Ketika Gawai Mengalahkan Buku, Rektor UIN RIL Ajak Kampus Kembali ke Perpustakaan

Bandar Lampung — Ada satu kalimat yang terasa menusuk di tengah gegap gempita Gebyar Literasi Nasional di lobi Perpustakaan UIN Raden Intan Lampung, Senin (21/9), yakni sebuah kondisi di mana masyarakat kini jauh lebih sering menatap layar telepon genggam ketimbang membuka lembar buku. Rektor Prof. H. Wan Jamaluddin Z. yang melontarkannya, dan ironisnya, ia menyampaikannya justru di tempat yang paling berkepentingan melawan tren itu, yaitu perpustakaan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Dr. Evi Fatmawati

Keresahan itu ternyata bukan hal baru. Selasa pekan lalu, di kantornya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Dr. Evi Fatmawati, kepada Nomics juga menyatakan bahwa gawai kini benar-benar mengalahkan buku dalam keseharian masyarakat.

Bertema “Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa; Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”, acara yang digagas UPT Perpustakaan bersama Forum Literasi Lampung ini menjadi relevan dan penrting untuk menjawab tantangan tersebut.

Nomics menangkap, acara tersebut tidak dirancang untuk sekadar seremoni pembukaan gedung atau pameran buku, melainkan ruang untuk menjawab langsung keresahan kolektif tentang budaya baca-tulis yang mesti diupayakan tumbuh di tengah gempuran notifikasi dan scroll tanpa henti.

Untuk menjawab itu, Rektor Prof. H. Wan Jamaluddin Z punya cara sendiri meyakinkan audiens. Bukan dengan teori, melainkan pengalaman studinya  ketika di Saint Petersburg, Rusia. Ia mengenang  saat itu sebagian besar waktunya justru dihabiskan di perpustakaan kampus, fakultas, hingga lembaga-lembaga ilmiah.

“Jika ingin menguasai dunia, maka alatnya satu, keterampilan membaca,” tegasnya, sembari menambahkan catatan penting bahwa bukan sekadar membaca asal-asalan, melainkan membaca sumber yang memberi data, memperluas wawasan, dan mempertajam analisis.

Rektor tidak berhenti pada anjuran membaca. Ia mendorong lompatan lebih jauh, dari pembaca pasif menjadi penulis aktif. Tema besar acara ini ia terjemahkan sebagai dua sisi mata uang, membaca melatih mata dan merangsang otak berpikir aktif, sementara menulis menjadi sarana menuangkan hasil pikiran agar bisa dibagikan ke dunia.

Ia juga menyinggung aksara Lampung sebagai bukti bahwa bangsa ini sejak dulu sudah punya fondasi literasi sendiri, jauh sebelum gawai mengambil alih perhatian generasi hari ini.

Bagi Dr. Evi Fatmawati, yang hadir mewakili Bunda Literasi Provinsi Lampung Purnama Wulan Sari Mirza, pengakuannya pekan lalu bukan sekadar keluhan. Ia mendorong agar perpustakaan justru semakin dekat dengan masyarakat, sebagai langkah konkret membalikkan tren yang sudah ia amati dari balik meja kerjanya. Evi berharap lahir generasi literasi yang inspiratif dan pemuda Lampung berwawasan luas, bukan generasi yang tenggelam dalam layar.

Kepala UPT Perpustakaan UIN RIL, Dr. Eni Amaliah

Kepala UPT Perpustakaan, Dr. Eni Amaliah, yang juga Ketua Forum Literasi Lampung, melihat persoalan ini sebagai tanggung jawab bersama, bukan urusan satu lembaga.

Kolaborasi lintas pihak dalam acara ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Duta Baca Indonesia Gol A Gong, hingga perwakilan Dinas Pendidikan dari 15 kabupaten/kota se-Lampung, ia posisikan sebagai jawaban atas tren yang sama.

“Kalau gawai menang sendirian, maka melawannya pun perlu dilakukan bersama-sama.”

Menurutnya, kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya memenuhi komponen akreditasi UPT Perpustakaan, khususnya melalui kolaborasi dengan mitra.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *