Lampung merayakan inflasi terendah nasional. Namun data menunjukkan tekanan harga bulanan terus meningkat dan mulai mengirim sinyal peringatan.
Oleh: Redaksi Nomics
Seekor ular biasanya tidak datang tiba-tiba. Ia bergerak perlahan. Hampir tak terdengar. Kadang bahkan tidak terlihat sampai jaraknya sudah terlalu dekat. Begitu pula inflasi.
Ketika Lampung kembali dinobatkan sebagai provinsi dengan inflasi terendah nasional pada Mei 2026, publik melihat sebuah piala. Angka inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) hanya 1,94 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai sekitar 3,08 persen.
Di atas panggung statistik, itu adalah kemenangan.Tetapi dalam ekonomi, kemenangan sering kali menyimpan cerita yang lebih rumit.
Sebab saat piala itu diangkat tinggi-tinggi, ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan.
Ia tidak muncul dalam pidato. Ia tidak muncul dalam perayaan. Namun jejaknya terlihat jelas dalam data bulanan.
Ketika Angka Tahunan Menjadi Cermin Masa Lalu
Inflasi tahunan pada dasarnya adalah cermin, memantulkan apa yang terjadi selama 12 bulan terakhir.
Masalahnya, cermin selalu melihat ke belakang, tidak selalu mampu menjelaskan apa yang sedang bergerak di depan mata. Dan ketika data inflasi Lampung dibuka lebih dalam, muncul pola yang sulit diabaikan.
Pada Maret 2026, inflasi bulanan hanya 0,19 persen. April naik menjadi 0,55 persen. Mei kembali meningkat menjadi 0,82 persen.
Dalam tiga bulan, laju inflasi bulanan melonjak lebih dari empat kali lipat.
Ibarat sebuah sungai yang mula-mula tenang, arusnya perlahan berubah deras. Dari kejauhan, permukaannya masih terlihat tenang. Tetapi di bawahnya, kekuatan air sedang bertambah.
Piala yang Menyembunyikan Retakan
Banyak orang menganggap inflasi rendah sebagai tujuan akhir. Padahal inflasi hanyalah termometer. Ia mengukur suhu ekonomi.
Dan seperti termometer, angka yang terlihat belum tentu menjelaskan penyebabnya.
Lampung memang berhasil menjaga inflasi tetap rendah. Tetapi rendahnya inflasi tidak sepenuhnya lahir dari harga yang tenang. Ada faktor lain yang bekerja di belakang layar.
Kelompok pendidikan mengalami kontraksi yang sangat dalam selama berbulan-bulan dan secara konsisten menekan inflasi umum. Dalam bahasa ekonomi, ini dikenal sebagai base effect.
Efek basis ini bekerja seperti pemberat yang digantungkan pada timbangan.
Ketika kelompok lain mulai naik, timbangan tetap terlihat stabil karena ada beban yang menariknya ke bawah. Akibatnya, masyarakat melihat angka inflasi rendah, sementara di pasar harga cabai, bawang merah, tomat, dan minyak goreng mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Ketika Ular Mulai Mengangkat Kepala
Di sinilah metafora ular menjadi relevan. Ular bukan ancaman karena ia menggigit. Ular menjadi ancaman karena banyak orang tidak menyadari kehadirannya sampai terlambat.
Tekanan inflasi sering bekerja dengan cara yang sama. Awalnya hanya cabai. Lalu bawang merah. Kemudian minyak goreng.
Setelah itu biaya distribusi. Berikutnya ongkos produksi.Sedikit demi sedikit. Tidak dramatis. Tetapi terus bergerak.
Data Mei 2026 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar terhadap inflasi bulanan Lampung. Artinya sumber tekanan baru mulai muncul dari sektor yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bukan dari statistik. Melainkan dari meja makan.
Cerita yang Berbeda dari Nasional
Yang membuat Lampung semakin menarik adalah perbedaannya dengan Indonesia secara keseluruhan.
Secara nasional, inflasi tahunan masih berada di atas 3 persen. Lampung justru berada di bawah 2 persen.
Sekilas ini menunjukkan keberhasilan yang luar biasa. Namun jika tren inflasi bulanan terus meningkat, maka jarak tersebut bisa mulai menyempit dalam beberapa bulan ke depan, merambat ke atas melawan deflasi pendidikan yang konsisten mengganduli IHK.
Karena inflasi tahunan adalah hasil masa lalu. Sedangkan inflasi bulanan adalah petunjuk masa depan. Para ekonom sering mengatakan bahwa pasar lebih peduli pada arah dibanding posisi. Dan arah inflasi Lampung selama tiga bulan terakhir sedang menunjuk ke atas.
Jangan Terlalu Lama Menatap Piala
Tidak ada yang salah dengan merayakan keberhasilan. Pemerintah memang patut diapresiasi karena mampu menjaga stabilitas harga pada level yang rendah. Tetapi ekonomi mengajarkan satu hal penting,tentang bahaya sering muncul ketika semua orang terlalu lama menatap piala dan lupa memperhatikan horizon.
Hari ini Lampung masih memegang piala inflasi terendah nasional. Namun data bulanan menunjukkan tekanan harga sedang mengumpulkan tenaga.
Belum menjadi ancaman. Belum menjadi krisis.Tetapi cukup jelas untuk menjadi peringatan.
Karena sejarah ekonomi jarang berubah dalam satu malam, tetapi berubah sedikit demi sedikit. Persis seperti ular yang perlahan mengangkat kepala sebelum akhirnya terlihat oleh semua orang.
Lampung jangan terlalu menatap piala. Lebih baik menatap pergerakan harga-harga pangan dengan seksama dalam tempo bulan-bulanan (m-t-m). ****
