Gigih Gubernur Mencari Jalan Baru untuk Lampung

Gigih Gubernur Mencari Jalan Baru untuk Lampung. Dari pembangunan jalan dan jembatan, hilirisasi gabah lewat bed dryer, hingga penebaran bibit ikan di Mesuji, rangkaian program ini menunjukkan arah baru pembangunan Lampung yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

@Iwa Perkasa

Tidak semua perubahan lahir dari proyek raksasa. Sebagian justru dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana: sebuah jembatan di desa, mesin pengering gabah di tengah sawah, atau benih ikan yang dilepas ke sungai.

Dalam beberapa hari terakhir, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal seolah sedang menyusun kepingan-kepingan kecil itu menjadi satu cerita besar tentang masa depan Lampung.

Ia berada di Mesuji, salah satu kabupaten yang selama ini kerap dipandang sebagai daerah pinggiran. Di sana, ia meresmikan Jembatan Garuda, melepas 33 ribu bibit ikan ke Sungai Mesuji, meluncurkan program bed dryer, dan berbicara tentang jalan-jalan yang harus dibangun.

Sekilas, semua itu tampak seperti agenda pemerintahan biasa.

Padahal, jika dirangkai, semuanya memperlihatkan arah baru pembangunan Lampung.

Jalan baru itu dimulai dari sebuah kesadaran bahwa daerah ini tidak boleh terus bertumbuh dengan cara lama.

Selama bertahun-tahun, banyak wilayah di Lampung hidup dengan persoalan yang sama. Infrastruktur terbatas membuat biaya logistik tinggi. Hasil pertanian dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah mengalir ke luar daerah, sementara petani dan masyarakat desa hanya menikmati bagian paling kecil dari rantai ekonomi.

Karena itulah, pembangunan jembatan dan jalan menjadi penting.

Jembatan bukan hanya penghubung dua daratan.

Ia menghubungkan kesempatan. Mempersingkat jarak antara petani dan pasar, antara anak desa dan sekolah, antara masyarakat dan pelayanan publik.

Begitu pula dengan jalan. Di atas peta, ia hanya berupa garis. Tetapi dalam kehidupan nyata, jalan menentukan apakah sebuah daerah dapat bergerak cepat atau tertinggal.

Namun, konektivitas saja tidak cukup. Lampung juga harus mengubah cara memandang kekayaannya sendiri.

Kalimat Mirza, “Jangan lagi gabah basah keluar dari Lampung,” mungkin merupakan salah satu pesan ekonomi paling penting tahun ini.

Kalimat itu sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang gabah.

Ia berbicara tentang keberanian untuk keluar dari jebakan lama sebagai pemasok bahan mentah.

Selama ini, petani Lampung menanam padi, tetapi nilai tambahnya sering dinikmati daerah lain. Gabah dikeringkan di luar daerah, digiling di luar daerah, dan dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi.

Karena itu, bed dryer bukan sekadar mesin pengering. Ia adalah simbol perubahan cara berpikir.

Lampung tidak lagi ingin sekadar menghasilkan, tetapi juga mengolah. Tidak lagi hanya menjadi pengirim bahan baku, tetapi juga pencipta nilai tambah.

Lalu ada penebaran puluhan ribu bibit ikan di Sungai Mesuji.

Pembangunan yang baik memang selalu memiliki keberanian untuk berpikir jauh ke depan.

Benih-benih itu tidak akan memberi hasil hari ini atau besok. Tetapi suatu saat nanti, ia akan menjadi sumber pangan dan penghidupan bagi masyarakat.

Pembangunan, pada hakikatnya, adalah kesediaan untuk menanam sesuatu yang hasilnya mungkin dinikmati oleh generasi berikutnya.

Jika seluruh kegiatan itu diringkas, maka benang merahnya sangat jelas.

Membangun akses. Menciptakan nilai tambah. Menjaga keberlanjutan.

Tiga hal itulah yang tampaknya sedang dicari Lampung sebagai jalan baru pembangunannya.

Tentu, pekerjaan masih sangat panjang. Masih ada jalan yang rusak, desa yang tertinggal, dan petani yang menunggu kesejahteraan benar-benar hadir di rumah mereka.

Namun, arah itu mulai terlihat. Lampung tampaknya tidak lagi ingin sekadar dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya.

Lampung ingin menjadi daerah yang mampu menghubungkan potensinya, mengolah kekayaannya, dan memastikan manfaatnya kembali kepada rakyatnya sendiri.

Karena seorang pemimpin tidak dikenang karena banyaknya proyek yang diresmikan. Ia dikenang karena berhasil menemukan jalan yang membuat masyarakatnya bisa melangkah lebih jauh daripada dirinya.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *