Persiapan Provinsi Lampung menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 bergerak dalam dua tahap yang saling terhubung, dimulai dari forum tingkat provinsi, lalu diteruskan hingga ke tingkat wilayah. Langkah ini diambil jauh-jauh hari, mengingat pelaksanaan utama TKA baru akan berlangsung pada 26 Oktober–8 November 2026 secara bertahap sesuai gelombang. Rangkaian persiapan ini menegaskan satu hal, yakni TKA tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai ujian tahunan, melainkan sebagai instrumen evaluasi mutu pembelajaran yang berlangsung setiap hari di ruang kelas, jauh sebelum hari pelaksanaan tiba.
BANDAR LAMPUNG — Rangkaian ini bermula dari Workshop Bedah Kerangka dan Isi TKA SMA/SMK yang telah digelar pada Kamis, 30 Juli 2026, di Hotel Sultan Luxe, Kota Bandar Lampung. Dipimpin langsung oleh Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico diikuti oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, serta seluruh Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan se-Provinsi Lampung, termasuk Kacabdin Wilayah II yang membawahi Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran, Rodi Hayani Samsun.
Forum ini membedah tiga hal secara spesifik terkait rincian materi ujian, sebaran mata pelajaran, hingga standar soal yang bakal dihadapi siswa kelas XII pada 2026.
Hasilnya menegaskan penguatan pada tiga rumpun mata pelajaran wajib nasional,Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, dengan karakteristik soal yang mengadopsi indikator berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Konsekuensinya menyentuh langsung cara guru mengajar sehari-hari. MGMP diinstruksikan meninggalkan pendekatan berbasis hafalan rumus, dan beralih memperkuat penalaran kebahasaan, literasi numerasi, serta kemampuan siswa memecahkan masalah kontekstual.
Satu poin krusial lain yang turut dibedah adalah penambahan dua mata pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan minat jurusan lanjutan siswa ke perguruan tinggi. Sebagai gambaran, siswa yang mengarah ke program studi kedokteran atau teknik akan mendapat tambahan instrumen tes Kimia serta Biologi/Fisika. Langkah ini dinilai sebagai terobosan daerah untuk menghasilkan data pemetaan kompetensi siswa yang jauh lebih spesifik, relevan, dan terukur. Bukan lagi angka generik, melainkan profil kekuatan akademik yang selaras dengan arah studi masing-masing anak.
“Melalui workshop ini, kami berharap MGMP mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris dapat lebih produktif dalam menyusun pengembangan asesmen serta inovasi pembelajaran, sehingga kualitas pendidikan di Provinsi Lampung semakin baik dan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik dapat berjalan sukses,” ujar Thomas Amirico.
Arahan Tegas: 24 Kali Latihan Setahun
Yang membuat lokakarya ini berbeda dari sekadar forum diskusi adalah arahan tegas yang langsung dikeluarkan Thomas Amirico demi mendongkrak capaian akademik daerah. Seluruh siswa kelas XII di Provinsi Lampung kini diwajibkan mengikuti practice testing, latihan ujian berbasis komputer sebanyak 24 kali dalam satu tahun ajaran. Inovasi yang terbilang radikal ini diterapkan sebagai bentuk pembiasaan dini, agar siswa tidak canggung ketika benar-benar berhadapan dengan soal-soal bernalar tinggi ala HOTS saat ujian utama digelar nanti.
Untuk menopang target ambisius tersebut, Disdikbud Lampung meluncurkan program D-Smart, sebuah Desain Materi dan Latihan.
Melalui program ini, MGMP di tingkat daerah dituntut produktif menyusun bank soal yang adaptif, bermutu tinggi, dan polanya menyerupai standar UTBK seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Setiap sesi practice testing yang dijalani siswa akan terekam ke dalam sistem progress tracker sekolah, sehingga kelemahan materi tiap siswa dapat dipetakan secara spesifik dan personal.
Thomas Amirico menggarisbawahi bahwa program latihan intensif 24 kali ini merupakan suplemen penguatan daerah yang berjalan mandiri, terpisah dari agenda reguler Aksi Jihan.
Membedakan Aksi Jihan dan Practice Testing D-Smart
Lantas, apa itu Aksi Jihan? Jihan adalah nama sapaan Wakil Gubernur Lampung. Berdasarkan dokumen teknis Disdikbud Provinsi Lampung, Aksi Jihan adalah akronim dari Aplikasi Sistem Informasi Ujian Hakiki Akademik Nasional, sebuah platform digital terintegrasi yang digunakan dinas pendidikan daerah untuk menyelenggarakan ujian, asesmen berkala, maupun sinkronisasi data pemetaan mutu nasional lewat Asesmen Nasional (AN).
