Dari Teknologi Tepat Guna hingga Tugu Siger, Jejak Pemikiran Anshori Djausal di Lampung

JAKARTA — Perjalanan Anshori Djausal tidak hanya tercatat melalui karya arsitektur. Selama lebih dari empat dekade, pemikirannya berkembang pada persilangan teknologi, lingkungan, pendidikan, sosial budaya dan pembangunan Lampung. Jejak tersebut kini dibaca kembali melalui pameran Kayu Ara di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Perjalanan itu berawal sejak dekade 1970 ketika modernisasi dan teknokrasi berkembang pesat. Dalam perkembangannya, Anshori dikenal antara lain melalui pemanfaatan teknologi tepat guna yang mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah teknik ferosemen.

Bagi Anshori, teknologi bukan sekadar persoalan benda atau hasil rekayasa. Teknologi harus menjawab kebutuhan manusia, sesuai dengan kondisi tempat penggunaannya dan memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan.

Pemikiran tersebut kemudian berkembang ketika Anshori berada di Universitas Lampung. Selain mendorong digitalisasi dan peningkatan kualitas dosen, ia ikut memikirkan berbagai persoalan Lampung, mulai dari infrastruktur, sosial budaya, ekonomi dan lingkungan hingga pemberdayaan kampung kampung tua.

Pengalaman tersebut membuat Anshori kemudian dipercaya menjadi tenaga ahli pada sejumlah pemerintahan di Lampung. Perjalanan itu melintasi sejumlah periode kepemimpinan gubernur, mulai dari Yasir Hadibroto, Poedjono Pranyoto, Oemarsono, Sjachroedin Z.P., M. Ridho Ficardo, Arinal Djunaidi hingga Rahmat Mirzani Djausal.

Salah satu karya yang paling mudah dikenali adalah Tugu Siger di kawasan Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut menjadi salah satu penanda visual Lampung bagi masyarakat yang memasuki provinsi itu melalui jalur penyeberangan dari Pulau Jawa.

Jejak pemikirannya juga terlihat dalam penggunaan ornamen dan ragam hias Lampung pada sejumlah perkantoran, hotel, fasilitas publik dan karya arsitektur lainnya. Di sana terlihat upaya mempertemukan gagasan mengenai kemajuan dan modernitas dengan identitas budaya daerah.

Pameran Kayu Ara kemudian membawa berbagai jejak tersebut ke dalam satu ruang. Foto, arsip, publikasi, catatan penelitian, gambar teknik, cetak biru dan dokumentasi perjalanan Anshori tidak hanya ditampilkan untuk melihat kembali masa lalu, tetapi diterjemahkan menjadi instalasi seni kontemporer.

Pendekatan tersebut membuat perjalanan seorang arsitek, insinyur, akademisi dan budayawan dapat dibaca melalui perspektif generasi baru. Arsip yang sebelumnya tersimpan sebagai dokumen menjadi bahan percakapan mengenai bagaimana Lampung membangun dirinya dan bagaimana identitas daerah dapat tetap bertahan di tengah perubahan.

Keterlibatan anak muda Lampung dalam pameran ini menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka tidak ditempatkan hanya sebagai pelaksana, tetapi ikut membaca, memilih dan menerjemahkan kembali warisan pemikiran yang ditinggalkan generasi sebelumnya.

Karena itu, Kayu Ara tidak berhenti pada upaya mendokumentasikan perjalanan Anshori Djausal. Pameran ini juga memperlihatkan bahwa pengetahuan memiliki umur yang lebih panjang daripada penciptanya. Ia dapat berpindah dari satu generasi ke generasi lain, mengalami penafsiran baru dan kemudian melahirkan gagasan yang berbeda.

Bagi Lampung, proses semacam itu penting. Kemajuan daerah tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami akar pengetahuan dan kebudayaan sendiri. Modernitas yang kehilangan identitas mudah menjadi sekadar imitasi, sementara pelestarian yang menolak perubahan berisiko menjadikan budaya berhenti sebagai benda museum.

Kayu Ara memperlihatkan kemungkinan lain. Warisan masa lalu dapat tetap memiliki kehidupan baru ketika dibaca dengan cara yang sesuai dengan zamannya. Dari arsitektur hingga teknologi, dari lingkungan hingga kebudayaan, perjalanan Anshori Djausal menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan daerah dapat terus bergerak dan menemukan ruangnya di tingkat nasional.
(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *