Ekspor Lampung Januari–Mei 2026 turun 5,14 persen menjadi US$2,36 miliar. Meski begitu, surplus perdagangan mencapai US$1,65 miliar dengan struktur ekspor bergeser ke industri pengolahan.
BANDARLAMPUNG – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada lima bulan pertama 2026 menunjukkan dinamika yang menarik. Di tengah penurunan ekspor, Lampung masih mampu membukukan surplus perdagangan yang besar. Namun, di balik capaian tersebut, terjadi pergeseran struktur ekspor yang ditandai semakin dominannya sektor industri pengolahan, sementara sektor pertanian mengalami tekanan cukup dalam.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis Rabu (1/7), nilai ekspor Lampung sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$2,36 miliar, turun 5,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,49 miliar. Pada Mei 2026 saja, nilai ekspor tercatat US$477,52 juta, atau turun 15,53 persen secara tahunan.
Di sisi lain, nilai impor justru turun lebih dalam. Selama Januari–Mei 2026, impor tercatat US$715,47 juta, atau menurun 26,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Lampung tetap mencatat surplus US$1,65 miliar, yang seluruhnya ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar US$1,68 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit US$35,19 juta.
Ekspor Melemah Tidak Merata
Penurunan ekspor Lampung tidak terjadi pada seluruh kelompok komoditas. Dari sepuluh komoditas utama nonmigas, tujuh justru masih mencatat peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tertinggi terjadi pada bahan kimia organik yang melonjak 170,46 persen, diikuti olahan sayuran, buah, dan kacang yang naik 26,92 persen, ikan, krustasea, dan moluska sebesar 23,29 persen, serta bahan bakar mineral yang meningkat 23,13 persen.
Sebaliknya, tekanan terbesar berasal dari kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah yang turun 45,15 persen menjadi US$313,02 juta. Penurunan tajam tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap melemahnya kinerja ekspor sektor pertanian selama Januari–Mei 2026.
Sementara itu, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, yang masih menjadi komoditas ekspor terbesar Lampung dengan kontribusi 43,46 persen terhadap total ekspor nonmigas, secara kumulatif masih tumbuh tipis 0,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski nilai ekspornya pada Mei 2026 turun dibandingkan Mei 2025.
Data BPS juga memperlihatkan perubahan komposisi ekspor Lampung.
Sepanjang Januari–Mei 2026, sektor industri pengolahan menyumbang US$1,66 miliar atau 70,10 persen dari total ekspor. Nilai tersebut meningkat 3,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 44,78 persen menjadi US$320,14 juta, sehingga kontribusinya terhadap total ekspor menyusut menjadi 13,55 persen. Sementara sektor pertambangan dan lainnya tumbuh 23,13 persen dengan kontribusi 16,35 persen.
Perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa ekspor Lampung pada awal 2026 semakin didominasi sektor industri pengolahan dibandingkan sektor pertanian.
Sementara dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar Lampung dengan nilai US$344,26 juta atau 14,57 persen dari total ekspor Januari–Mei 2026.
Namun, ekspor ke Amerika Serikat turun 11,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, ekspor ke Tiongkok meningkat tajam 50,27 persen menjadi US$304,23 juta, sementara sejumlah negara ASEAN seperti Vietnam, Kamboja, dan Malaysia juga mencatat pertumbuhan nilai impor dari Lampung.
Data tersebut menunjukkan adanya perubahan dinamika pasar ekspor Lampung, di mana pertumbuhan perdagangan ke sejumlah negara Asia berlangsung lebih kuat dibandingkan beberapa pasar tradisional.
Impor Turun, Komposisinya Berubah
Di sisi impor, BPS mencatat perubahan pada komposisi barang yang masuk ke Lampung.
Selama Januari–Mei 2026, impor barang konsumsi meningkat 1.011,72 persen, sementara barang modal naik 675,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, impor bahan baku dan barang penolong turun 52,90 persen, meski masih menjadi kelompok impor terbesar dengan kontribusi 62,65 persen terhadap total impor.
BPS tidak menjelaskan faktor penyebab perubahan komposisi tersebut, namun data menunjukkan adanya peningkatan nilai impor barang konsumsi dan barang modal, bersamaan dengan penurunan impor bahan baku.
Data perdagangan Januari–Mei 2026 menunjukkan fondasi perdagangan luar negeri Lampung masih relatif kuat dengan surplus yang tetap besar.
Namun, pelemahan ekspor secara keseluruhan, terutama pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah, memperlihatkan bahwa kinerja perdagangan masih dipengaruhi fluktuasi sejumlah komoditas utama.
Di sisi lain, meningkatnya kontribusi industri pengolahan terhadap total ekspor menunjukkan perubahan struktur ekspor Lampung yang semakin bertumpu pada produk hasil pengolahan. Ke depan, perluasan pasar ekspor dan diversifikasi komoditas bernilai tambah akan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan kinerja perdagangan luar negeri daerah di tengah dinamika ekonomi global.(iwa)
