Di balik seremoni Rapat Koordinasi Pelaksanaan Program Strategis Nasional (PSN) 3 Juta Rumah yang digelar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, Senin (21/9/2026), tersimpan taruhan ekonomi yang lebih besar, yakni apakah lonjakan proyek perumahan bisa membalikkan pola kontraksi musiman yang selama ini membebani sektor konstruksi Lampung?
@Iwa Perkasa
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Lampung pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,58 persen secara tahunan (yoy), sebuah capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Namun di balik angka mengkilap itu, secara triwulanan (quarter-to-quarter) ekonomi Lampung justru terkontraksi 1,08 persen, dengan sektor konstruksi menjadi salah satu penyumbang utama penurunan tersebut, bersama jasa lainnya. Kondisi ini dinilai sebagai pola musiman yang lazim terjadi di awal tahun, ketika aktivitas proyek fisik biasanya melambat pasca-pergantian tahun anggaran.
Struktur ekonomi Lampung sendiri masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 25,58 persen, disusul industri pengolahan 18,97 persen dan perdagangan besar-eceran 15,03 persen, dan menyisakan ruang terbatas bagi konstruksi untuk mendominasi struktur PDRB, namun tetap krusial sebagai penggerak penyerapan tenaga kerja dan multiplier effect ke sektor lain.
Memasuki Triwulan II 2026, tren mulai berbalik. Ekonomi Lampung tumbuh 5,29 persen (yoy), melambat dari 5,58 persen di triwulan sebelumnya, namun tetap melampaui rata-rata Sumatra dan setara pertumbuhan nasional. Yang membedakan, pertumbuhan pada periode ini ditopang industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi, sektor yang sebelumnya menjadi biang kontraksi triwulanan justru berbalik menjadi pendorong.
Konsumsi rumah tangga turut tumbuh 4,86 persen (yoy), didorong peningkatan belanja pada kelompok makanan-minuman, perumahan, rekreasi, dan barang pribadi, mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas ekonomi rumah tangga yang bersinggungan langsung dengan sektor properti. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Lampung sepanjang 2026 akan berada di kisaran 5,0–5,6 persen, ditopang permintaan domestik yang tetap kuat.
Momentum yang Dimanfaatkan: Bedah Rumah Melonjak 450 Persen
Di tengah tren pemulihan konstruksi inilah Pemprov Lampung mendorong percepatan program perumahan. Gubernur mengungkapkan alokasi program bedah rumah 2026 melonjak 450 persen dibanding 2025 yang hanya mencapai 2.394 unit. Sebanyak 9.000 unit telah terverifikasi, dengan 3.434 unit sisanya tengah dirampungkan menjelang tenggat Desember.
Secara historis, kontribusi sektor perumahan terhadap perekonomian sudah lebih dulu diafirmasi otoritas nasional. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, sempat menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen turut ditopang signifikan oleh sektor perumahan.
Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, bahkan merujuk riset bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang menyimpulkan setiap investasi di sektor perumahan memberikan dampak berganda terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dampak ekonomi program ini tidak berhenti di angka pertumbuhan makro. Direktur Jenderal Perumahan Perdesaan Kementerian PKP, Rini Dyah Mawarty, memproyeksikan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bedah rumah saja mampu menyerap sekitar 26.000 tenaga kerja, dengan asumsi dua pekerja per unit rumah. Angka ini belum menghitung efek berantai ke sektor pendukung: toko material bangunan, jasa angkutan, hingga UMKM di sekitar lokasi proyek.
Dengan backlog perumahan Lampung yang menurut REI mencapai sekitar 270 ribu unit, ruang ekspansi sektor ini masih sangat lebar, sekaligus mengindikasikan potensi kontribusi jangka panjang terhadap PDRB provinsi bila program berjalan konsisten melampaui periode stimulan tahun ini.
Dari data pertumbuhan dua triwulan terakhir, Nomics berpendapat sektor konstruksi Lampung tengah berada dalam fase transisi, dari sumber kontraksi musiman menjadi penopang pertumbuhan.
Lonjakan 450 persen alokasi bedah rumah datang tepat pada momentum ini, namun keberlanjutannya akan sangat bergantung pada dua hal yang ditekankan Gubernur sendiri, yaitu pentingnya percepatan verifikasi data penerima bantuan, serta kesiapan ekosistem pembiayaan dari perbankan dan pengembang untuk menjaga agar dorongan sektor perumahan tidak berhenti sebagai stimulus musiman semata, melainkan menjadi penopang struktural pertumbuhan ekonomi Lampung ke depan.******
