Inflasi Lampung Naik Jadi 2,46 Persen, Tekanan Harga Semester I Lebih Tinggi Dibanding Tahun Lalu

Pangan Masih Menjadi Penyumbang Terbesar, Transportasi dan Perawatan Pribadi Turut Menambah Tekanan Inflasi

BANDARLAMPUNG – Tekanan inflasi di Provinsi Lampung menunjukkan peningkatan pada paruh pertama 2026. Meski masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional, laju kenaikan harga pada semester I tahun ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis Rabu (1/7), inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 2,46 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,45. Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi tahunan Juni 2025 yang sebesar 2,27 persen.

Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Lampung mengalami inflasi 0,55 persen, lebih tinggi dibanding Juni 2025 yang hanya 0,04 persen. Sementara inflasi kumulatif Januari–Juni (year-to-date/y-to-d) mencapai 2,42 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,22 persen.

Perbandingan tersebut menunjukkan tekanan harga pada semester pertama 2026 berlangsung lebih kuat dibandingkan paruh pertama 2025, baik secara bulanan maupun kumulatif.

Pangan Masih Mendominasi Inflasi

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi di Lampung.

Kelompok ini mengalami inflasi 5,19 persen secara tahunan dan memberikan andil 1,75 poin terhadap inflasi umum sebesar 2,46 persen, atau sekitar 71 persen dari total inflasi.

Komoditas yang paling besar mendorong inflasi antara lain minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, ikan layang, udang basah, dan terong.

Besarnya kontribusi kelompok pangan menunjukkan bahwa gejolak harga bahan makanan masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi di Lampung.

Selain pangan, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok pengeluaran lainnya.

Kelompok transportasi mencatat inflasi 4,88 persen dengan andil 0,52 poin, terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin, pembelian mobil, pelumas, serta tarif angkutan.

Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi, yakni 9,91 persen, dengan andil 0,63 poin terhadap inflasi umum.

Pada kelompok ini, emas perhiasan menjadi komoditas dengan sumbangan inflasi terbesar, yakni 0,43 poin, diikuti parfum, deodoran, sampo, dan sejumlah produk perawatan pribadi lainnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa selain pangan, tekanan inflasi pada 2026 juga berasal dari kelompok transportasi dan perawatan pribadi.

Di tengah kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, sektor pendidikan justru menjadi penahan inflasi.

Kelompok pendidikan mengalami deflasi 17,93 persen dan memberikan andil penurunan inflasi sebesar 1,18 poin.

Deflasi terutama berasal dari turunnya biaya sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah dasar (SD).

Selain pendidikan, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya juga mengalami deflasi 1,21 persen, meski pengaruhnya terhadap inflasi umum relatif kecil.

Mesuji Catat Inflasi Tertinggi

Dari empat kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruhnya mengalami inflasi tahunan.

Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji sebesar 3,25 persen, disusul Kota Metro sebesar 3,07 persen, Kabupaten Lampung Timur sebesar 2,93 persen, dan Kota Bandar Lampung menjadi yang terendah sebesar 2,08 persen.

Perbedaan tingkat inflasi tersebut mencerminkan variasi pergerakan harga dan pola konsumsi di masing-masing wilayah.

Secara keseluruhan, inflasi Lampung pada Juni 2026 masih berada pada tingkat yang relatif terkendali.

Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan harga selama semester pertama 2026 tercatat lebih tinggi. Pangan tetap menjadi penyumbang terbesar inflasi, sementara kelompok transportasi dan perawatan pribadi turut memperbesar tekanan harga.

Data BPS juga menunjukkan bahwa kelompok pendidikan menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi melalui deflasi yang cukup dalam. Dengan komposisi tersebut, dinamika inflasi Lampung pada paruh pertama 2026 tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan harga bahan makanan, tetapi juga oleh kenaikan harga pada sejumlah barang dan jasa nonpangan.(IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *