakukan tidak dimaksudkan sebagai mekanisme mencari kesalahan.
Sebaliknya, evaluasi dirancang untuk memetakan praktik-praktik terbaik yang berhasil dilakukan sekolah-sekolah dengan capaian tinggi agar dapat direplikasi di daerah lain.
Langkah tersebut menjadi penting karena data PTN 2026 menunjukkan kualitas pendidikan Lampung mulai menyebar ke luar pusat kota. Sekolah-sekolah daerah seperti SMAN 1 Tegineneng mampu mencatat tingkat penerimaan PTN yang sangat tinggi dan bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan di perkotaan.
Dengan demikian, isu yang sedang dibangun Disdikbud Lampung bukan lagi sekadar berapa banyak siswa yang lolos SNBT.
Isu berikutnya adalah bagaimana data kelulusan itu diterjemahkan menjadi instrumen pembinaan, sehingga keberhasilan tidak hanya terjadi di beberapa sekolah, tetapi menyebar ke seluruh wilayah Lampung.(iwa)
