Dulu, di titik itu, sebuah kendaraan pendamping proyek terjebak dalam kubangan lumpur sedalam hampir 70 sentimeter. Roda-roda mobil tenggelam, mesin meraung sia-sia, dan kendaraan itu tak mampu bergerak. Peristiwa itu seolah menjadi penanda betapa beratnya medan yang selama puluhan tahun. Dan, lihatlah foto di atas, Gubernur Mirza telah menginjak titik lubang berlumpur itu dengan sangat nyaman.
@Iwa Perkasa
Kemarin, di titik yang sama, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berdiri bersama Bupati Tulang Bawang Qudrotul Ikhwan, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung M Taufiqullah, serta kepala kampung setempat.
Mereka berdiri tepat sebelum sebuah tikungan, memandang hamparan jalan yang mulai mengeras. Di tempat yang dulu menelan kendaraan, kini berdiri para pemimpin daerah, menandai bahwa sebentar lagi jalan provinsi itu akan diresmikan setelah puluhan tahun menjadi penantian warga.
Tak ada lagi kendaraan yang terjebak. Tak ada lagi roda yang berputar sia-sia di atas lumpur. Yang terlihat kini adalah badan jalan yang mulai terbentuk dan harapan yang perlahan menemukan wujudnya.
Pemandangan itu seperti metafora bagi Rawa Jitu sendiri, tentang tahun-tahun panjang jalan berlumpur dan berlubang, dan penampakan wajah penuh debu tebal ketika kemarau datang.
Kini, jalan itu telah menemukan jalannya. Jalan yang menghubungkan, membuka keterisolasian, tanpa perlu “bertebaldebu” saat naik sepeda motor.
Sempurna, jalan itu sudah beraspal dan beton, menjadi urat nadi kehidupan. Dipastikan akan banyak senyum yang mengembang, ketika petani menjual hasil panennya ke pasar, ketika anak-anak pergi ke sekolah dan ibu-ibu memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.
Semua orang tahu bawah selama lebih dari 30 tahun, perjalanan dari Kampung Sumber Agung menuju Aji Mesir identik dengan perjuangan. Menempuh jarak yang tidak seberapa bisa menghabiskan waktu hingga satu jam karena kendaraan harus berjibaku dengan lubang dan lumpur.
Kini, perjalanan yang sama dapat ditempuh hanya dalam lima menit.
Perubahan itu dimulai pada April 2026, ketika pembangunan ruas Gedong Aji-Umbul Mesir akhirnya dimulai. Ruas Rawa Jitu-Umbul Mesir sepanjang 5,6 kilometer yang selama ini menjadi titik terparah, kini memasuki tahap akhir peningkatan kualitas dan akan dibangun dengan konstruksi beton atau rigid pavement.
“Yang tadinya satu jam dari Sumber Agung sampai Aji Mesir, sekarang lima menit sudah nyampe,” ujar salah seorang kepala kampung.
Bahkan sebelum pekerjaan selesai sepenuhnya, dampaknya sudah mulai terasa. Nilai tanah di sepanjang koridor jalan dilaporkan meningkat. Distribusi hasil pertanian menjadi lebih cepat, biaya angkut mulai menurun, dan denyut ekonomi perlahan bergerak.
Di daerah yang selama puluhan tahun hidup di ujung lumpur, jalan akhirnya kembali menjalankan fungsi paling dasarnya: menghubungkan.
Dan ketika Gubernur Mirza berdiri di atas jalan yang dulu sempat menelan kendaraan itu, yang sesungguhnya sedang ia lihat bukan hanya proyek infrastruktur yang hampir rampung. Ia sedang menyaksikan berakhirnya penantian panjang sebuah kawasan yang selama tiga dekade merasa tertinggal dari pembangunan.
Sebab bagi warga Rawa Jitu, jalan ini bukan sekadar jalan.
Jalan itu adalah bukti bahwa setelah tiga dekade dibiarkan berlumpur, mereka akhirnya menemukan jalannya. Ini juga menegaskan bahwa program pemantapan jalan Lampung menuju sempurna. *****