Perbedaan fungsi keduanya cukup jelas. Jika Aksi Jihan berperan sebagai gerbang utama pelaksanaan evaluasi dan ujian resmi yang terjadwal baku dari pusat maupun provinsi, maka practice testing 24 kali lewat D-Smart berfungsi sebagai “kawah candradimuka” harian bagi siswa kelas XII di sekolah masing-masing. Pemisahan ini disengaja, dengan siswa yang sudah terlatih secara mekanis dan kognitif lewat puluhan kali latihan mandiri di sekolah, beban psikologis saat menghadapi ujian resmi di platform Aksi Jihan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Tindak Lanjut di Wilayah II: SMAN 1 Gadingrejo
Kehadiran Kacabdin Wilayah II, Rodi Hayani Samsun di lokakarya provinsi bukan sekadar formalitas. Ia secara khusus menyatakan kesiapan jajarannya untuk menindaklanjuti arahan dan program yang disampaikan Kepala Disdikbud agar dapat diimplementasikan hingga ke tingkat sekolah.
“Intinya kami di Cabang Dinas ikut mendorong dan akan meneruskan program yang disampaikan oleh Kepala Dinas sehingga betul-betul terlaksana dengan baik,” ujar Rodi, seraya menegaskan bahwa Cabang Dinas Wilayah II akan terus berkoordinasi dengan kepala sekolah, MKKS, dan MGMP di wilayah kerjanya agar seluruh kebijakan dan program peningkatan mutu pendidikan dapat dipahami serta dilaksanakan secara optimal.
Komitmen itu tidak berhenti di forum provinsi. Selang beberapa hari kemudian, tepatnya pada Selasa, 11 Agustus 2026, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II menggelar bedah kerangka dan isi TKA di tingkat wilayahnya sendiri, bertempat di SMAN 1 Gadingrejo. Kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa arahan yang diterima Rodi di Bandar Lampung benar-benar diteruskan hingga ke lapangan dan menjembatani forum tingkat provinsi dengan kebutuhan riil sekolah-sekolah di Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran, dengan waktu yang masih cukup panjang sebelum ujian utama digelar Oktober mendatang.
Di forum tersebut, Kacabdin Wilayah II juga langsung menerjemahkan hasil bedah kerangka menjadi panduan praktis bagi sekolah-sekolah di wilayahnya, mendorong MGMP tingkat kabupaten mengintegrasikan contoh stimulus soal TKA ke dalam penilaian harian dan ujian satuan pendidikan. Targetnya jelas, skor TKA tidak boleh berhenti menjadi sekadar angka di rapor sekolah, melainkan berfungsi sebagai portofolio akademik riil yang membuka dan mempermudah jalan siswa Lampung menembus seleksi PTN.

Kesiapan Cabdin Wilayah II di Lapangan
Kalau kebijakan 24 kali practice testing setahun lahir dari meja Kepala Disdikbud Lampung, maka yang menentukan apakah angka itu benar-benar tercapai atau hanya berhenti sebagai target di atas kertas adalah kerja Cabdin Wilayah II di lapangan. Begitu instruksi hulu itu turun, Cabdin Wilayah II tidak menunggu. Langkah pertama yang diambil adalah manajemen laboratorium komputer di setiap sekolah, sebuah persoalan teknis yang sebenarnya cukup pelik. Sebab satu sekolah biasanya hanya punya satu atau dua lab komputer, sementara jumlah siswa kelas XII yang harus menjalani latihan bisa mencapai ratusan. Kalau tidak diatur dengan cermat, target 24 kali latihan dalam setahun bisa saja hanya jadi angka di atas kertas.
Untuk mengatasi itu, penjadwalan laboratorium diatur secara bergilir. Setiap kelas mendapat slot waktu tertentu untuk menjalani sesi practice testing, disusun sedemikian rupa agar target 24 kali latihan bisa terpenuhi secara merata sepanjang tahun ajaran. Bukan menumpuk di akhir semester saat siswa justru butuh waktu untuk pemantapan, atau di awal semester ketika materi belum sepenuhnya diajarkan.
Yang tidak kalah penting, penjadwalan ini dirancang agar tidak mengganggu jalannya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) efektif. Ini poin krusial, sebab dua kepentingan sebenarnya saling tarik-menarik. Di satu sisi siswa perlu latihan intensif dan berulang untuk terbiasa dengan pola soal HOTS, tapi di sisi lain jam pelajaran reguler tidak boleh tergerus habis oleh sesi latihan. Cabdin Wilayah II pada dasarnya sedang menjalankan tugas menyeimbangkan dua kebutuhan itu sekaligus untuk memastikan porsi latihan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan substansi pembelajaran di kelas.
Seluruh langkah di tingkat provinsi maupun Wilayah II ini sejatinya selaras dengan cetak biru regulasi Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, yang menekankan transformasi instrumen evaluasi agar lebih adaptif dan adil bagi peserta didik. Melalui dokumen resmi Kerangka Asesmen TKA, Pusmendik merancang standardisasi soal yang seragam untuk mengukur capaian kognitif dasar siswa menengah di seluruh Indonesia.
Kombinasi antara bedah kerangka di tingkat provinsi, tindak lanjutnya di SMAN 1 Gadingrejo, dan kewajiban latihan intensif 24 kali menemukan maknanya, memangkas kesenjangan pemahaman guru daerah terhadap model soal standar nasional, sekaligus membiasakan siswa menghadapi pola soal bernalar tinggi jauh sebelum hari-H, sehingga ketika ujian utama tiba pada akhir Oktober nanti, kesiapan akademik anak-anak Lampung sudah tumbuh lebih matang dan merata, dari pusat hingga ke pelosok wilayah.(iwa)
