Lampung Mendadak Inggris? Ternyata Bumi Ruwa Jurai Pernah Berada di Bawah Pemerintahan Inggris

Euforia Piala Dunia 2026 membuat warganet “Lampung Mendadak Inggris”. Ternyata, candaan itu memiliki jejak sejarah. Lampung pernah berada di bawah pemerintahan Inggris pada 1811–1816 saat Thomas Stamford Raffles memimpin Hindia Belanda. Dukungan semakin menguat setelah Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, beberapa kali secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Inggris.

@Iwa Perkasa

Selama beberapa hari terakhir, media sosial di Lampung dipenuhi euforia yang tak biasa. Setiap kemenangan Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 disambut antusias. Foto Harry Kane, Jude Bellingham, hingga selebrasi para pemain The Three Lions berseliweran di berbagai platform.

Padahal, sebelumnya Inggris tak banyak dibicarakan, apalagi diunggulkan. The Three Lions baru ramai dibicarakan setelah Inggris “mengusir” pulang  Meksiko pada laga babak 16 besar. Nomics menurunkan laporan laga dramatis tersebut dengan menuliskan pesan Marindo yang ia sampaikan dengan mengunggah emoji api menyala setelah Inggris menang dramatis 3-2. Unggahan itu hanya berisi satu kata.

“Congrats!”

Unggahan sederhana itu langsung mengundang berbagai komentar. Ada yang ikut merayakan kemenangan Inggris, ada pula yang berseloroh bahwa “Inggris sudah pindah ke Lampung.”

Namun siapa sangka, candaan tersebut ternyata memiliki jejak sejarah.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa lebih dari dua abad lalu, Lampung memang pernah berada dalam masa pemerintahan Inggris.

Sejarah Indonesia mencatat, pada 1811 Inggris berhasil mengambil alih Hindia Belanda setelah menaklukkan kekuatan Belanda di Pulau Jawa.

Sejak saat itu hingga 1816, pemerintahan kolonial di wilayah Hindia Belanda berada di bawah kendali Inggris dengan Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur.

Ketika Raffles memimpin pemerintahan tersebut, wilayah Lampung ikut berada dalam administrasi Inggris.

Masa itu memang hanya berlangsung sekitar lima tahun sebelum wilayah Nusantara dikembalikan kepada Belanda berdasarkan hasil Konvensi London 1814 dan proses penyerahan yang selesai pada 1816.

Meski singkat, periode tersebut menjadi salah satu bab penting yang jarang dibahas dalam sejarah Lampung.

Banyak masyarakat mengenal Raffles sebagai pendiri Singapura atau penulis The History of Java. Padahal, pengaruh pemerintahannya juga menjangkau wilayah Sumatra bagian selatan, termasuk Lampung.

Lada Lampung yang Diburu Inggris

Alasan Inggris memberi perhatian terhadap Lampung bukan semata soal wilayah.

Yang jauh lebih penting adalah lada.

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Lampung merupakan salah satu penghasil lada terbesar di dunia. Komoditas ini menjadi “emas hitam” pada zamannya dan sangat dibutuhkan pasar Eropa.

Lada Lampung diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan di pesisir timur maupun barat Sumatra sebelum dikirim ke berbagai negara.

Bagi Inggris yang saat itu membangun jaringan perdagangan global dari India hingga Tiongkok, Lampung menjadi wilayah yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.

Karena itulah para pedagang Inggris sudah lama mengenal Lampung bahkan sebelum Raffles memimpin pemerintahan di Hindia Belanda.

Hubungan Inggris dengan Lampung pada masa itu lebih banyak dibangun melalui jalur perdagangan daripada kolonisasi langsung.

Kedekatan Lampung dengan Bengkulu juga menjadi faktor penting.

Sebelum mendirikan Singapura pada 1819, Raffles pernah menjabat sebagai Lieutenant Governor of Bencoolen atau Gubernur Bengkulu, yang saat itu merupakan pusat kekuasaan Inggris di pantai barat Sumatra.

Dari Bengkulu, Inggris mengembangkan jaringan perdagangan yang menjangkau wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk Lampung.

Secara geografis, kedua wilayah dipisahkan oleh Pegunungan Bukit Barisan, tetapi dihubungkan oleh kepentingan ekonomi yang sama.

Lada menjadi komoditas utama yang mempertemukan pedagang, penguasa kolonial, dan masyarakat lokal.

Lampung juga memiliki posisi yang sangat strategis.

Wilayah ini berada tepat di pintu masuk Selat Sunda, salah satu jalur pelayaran internasional paling penting pada masa itu.

Bagi kapal-kapal Inggris yang berlayar dari India menuju Tiongkok atau sebaliknya, Selat Sunda merupakan rute yang sangat vital.

Menguasai kawasan di sekitar selat berarti menguasai salah satu jalur perdagangan dunia.

Karena itulah Inggris selalu memberi perhatian terhadap perkembangan politik dan ekonomi di Lampung.

Dua abad kemudian, hubungan Lampung dengan Inggris tentu sudah sangat berbeda.

Tidak lagi melalui kapal dagang, lada, ataupun administrasi kolonial.

Kini Inggris hadir melalui sepak bola.

Perjalanan The Three Lions di Piala Dunia 2026 membuat banyak warga Lampung ikut larut dalam euforia. Kemenangan dramatis atas Meksiko di babak 16 besar menjadi salah satu pemicunya.

Apalagi dukungan terhadap Inggris juga datang dari sejumlah tokoh daerah, termasuk Marindo Kurniawan, yang konsisten menunjukkan simpatinya kepada tim asuhan Thomas Tuchel.

Fenomena itu membuat media sosial dipenuhi warna putih dan merah khas Inggris.

Candaan bahwa “Lampung mendadak Inggris” pun terus bermunculan.

Tentu saja, Lampung hari ini tidak memiliki hubungan politik dengan Inggris.

Namun sejarah menunjukkan bahwa Bumi Ruwa Jurai pernah menjadi bagian dari wilayah yang dikelola pemerintahan Inggris selama periode 1811–1816. Lampung juga telah lama menjadi mitra penting dalam jaringan perdagangan Inggris melalui komoditas lada dan letaknya yang strategis di Selat Sunda.

Karena itu, ketika media sosial ramai menyebut “Lampung Mendadak Inggris”, kalimat tersebut memang lahir dari euforia sepak bola.

Tetapi di balik candaan itu, tersimpan sebuah fakta sejarah yang sering terlupakan, yaitu  jauh sebelum Harry Kane mencetak gol dan Jude Bellingham memikat dunia, Inggris ternyata sudah lebih dulu meninggalkan jejaknya di tanah Lampung. Dan, hari ini tampaknya telah mengubah sudut pandang Marindo Kurniawan.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *