Pemerintah Provinsi Lampung mulai mengarahkan strategi pembangunan ekonomi menuju sektor yang lebih berkelanjutan. Salah satunya dengan membuka peluang investasi ekonomi sirkular, sebuah model pembangunan yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
@Iwa Perkasa

Langkah tersebut ditandai melalui audiensi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dengan penyelenggara Indonesia Circular Innovation Forum (ICIF) – Netherlands Business Mission 2026 di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (29/7/2026).
Pertemuan itu membahas peluang Lampung menjadi Official Strategic Province Partner pada ICIF 2026 yang akan berlangsung di Amsterdam, Belanda, pada 3–4 November 2026.
Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan investasi ekonomi sirkular?
Dari Limbah Menjadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi
Berbeda dengan pola ekonomi konvensional yang menghasilkan limbah setelah proses produksi dan konsumsi, ekonomi sirkular mendorong agar bahan baku, produk, dan limbah dapat dimanfaatkan kembali melalui proses penggunaan ulang, perbaikan, hingga daur ulang. Tujuannya adalah memperpanjang nilai ekonomi suatu sumber daya sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Karena itu, investasi ekonomi sirkular merupakan penanaman modal pada industri atau teknologi yang mampu mengubah limbah menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah.
Contohnya adalah pengolahan limbah sawit menjadi energi biomassa, sekam padi menjadi bahan bakar atau biochar, limbah kopi menjadi pupuk organik, hingga pengolahan sampah plastik menjadi bahan baku industri.
Model investasi seperti ini tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan sumber daya alam dan pengurangan emisi karbon.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai provinsi ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri hijau berbasis biomassa.
Menurutnya, Lampung memiliki sumber daya melimpah berupa limbah pertanian, seperti limbah kelapa sawit, sekam padi, limbah kopi, dan berbagai jenis biomassa lainnya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Apabila diolah menggunakan teknologi yang tepat, limbah tersebut dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari energi terbarukan, biochar, pupuk organik, hingga bahan baku industri.
Mirza juga menegaskan bahwa berbagai proyek pengembangan energi baru terbarukan dan industri hijau yang tengah berjalan akan menjadi fondasi penting bagi percepatan transformasi ekonomi Lampung.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri tetap harus menjaga keseimbangan dengan keberlanjutan sektor pertanian sebagai kekuatan utama perekonomian daerah.
Membuka Jalan Menuju Pasar Eropa
Project Director ICIF, Rizky Diansyah, menjelaskan bahwa Indonesia Circular Innovation Forum bukan sekadar pameran teknologi.
Forum tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara pemerintah daerah, investor, pelaku usaha, penyedia teknologi, lembaga riset, dan mitra bisnis dari Indonesia maupun Eropa.
Amsterdam dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi sirkular di dunia sekaligus pintu masuk menuju pasar Uni Eropa.
Menurut Rizky, ICIF akan mempertemukan proyek-proyek strategis Lampung dengan investor serta penyedia teknologi dari Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.
Selain membuka peluang investasi, forum ini juga diharapkan melahirkan kolaborasi riset, transfer teknologi, serta percepatan hilirisasi biomassa.
Penyelenggara bahkan menilai Lampung memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai Provinsi Biochar Indonesia, mengingat besarnya potensi biomassa yang dimiliki dan komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan industri hijau.
Apabila menjadi mitra strategis resmi, Lampung akan memperoleh kesempatan mempresentasikan berbagai proyek unggulan daerah melalui innovation showcase, business matching, forum investasi, hingga pertemuan langsung dengan calon investor Eropa.
Delegasi daerah juga akan mendapatkan pendampingan terkait aspek hukum, investasi, serta akses terhadap jejaring bisnis internasional.
ICIF 2026 sendiri mengusung tema “From Waste to Worth: Building the Future of Sustainable Industry Together.”
Forum tersebut akan menampilkan inovasi pada sektor biomassa, material hayati, kemasan berkelanjutan, produk daur ulang, pertanian sirkular, material bangunan ramah lingkungan, hingga teknologi pengolahan limbah.
Target akhirnya adalah melahirkan kemitraan bisnis yang konkret sekaligus membuka akses perusahaan Indonesia ke pasar Eropa.
Bagi Pemerintah Provinsi Lampung, keikutsertaan dalam ICIF bukan sekadar menghadiri forum internasional.
Lebih dari itu, forum ini menjadi peluang memperkuat posisi Lampung sebagai Green Province yang mampu mengembangkan investasi berbasis keberlanjutan.
Jika investasi ekonomi sirkular berhasil masuk, manfaatnya tidak hanya berupa tambahan modal. Hilirisasi komoditas pertanian dapat dipercepat, limbah pertanian memperoleh nilai ekonomi baru, lapangan kerja di sektor industri hijau bertambah, dan daya saing produk Lampung di pasar global semakin meningkat.
Dengan kata lain, ekonomi sirkular menawarkan pendekatan pembangunan yang tidak lagi memandang limbah sebagai beban, melainkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.*****
