JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,14 persen pada Juli 2026, namun secara tahunan (year-on-year/y-on-y) inflasi justru meningkat menjadi 2,88 persen, lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 2,37 persen.
Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga mulai mereda dalam jangka pendek, terutama akibat turunnya harga sejumlah komoditas pangan, tetapi tekanan inflasi tahunan masih relatif kuat karena kenaikan harga transportasi, pangan strategis, energi, dan perawatan pribadi.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS yang dirilis Senin (3/8/2026), Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional mencapai 111,73, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juli tercatat 1,65 persen.
Deflasi Juli terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar, disusul cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, ikan segar, semangka, hingga sawi hijau.
Penurunan tarif angkutan udara serta harga emas perhiasan juga ikut menekan inflasi bulanan.
Di sisi lain, kenaikan harga beras, bawang putih, ketimun, jengkol, bensin, sepeda motor, pelumas, telepon seluler, biaya sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan bimbingan belajar masih memberikan tekanan inflasi selama Juli.
Secara tahunan, kelompok transportasi menjadi salah satu sumber tekanan harga terbesar dengan inflasi mencapai 5,12 persen.
Kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, kendaraan bermotor, hingga pelumas mendorong kelompok ini memberikan andil 0,62 persen terhadap inflasi nasional.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,97 persen dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi nasional, yakni 0,87 persen.
Komoditas yang paling banyak menyumbang inflasi tahunan antara lain ikan segar, minyak goreng, beras, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, rokok, bensin, tarif angkutan udara dan emas perhiasan
Sedangkan komoditas yang masih mengalami penurunan harga secara tahunan ialah bawang merah, tomat, telur ayam ras, cabai rawit, kelapa, daging babi, dan biaya sekolah SMA.
Inflasi Inti Tetap Terjaga
BPS juga mencatat inflasi inti pada Juli 2026 sebesar 2,76 persen (y-on-y). Sementara itu harga yang diatur pemerintah meningkat 3,58 persen, harga bergejolak naik 2,52 persen, komponen energi meningkat 3,26 persen dan bahan makanan naik 3,01 persen dibandingkan Juli tahun lalu.
Kondisi tersebut menunjukkan inflasi Indonesia masih didominasi oleh faktor permintaan domestik serta penyesuaian harga energi dan transportasi.
Lampung Jadi Provinsi dengan Inflasi Terendah di Sumatera
Di Pulau Sumatera, seluruh provinsi mengalami inflasi.
Namun, Lampung justru mencatat inflasi tahunan paling rendah, yakni 1,76 persen, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 2,88 persen.
Sebagai perbandingan:
Aceh : 5,38 persen
Kepulauan Riau : 4,24 persen
Sumatera Utara : 4,20 persen
Sumatera Barat : 4,12 persen
Bengkulu : 3,78 persen
Riau : 3,82 persen
Jambi : 3,25 persen
Sumatera Selatan : 2,50 persen
Bangka Belitung : 2,62 persen
Lampung : 1,76 persen
Bahkan secara bulanan, Lampung mengalami deflasi 0,49 persen, lebih dalam dibandingkan rata-rata nasional yang mengalami deflasi 0,14 persen.
Pada tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Lampung Timur mencatat inflasi tahunan terendah di Sumatera sebesar 1,45 persen, sedangkan Kota Bandar Lampung sebesar 1,74 persen, Kota Metro 2,48 persen, dan Kabupaten Mesuji 2,81 persen.
Secara nasional, inflasi provinsi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47 persen, sedangkan yang terendah berada di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.
Sementara pada tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 6,91 persen, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 1,00 persen.
Data Juli menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda secara bulanan berkat membaiknya pasokan sejumlah komoditas pangan. Namun secara tahunan, kenaikan harga transportasi, energi, pangan strategis, dan komoditas bernilai tinggi seperti emas masih menjadi faktor utama yang menjaga inflasi nasional tetap berada di kisaran 2–3 persen.
Bagi daerah seperti Lampung, rendahnya inflasi dapat menjadi indikator stabilitas harga yang baik bagi masyarakat. Namun, kondisi tersebut juga perlu diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas ekonomi agar stabilitas harga tidak mencerminkan pelemahan permintaan domestik.(iwa)
