Pertumbuhan ekonomi Lampung terlihat baik-baik saja. Angkanya stabil di kisaran 5 persen, bahkan termasuk yang cukup tinggi di Sumatra. Di atas kertas, ini seharusnya menjadi kabar baik bahwa ekonomi bergerak, aktivitas meningkat, dan peluang semestinya terbuka. Namun di lapangan, cerita yang muncul justru berbeda.
@Iwa Perkasa
Peluang kerja masih terasa sempit, kualitas pekerjaan belum banyak berubah, dan bagi sebagian anak muda, masa depan justru terlihat lebih jelas di luar daerah. Ada jarak yang nyata antara angka pertumbuhan dan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Kesenjangan ini bukan sekadar persepsi. Dalam pengukuran Badan Riset dan Inovasi Nasional, posisi daya saing Lampung masih berada di kelompok menengah nasional. Artinya, Lampung tidak tertinggal, tetapi juga belum cukup kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan yang menarik investasi besar dan menciptakan peluang kerja berkualitas secara luas.
Masalah utamanya terletak pada struktur ekonomi. Lampung masih bertumpu pada sektor primer, pertanian dan komoditas, yang memang menopang pertumbuhan, tetapi memiliki keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah tinggi. Ekonomi tumbuh, tetapi sebagian besar masih berada di level produksi dasar.
Akibatnya, dampak pertumbuhan tidak menyebar secara maksimal.
Data ketenagakerjaan memperlihatkan pola yang sama. Tingkat pengangguran relatif rendah, tetapi didominasi oleh sektor informal. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan tersedia, namun banyak yang bersifat tidak tetap, berproduktivitas rendah, dan dengan pendapatan yang terbatas. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti peningkatan kesejahteraan.
Di sisi lain, rantai nilai ekonomi Lampung belum terbentuk kuat. Komoditas unggulan seperti kopi dan singkong masih banyak dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah terbesar justru tercipta di luar daerah, di tempat di mana industri pengolahan berkembang lebih matang. Biji kopi Lampung terbang ke Jawa Timur, kembali ke Lampung sudah siap seduh.
Di titik inilah daya saing menjadi penjelasan kunci.
Keterbatasan kualitas sumber daya manusia, belum optimalnya infrastruktur ekonomi, serta ekosistem industri yang belum terbentuk kuat membuat Lampung belum mampu “menahan” nilai ekonomi agar tetap berputar di dalam daerah. Dampaknya sederhana tapi nyata, yaitu peluang kerja berkualitas terbatas, dan mobilitas keluar daerah menjadi pilihan yang rasional.
Namun demikian, arah perbaikan mulai terlihat. Upaya hilirisasi perlahan didorong, terutama pada komoditas unggulan, sebagai langkah untuk meningkatkan nilai tambah di dalam daerah. Pada saat yang sama, pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan yang semakin masif mulai membuka akses ekonomi yang sebelumnya terhambat. Ini belum menjadi lompatan besar, tetapi menunjukkan adanya perubahan arah yang penting.
Tantangannya kini terletak pada konsistensi dan skala.
Tanpa percepatan yang serius, hilirisasi berisiko berjalan lambat, dan infrastruktur hanya menjadi pendukung, bukan pengungkit utama pertumbuhan. Sebaliknya, jika kedua hal ini berjalan beriringan, Lampung memiliki peluang untuk keluar dari jebakan pertumbuhan yang “cukup, tapi tidak mengangkat”.
Persoalan Lampung, bukan apakah ekonominya tumbuh. Tetapi apakah pertumbuhan itu cukup kuat untuk mengubah nasib warganya.*****
