SURAT UNTUK TAN MALAKA

Surat untuk Tan Malaka

Sepucuk surat dari seorang anak bangsa yang muak, kepada seorang pemikir yang tak pernah selesai dikhianati

@Iwa Perkasa

Selamat Hari Kemerdekaan, Bung, dari seseorang yang masih berusaha merdeka dalam hati, seperti yang kau ajarkan untuk tidak pernah berhenti diperjuangkan.

Bung,

Izinkan saya memanggilmu begitu, seperti orang-orang sezamanmu dulu memanggilmu. Bukan sebagai pahlawan yang sudah dibekukan dalam patung dan nama jalan, tapi sebagai kawan bicara yang masih hidup pikirannya, meski jasadmu entah di mana dikuburkan di rimba Kediri sana.

Aku menulis surat ini di tahun ke-81 kemerdekaan yang kau perjuangkan setengah hidupmu untuk merebutnya, dan sisanya untuk mempertanyakan apakah ia sungguh-sungguh direbut atau hanya dipindahtangankan. Aku menulis untuk mengatakan satu hal , bahwa kau benar, Bung. Nyaris semua yang kau tulis, kau benar.

Kau menolak kemerdekaan yang setengah-setengah. Kau bilang, merdeka itu 100%, atau jangan mengaku merdeka sama sekali. Waktu itu orang-orang mungkin menganggapmu keras kepala, tidak mau berkompromi, terlalu radikal untuk zamannya. Tapi hari ini aku hidup di negeri yang katanya sudah merdeka delapan dekade lebih, dan aku menyaksikan sendiri kemerdekaan yang tidak tuntas itu. Dan kau benar Bung, itu memang berbahaya karena membawa celah, dan di celah itulah orang-orang lama dengan wajah baru, jabatan baru, seragam baru kembali menjajah dari dalam.

Kau menulis Madilog, mengajak bangsa ini berpikir materialis, dialektis, logis. Berpikir dengan akal sehat, bukan mistik, bukan feodalisme yang membungkuk pada kekuasaan tanpa bertanya. Aku ingin bilang padamu, Bung, mistik itu belum juga pergi. Ia hanya berganti baju. Sekarang orang membungkuk bukan pada keris atau jimat, tapi pada jabatan, pada kekuasaan yang dianggap sakral, pada pejabat yang dianggap tidak boleh dipertanyakan.

Feodalisme yang kau lawan dulu, kini hidup lagi dalam bentuk yang lebih halus, dibungkus rapat oleh birokrasi, oleh seremoni kenegaraan, oleh pidato-pidato yang hafal kata “rakyat” tapi lupa wajah rakyatnya.

Aku melihat pejabat-pejabat yang tahu betul kapan harus berdiri tegak saat lagu kebangsaan dinyanyikan, tapi tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kapan harus malu ketika anggaran rakyat masuk ke kantong sendiri. Mereka merayakan hari yang kau perjuangkan, sambil diam-diam mengkhianati apa yang kau maksud dengan kata “merdeka”.

Kau pernah menulis bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan dari penindasan, termasuk penindasan oleh bangsa sendiri terhadap bangsanya sendiri. Aku kira, Bung, ramalanmu soal penindasan oleh bangsa sendiri itu yang paling menyakitkan.

Maka aku menulis surat ini bukan sekadar untuk mengaminimu dari kejauhan, tapi karena aku butuh nasihatmu. Sungguh-sungguh butuh.

Bagaimana caranya tetap waras, Bung, ketika yang kau lawan bukan lagi penjajah berseragam asing yang jelas musuhnya, tapi penjajah yang wajahnya mirip kita, bicara bahasa kita, bahkan mengutip pidatomu di podium-podium resmi sambil melakukan yang sebaliknya?

Bagaimana melawan sesuatu yang tidak lagi punya batas jelas antara kawan dan lawan, karena keserakahan itu bisa tumbuh di tubuh siapa saja, termasuk mereka yang dulu kita percaya?

Kau memilih jalan yang sunyi dan sering disalahpahami. Difitnah oleh kawan seperjuangan sendiri, dikhianati partaimu sendiri, dan akhirnya mati ditembak oleh bangsa yang kau perjuangkan kemerdekaannya, tanpa pengadilan, tanpa kejelasan. Kalau ada orang yang punya alasan sah untuk sinis pada bangsa ini, kaulah orangnya. Tapi anehnya, tulisan-tulisanmu tidak berhenti pada sinisme. Kau terus menulis, terus berpikir, terus percaya pada rakyat kecil meski dikhianati oleh elite yang mengaku mewakili mereka.

Barangkali di situ nasihatmu, meski kau tidak sempat menuliskannya khusus untukku. Bahwa perlawanan tidak selalu berbentuk revolusi bersenjata. Kadang perlawanan itu sesederhana menolak ikut membungkuk pada kekuasaan yang tidak pantas dihormati. Menolak diam ketika keserakahan dirayakan sebagai kewajaran. Tetap menulis, tetap berpikir jernih tentang Madilog di tengah kabut mistik kekuasaan hari ini, meski suara kita kecil dan sunyi seperti suaramu dulu sebelum sejarah akhirnya mengakui kau benar.

Aku tidak tahu apakah bangsa ini akan sungguh-sungguh merdeka seperti yang kau bayangkan, 100%, tuntas, tanpa sisa penjajahan dalam bentuk apa pun. Tapi aku tahu satu hal, selama masih ada orang yang gelisah membaca ulang tulisanmu dan merasa malu pada keadaan, berarti api yang kau nyalakan itu belum benar-benar padam.

Terima kasih, Bung, sudah menulis lebih jujur. Aku akan mencoba melanjutkan bagian kecilkuĀ  menjadi merdeka dalam hati, sebelum berani menuntut kemerdekaan yang lebih besar dari orang lain.

Dengan hormat dan rindu pada pikiranmu yang belum selesai,

Seseorang yang masih percaya pada Indonesia, meski sedang muak dengannya.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *